[Pulang]

92 15 1
                                    

Agaknya dibelenggu, terkaput-kaput dalam penyenduan yang larut sebab sukma menggebu, semarakkan didih embun yang tertuang riuh, kobarkan daksa yang enggan, sulutkan senyap api nan padam. Agaknya lagi, ia datang dengan juta-juta kegelapan teramat kelam, tawar giur seteguk-teguk kepergian, bentangan tangan ajak lepas dari bentala seolah ia tahu pilu-pilu yang menganak dalam dada.

Satu dari seribu kemungkinan, bukan sekarang ia henti waktu dan menghilang. Satu dari seribu pilihan, bukan aku yang ia ajak pulang.

24/04/20.

Lapang, Lantur.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang