"Lo mau apa?"
"Menurut lo, dengan posisi kita yang sedekat ini gue mau ngapain?"
"AWAAAAN!!!"
Eits! Ini bukan cerita 'plus-plus'. Ini hanya sebuah cerita menyebalkan tentang dia si Awan Ribut yang berakhlak 'minus'. Awan yang berhasil membuat lorong...
"Lo kalo mau bohong, belajar yang rajin dulu gih! Kalo perlu les private sana! Mau bohong kok sama orang yang tukang bohong, ketahuan banget bohongnya."
-Awan Ribut
***
Pagi ini SMA Cakrabuana dibuat gempar dengan kedatangan sebuah motor besar yang melenggang masuk ke dalam gerbang. Jika pagi-pagi biasanya kuda besi bermesin itu ditunggangi oleh seorang laki-laki yang memiliki peran penting di sekolah sebagai kapten futsal, maka hari ini untuk yang pertama kalinya di dalam catatan sejarah siswa SMA Cakrabuana angkatan 45, motor besar yang body-nya bertempel stiker tengkorak itu membawa dua tubuh manusia yang berbeda gender.
Namun, bukan sang pemilik motor yang membawa seorang gadis di boncengannya yang menjadi kehebohan warga sekolah. Melainkan karena pemilik motor itulah yang dibonceng oleh seorang gadis yang dikenal sebagai atlet caturnya Cakrabuana.
Di sana, tepatnya di parkiran motor yang berada di bawah rindangnya pohon beringin. Shitya memutar kunci lalu mencabutnya dan melemparkannya pada laki-laki yang masih setia duduk di jok belakang.
"Udah sampai kali. Suka banget ya gue bonceng?"
Kekehan Shitya menyadarkan Awan dari ekspresi cengonya. Mata hitamnya yang pekat menatap sekitar. Tatapannya juga tak lupa jatuh pada tubuhnya sendiri yang saat ini tengah ia teliti. Takut jika tubuhnya mengalami lecet ataupun luka. Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, Awan menghela napas lega.
"Alhamdulillah, gue masih hidup," lega Awan.
Shitya mendengkus geli. Tak peduli dengan Awan yang kini menatapnya dengan tatapan setajam elang, gadis itu memilih berjalan gontai meninggalkan Awan di parkiran. Memasuki gedung biru Cakrabuana yang disambut dengan tatapan berbagai arti dari mata-mata warga sekolah.
Sementara di parkiran, Awan melepas helm full face yang menutup wajahnya. Bergegas ia menyusul gadis barbar yang sudah berani-beraninya membonceng dirinya di jalanan dengan kecepatan bak hembusan angin. Awan sendiri tak habis pikir saat mengetahui jika Shitya ternyata bisa mengendarai motor besarnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan sedikit ugal-ugalan di jalan raya. Untung saja jalan yang mereka lewati lengang tak begitu ramai. Kalau tidak, Awan berani jamin jika mereka akan berakhir di rumah sakit, bukan di sekolah seperti saat ini.
"Shitya!"
Awan menggeram kesal. Gadis barbar itu mengabaikan panggilannya bahkan mempercepat langkahnya di depan sana.
Shitya sendiri sengaja mempercepat langkahnya. Bukannya apa, hanya saja radarnya saat ini mencium hal-hal negatif yang sebentar lagi akan mengancam keselamatannya jika berdekatan dengan Awan. Shitya sadar, ia telah membuat laki-laki itu senam jantung selama di perjalanan menuju ke sekolah tadi. Tentu saja laki-laki itu pasti akan membalas perbuatannya dengan lebih kejam.
"Nah, mau kabur kemana lo?!"
Gadis itu meringis saat lehernya telah berada di dalam cepitan ketiak Awan. Harumnya parfum mint dari tubuh laki-laki itu tanpa izin menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Membuat Shitya harus menahan napas karena wangi tubuh Awan yang begitu menyengat masuk di dalam hidungnya yang tak mancung dan tak juga pesek.
"Enggak, siapa yang mau kabur?"
Awan menelengkan kepalanya. Menatap tajam diikuti seringai di bibir tebalnya yang tertuju untuk gadis barbar yang lehernya tengah ia kunci menggunakan ketiak.
"Terus kenapa ninggalin gue di parkiran? Dipanggil pura-pura budek terus jalannya cepet lagi."
Dengan langkah yang terseok-seok, Shitya berjalan mengimbangi langkah lebar Awan yang menggiring mereka menyusuri koridor kelas jurusan IPA. Susah payah Shitya berusaha melepas cepitan ketiak Awan dari lehernya. Namun, semakin gadis itu keukeuh ingin melepas, justru semakin kuat pula Awan mengapit lehernya.
"Duh, lepasin dong, Wan! Gue lagi buru-buru nih! Gue mau ngerjain PR fisika di kelas!" alibi Shitya yang sayangnya tak akan dipercaya oleh Awan.
"Ulu ulu ... sejak kapan si juara angkatan ngerjain PR di kelas? Lo kalo mau bohong, belajar yang rajin dulu gih! Kalo perlu les private sana! Mau bohong kok sama orang yang tukang bohong, ketahuan banget bohongnya," ucap Awan diakhiri tawa yang meledak di udara.
Di dalam hati, Shitya mengumpat sebal. Ingin berbohong kepada tukang bohong memang sulit. Bahkan sulitnya melebihi meminta uang kepada Tante Darabyang pelitnya naudzubillah.
Langkah keduanya pun berhenti saat tiba di depan kelas XII IPA 1. Awan melepas cepitan ketiaknya dari leher Shitya. Dipegangnya kedua bahu gadis itu. Telapak tangan lebarnya pun kini beralih mendarat di ubun-ubun gadis itu.
Shitya dapat merasakan usapan halus nan lembut di atas kepalanya. Namun, keningnya mengernyit heran tatkala merasa ada yang menyentuh karet rambutnya.
Gadis itu memekik, rambut panjang sepunggungnya yang telah ia ikat rapi bak ekor kuda kini tergerai. Usapan halus nan lembut yang ada di anak rambutnya kini semakin lama semakin berubah menjadi kasar dan cepat. Bukan acakan gemas yang ia dapatkan, melainkan acakan kasar penuh dendam yang mendarat di rambut indahnya yang hitam legam.
Lain halnya dengan Awan. Laki-laki itu justru mengulas senyum puas melihat hasil karya tangannya yang berhasil mengubah tatanan rambut Shitya menjadi gaya yang disebut 'berantakan'.
"Nah, gini kan cantik! Sekarang, lo masuk kelas dan kerjain PR fisika lo itu. Gue cabut dulu, ya! Dadaaa!" Awan menepuk ubun-ubun Shitya sekilas sebelum akhirnya berlari meninggalkan gadis itu yang wajahnya sudah memerah padam.
"AWAAAAAN!!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.