06. Harapan yang jatuh

57 11 0
                                        

.Selamat malam, sudah siap membaca Samudra?

.Seberapa penasaran kalian di part ini?

.Penuhi komentar di part ini, Author sedih gak ada yang respon huhuhu.

Penuhi komentar di part ini, Author sedih gak ada yang respon huhuhu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

06. Harapan yang jatuh

🍁

Ketika harapan tak sesuai dengan ekspetasi, hanya rasa pahit yang tersisa di hati.

🍁

Telfon semalam dari Lingga, benar-benar tidak jelas. Setelah mengatakan Cinta, tiba-tiba saja Lingga mengajak berangkat sekolah bersama dan mematikan telefon secara sepihak tanpa mengijinkankan Jingga berbicara satu kata saja.

Apakah semalam jingga tidak baper? Tentu saja baper. Bahkan Jingga sampai tidak bisa tidur hanya karena ucapan itu.

Tapi Jingga segera tersadar dari dugaan impiannya itu, bawasannya ada yang tidak beres disini.

Ketika pagi menjelang Lingga benar-benar menjemputnya, bahkan disaat Jingga belum selesai menghabiskan sarapan.

Disaat layar ponsel memunculkan pesan bawasannya Lingga sudah berada di halaman rumah, saat itu juga Jingga beranjak dari kursi.

"Loh, non mau kemana?"

Bi Siti yang baru saja akan meletakkan susu di meja Jingga, bertanya dan menatapnya bingung.

"Jingga harus berangkat dulu bi, susu nya biar bibi yang minum saja." ujar Jingga yang langsung mengesampirkan tas di bahu.

"Non mau berangkat dengan siapa? Nona Senja saja masih belum selesai," ujarnya lagi.

Ah, ya. Jingga lupa akan satu bocah dingin yang memang tengah menatapnya dengan tajam, masih mengolesi roti dengan selai.

"Temen? Cowok? Atau bang Bara?" tanya Senja.

"Temen. Lo berangkat sama pak Wawan, gue gak bisa nemenin." jawab Jingga.

"No prob," ketus Senja. "Semoga benar-benar teman."

Jingga berdecak. "Yaudah bi Jingga berangkat dulu, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Siti dan Senja bersamaan.

Tapi, ada imbuhan dari mulut kecilnya itu.
"Semoga bukan hanya pelarian semata,"

"Dasar bocah." umpat Jingga ketika sudah berlalu dari meja makannya.

Inilah yang tidak Jingga sukai, memiliki seorang saudara perempuan yang hampir seumuran. Menyebalkan.

Sebuah mobil BMW hitam sudah terparkir di halaman depan rumah Jingga, dengan seorang pemuda yang berdiri di ambang pintu pengemudi dengan balutan jaket kulit terlihat sedang menelfon seseorang. Cukup serius.

( COV 1 ) - SAMUDRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang