Di malam yang dingin itu, Irene menceritakan masa lalunya yang cukup mirip dengan Wendy.
Irene menyilangkan tangannya di atas meja kedai,"Gue sakit hati gara-gara cowok yang gue suka itu jadian sama temen deket gue sendiri,
kita deket banget sampe dikira sama temen-temen yang lain pacaran, ternyata dia lebih milih temen gue dan gue gak bisa apa-apa."
"Terus?" tanya Wendy yang dari tadi menyimak cerita Irene.
"Gak ada terusannya,"jawab Irene,"dia jadian dan yaudah, selesai."
Tanpa sadar Irene meneteskan air matanya, mengingat masa lalu yang menyakitkan memang tidak seharusnya dilakukan.
Wendy yang melihat Irene langsung memberikan sepucuk tissue ke Irene, "Nih, elap air mata lo,"
Irene melepas kacamatanya, ia lalu menyeka air matanya tersebut.
"Air mata lo terlalu mahal buat cowok kaya gitu," sambung Wendy.
Irene tersenyum, ia merasa nyaman saat bersama Wendy. Wendy lelaki yang hangat di saat malam yang dinginnya menusuk kekulit ini.
"Pulang yuk," ajak Wendy, "udah hampir tengah malem, nih."
Wendy menarik tangan Irene dan langsung menggenggam tangannya.
Irene terkejut, tapi dia menerima genggaman tangan Wendy dengan senang hati.
Mereka berdua berjalan bersama melewati malam, sesekali Wendy melemparkan candaan yang membuat Irene tertawa. Rasanya Irene tak mau langsung kerumah, ia ingin lebih lama bersama Wendy.
Sesampainya di rumah, Irene terkejut saat melihat Ayahnya yang menunggu di teras.
Irene bilang pada Wendy agar langsung pulang, tapi Wendy menolak. Wendy ingin memastikan bahwa Irene masuk rumah dengan selamat.
"Darimana aja kamu?" Ayahnya Irene melipat tangannya didada,"udah jam segini baru pulang, mau jadi apa?"
"Maaf om," kata Wendy, "saya yang salah, tadi saya minta dia buat nemenin makan malam diluar."
Wendy menunduk dengan mata yang terpejam, takut Ayah Bae naik pitam.
"Apaansi Wen?" Irene terkejut dengan pengakuan Wendy barusan, "engga Yah, aku yang salah."
Irene berusaha agar Wendy tidak disalahkan oleh Ayahnya itu. Tapi Wendy tetap bersikeras kalau dia yang salah, dia tidak tahan kalau Irene yang kena marah.
Ayah Irene menghela nafasnya,"Yaudah gini aja, kamu mending pulang sekarang. Dan kamu Irene, masuk sekarang!"
Wendy menggangguk lalu pergi meninggalkan Irene.
Berat rasanya harus meninggalkan Irene yang pasti kena omelan dari Ayahnya tersebut, tetapi Wendy sadar diri kalau dia bukan siapa-siapanya Irene.
Irene melihat kepergian Wendy, lalu masuk kerumahnya. Dia lihat Bundanya yang duduk di ruang tamu dengan wajah panik.
Bundanya berdiri mastikan Irene baik-baik saja,"Kamu dari mana aja Irene?"
"Aku abis makan sama temenku," jawab Irene yang berjalan menuju sofa.
Irene duduk, Bunda dan Ayahnya pun juga ikut terduduk.
Ayahnya yang baru pulang dari luar negeri itu disambut dengan kelakuan buruk yang Irene lakukan.
Seorang gadis yang pulang tengah malam bukan hal yang dapat diterima Ayahnya, apalagi dianter sama lelaki.
Ayahnya kalut, ia ingin memarahi anak gadisnya tersebut tapi istrinya menatap tajam daritadi.
"Ehem," dehem Ayah, "cowok tadi siapa?"
"Temen," balas Irene.
"Temen kok pegangan tangan?" tanya Ayahnya menatap wajah anak gadisnya, "yakin cuma temen?"
Bunda kaget saat Ayah melontarkan pertanyaan ke Irene. Bunda kesal jika ada pertengkaran untuk masalah yang seharusnya tidak dibesar-besarkan.
"Udah sih, Yah!" seru Bunda, "Irene, kamu masuk kekamar terus tidur!"
"Iya Bun," Irene beranjak dari sofa, lalu menuju kamarnya.
Saat ingin mengganti bajunya, Irene lupa mengembalikan jaket yang Wendy pakaikan.
Irene tersenyum. Ia pikir mereka akan bertemu kembali walau cuma mengembalikan jaket.
Irene mengelus jaket kulit Wendy, "Kamu nyaman."
Setelah lama berdiri didepan jaket Wendy, Ia pun berjalan ke kasur lalu mengistirahatkan tubuhnya.
Disaat bersamaan...
"Gum," panggil seorang gadis kepada lelaki yang di sebuah bar, "gimana Bae Joohyun?"
"She'll be mine," lelaki yang diketahui bernama Park Bogum ini terobsesi dengan Irene, ia ingin memilikinya walau harus menggunakan cara berdosa.
Bogum dan gadis itu terduduk di bangku pantry, lalu memesan 2 gelas vodka serta 3 kaleng beer.
"Lo tau gak?" celetuk gadis disebelah Bogum, "tadi gue seneng banget ngeliat mantan gue kesiksa, ahahaha."
"Mantan lo?" Bogum memiringkan kepalanya, "si Wendy itu?"
Gadis di sebelahnya ini pun mengambil alkohol tadi lalu meminumnya dengan cepat, kemudian ia berdiri lalu pamit kepada Bogum.
"Good luck ya!" seru gadis tersebut, "semoga lo dapetin tuh Bae Joohyun."
Gadis tersebut kemudian berjalan pergi meninggalkan Bogum sendirian.
"Hati-hati lo Rose!" teriak Bogum.
Rose mengangkat tangannya lalu memberikan 'tanda oke' kepada Bogum.
Tbc.....
Kayanya makin dikit ya?
Maaf yaaa wankawan
Gue lagi gak enak badan terus agak pusing....
Dah lah semoga kalian semua sehat terus, aamiin.Makasih buat yang udah baca dan makasih banyak buat yang udah nge-vote.
Have a nice day!
Jangan lupa stream OST yang Wendy x ZICO nyanyiin! Okehhh!

KAMU SEDANG MEMBACA
5 Second [WENRENE]
Fiksi PenggemarFirst ff semoga suka. Bahkan mata milikmu tak akan bisa berbohong.