"Lo mau apa?"
"Menurut lo, dengan posisi kita yang sedekat ini gue mau ngapain?"
"AWAAAAN!!!"
Eits! Ini bukan cerita 'plus-plus'. Ini hanya sebuah cerita menyebalkan tentang dia si Awan Ribut yang berakhlak 'minus'. Awan yang berhasil membuat lorong...
"Penyesalan memang selalu datang belakangan. Kalau datang duluan namanya pendaftaran."
-Awan Ribut
***
Rakus.
Satu kata itu Shitya tujukan kepada laki-laki yang sekarang sedang lahap menikmati semangkuk bakso dan soto, sepiring batagor dan nasi goreng yang dilengkapi dengan segelas es teh, es jeruk, dan satu porsi sop buah sebagai penutup.
Di sinilah Awan membawa Shitya, ke sebuah tempat yang ada di sudut Cakrabuana yang bernama kantin. Kalau saja bukan demi mendapatkan permintaan maaf dari Awan, Shitya tidak mungkin mau menghabiskan waktu istirahat dan jatah uang saku selama seminggunya untuk mentraktir laki-laki edan ini.
Awan itu licik. Laki-laki itu mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Habis sudah uang saku jatah seminggu Shitya dibuat tekor bandar dalam hitungan menit.
"Maaf."
"Dimaafkan. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Gue lapar. Traktir gue ke kantin."
Jika saja mencium bau-bau Awan akan menguras isi dompetnya, tahu begini lebih baik Shitya yang tadi memesan makanan dan minumannya. Paling tidak, ia akan memesan seporsi nasi ayam geprek plus minumnya yang berupa es teh, tidak sebanyak ini yang hanya dimakan cuma-cuma oleh kembaran Bimantara yang laknat bin tak tahu diri ini.
"Kenapa lo?" tanya Awan melihat wajah Shitya yang tertekuk masam.
Jika kalian pikir Shitya akan berkata enggak papa, maka kalian salah besar. Dengan penyesalan yang amat sangat dalam melihat uang hariannya yang dikerok habis oleh Awan, gadis itu merasa kesal hingga mencak-mencak di tempat duduknya.
"Kesel gue sama lo! Lo tuh udah ditraktir tapi enggak tau diri!"
Awan mengedikkan kedua bahunya acuh. Sesuap bakso lebih menggoda untuk dimasukkan ke dalam mulut daripada mendengar ocehan protes dari mulut cerewet Shitya.
"Jadi, lo enggak ikhlas nih?"
"Ya, iyalah! Kalo cuma satu porsi doang gue terima. Tapi ini? Jatah bekal seminggu gue lo kerok habis, Awaaaa- "
Shitya membolak. Sebuah pentol bakso masuk ke dalam mulutnya.
Awan terkekeh, menaik turunkan alisnya melihat gadis itu mengunyah paksa bakso yang ia masukkan secara tiba-tiba.
"Gimana? Enak?"
"Awaaa-"
Sebuah bakso kembali Awan sumpalkan ke dalam mulut Shitya sebelum gadis itu menuntaskan kalimatnya. Telinga Awan sudah cukup panas mendengar omelan gadis di hadapannya ini. Oleh karena itu setiap kali Shitya akan kembali berteriak melayangkan protes, mulut gadis itu akan ia sumpal dengan makanan yang ada di atas meja.
"Berisik lo! Mending diem gini 'kan enak. Kalem dikit kek jadi cewek," tutur Awan.
Awan kembali melanjutkan kegiatan makannya yang sempat terjeda. Semangkuk bakso telah tandas, kini ia beralih pada sepiring batagor. Mata Awan sesekali melirik gadis di hadapannya. Sebuah tatapan tajam permusuhan dari Shitya tengah menyorotnya.
"Widih, yang lagi makan berdua. Tumben akur?"
Suara menggoda yang datang dari arah pintu kantin menarik atensi Awan dan Shitya. Tanpa izin, Bintang kini ikut bergabung di meja mereka. Bola matanya menatap makanan di atas meja dengan sorot yang berbinar.
"Lo mau, Tang? Makan gih." Awan menunjuk soto yang masih utuh di atas meja.
"Ya maulah!"
Tanpa pikir panjang, Bintang menarik semangkuk soto yang masih utuh itu. Menuang beberapa sendok sambal dan kecap manis ke dalam mangkuk soto yang hampir dingin.
"Lo enggak makan, Yak?" tanya Bintang tertuju pada Shitya.
Shitya tersenyum sinis, hazel cokelatnya menatap Awan yang masih asyik dengan sepiring batagornya.
"Enggak, gue jatuh miskin mendadak!" sindir Shitya yang sialnya tak ditangkap oleh Awan.
Bintang menyuap soto ke dalam mulutnya.
"Loh, jadi ini semua punya Awan? " tanya Bintang.
"Iya. Lagi dapat rejeki nomplok gue. Iya, kan, Tya?" Awan menaik turunkan alisnya.
Shitya berdecih. Rezeki yang menguntungkan bagi Awan namun membuat buntung bagi Shitya. Seperti simbiosis parasitisme, Shitya itu pohonnya dan Awan adalah benalunya. Shitya yang dirugikan, Awan yang diuntungkan.
Suara sendawa membuat Shitya menatap jijik ke arah laki-laki yang ada di hadapannya. Tanpa malu Awan bersendawa ria setelah menghabiskan sepiring batagor yang menjadi makanan terakhirnya.
Srotttsrott
Seperti bocah ingusan kemarin sore, Awan menyedot es jeruknya yang tinggal es batu itu hingga menghasilkan suara yang cukup membuat Shitya semakin menatap Awan dengan pandangan yang tak lagi bisa di artikan. Antara jijik dan muak menjadi satu.
"Jorok lo!" Awan tertawa lebar.
Shitya menghentak meja, membuat Awan dan Bintang yang duduk di hadapannya menatap gadis bertubuh mungil itu dengan alis yang bertaut heran.
Dasar kembar. Ekpresi wajah pun juga persis sama herannya.
"Mau kemana lo?" tanya Awan yang melihat Shitya bangkit dari duduknya.
"Bukan urusan lo!"
Tak peduli dengan Awan yang terus memanggil namanya, Shitya memilih keluar dari kantin dengan membawa emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Sepanjang langkah, kakinya menghentak-hentak karena kesal bukan kepalang. Peduli setan jika Awan tidak memaafkannya. Toh, seharusnya yang minta maaf itu Awan.
Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Semua tindakan brutal Shitya itu tidak akan terjadi jika bukan Awan yang memulai.
Jika Shitya memilih kelas sebagai tujuannya melangkah, maka berbeda dengan Awan yang masih anteng duduk santai di kantin. Menikmati semangkuk sop buah sebagai menu pencuci mulut dari kegiatan makan-makannya.
"Lah, kenapa lagi dia?" tanya Bintang sepeninggal perginya Shitya.
Awan mengedikkan kedua bahunya acuh.
"Tau. Padahal gue manggil dia tadi pengen ngasih duit."
Iya, jika saja Shitya masih bertahan duduk manis bersama mereka, Awan ingin memberi gadis itu beberapa lembar uang sebagai ganti rugi uang saku gadis itu yang sudah terpakai untuk mentraktir dirinya. Karena sebenarnya, Awan tidak setega itu untuk menghabiskan jatah uang jajan Shitya yang katanya untuk satu minggu itu.
Percayalah, sebenarnya Awan hanya ingin mengerjai gadis itu saja, tak lebih. Tapi tampaknya, Shitya telah salah mengartikan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.