Gelenyar panas di balik dada, angkara yang senyap di gulungan lingual. Tertekan sebab aksara kebencian tidak juga termuntahkan. Pemantik enggan penuhi undangan untuk sulut kembang dan meledak. Pun kata sempat menari di udara sebelum kau runtuhkan aku dengan gelegak tawa. Tidak serius. Kau denial dan kebenaran sesungguhnya ada di tangan. Bakar saja sampai habis!
Habiskan sampai kau sendiri hangus di dalamnya.
08/05/20.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lapang, Lantur.
Poesíasebab benakku tak lelah angkat suara, hantarkan larik-larik yang hanya ia paham. aku coba lapangkan segala kelanturannya dalam prosa yang mungkin tak ingin kaudengar. Picture by Yusuf Evli on Unsplash Edited by Aksara- copyright 2020 by Aksara-