"Lo lagi dimana? Di rumah, nggak?"
"Iya, di rumah. Kenapa emang?"
"Gue mau kesana, mampir doang bentar. Jangan kemana-mana dulu, yee. Plis, tunggu bentar, gua dari rumah Nia, oke."
"Lu darimana emang—"
Bip.
Telfon sudah dimatikan dahulu oleh Kal tanpa keinginan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Rei, walaupun dia sudah mendengar pertanyaan tersebut tadi.
Kal menengok ke arah Nia yang berdiri di depan rumahnya, "yaudah gue ke si Rei dulu, Ni," ucap Kal sambil menyalakan motornya dan membenarkan helm yang dia pakai.
Nia mengangguk, "jadi lo kerumahnya? Dia lagi di rumah?" tanya Nia yang disambut anggukan oleh Kal.
"Gue jalan dulu yeee."
"Iye, makasih ni hampers nyaa!"
Kal menjawab "iyaaa," dibalik masker yang ia pakai sambil menarik pedal gas motor. Rumah Nia dengan rumah Rei hanya berjarak sekitar satu kilometer namun berbeda komplek. Niat awal Kal ingin memberikan hampers kecil lebaran ini hanya untuk teman-teman terdekatnya. Tapi, dipikir-pikir gak ada salahnya juga buat ngasih ke Rei, karena rumahnya Rei juga cukup dekat untuk ditempuh dan dulu Kal cukup sering main kerumahnya.
Jadi, gak apa-apa lah, ya?
Walaupun Kal sebenarnya malas banget buat ketemu. Asli, males.
Sesampainya di gang jalan masuk ke rumah Rei, Kal sedikit deg-degan. Agak wajar juga karena udah lama banget Kal gak mampir ke rumahnya. Kal membelokkan motornya ke kanan karena rumah Rei terletak di rumah nomer satu di gang yang sudah dimasuki oleh Rei.
Kal mematikan motornya sambil celingak-celinguk di depan rumah Rei yang pintunya terbuka. Ada mama nya Rei di ruang tengah yang bisa Kal lihat sekaligus cowok yang lagi tiduran sambil pegang handphone. Itu Rei atau Abang nya, ya?
"Assalamualaikuuuum," salam Kal sok asik. Biasanya Kal bakal ngehubungin Rei kalau sudah sampai di depan rumah karena malu untuk memanggil, sekarang dia malah salam bernada.
Mama Rei nengok keluar ketika mendengar salam—ke arah Kal. "Waalaikumsalaam. Tuh, De, ada Kal. Masuk sini, Kal!"
Cowok yang bermain handphone rupanya adalah Rei ketika ia bangkit dari tidurnya dan melangkah keluar. Kal mengotak-ngatik plastik yang tersangkut di motornya, berniat mengambil kardus kotak kecil berisi makanan.
"Eh, orang tua," sapa Kal melihat penampilan Rei dengan rambut gondrong nya dan celana jeans pendek robek-robek. Persis anak jalanan. Kal merasa dia udah tua lima tahun diatasnya—padahal mereka seangkatan.
"Hah? Apa? Lu abis darimana?"
"Iniiii, gue mau ngasih ini," kata Kal masih berusaha mengambil kardus kecilnya, karena punya Rei terletak paling bawah dan paling polos, tidak berisi tulisan apapun—tidak seperti dua kardus lainnya yang diperuntukkan untuk Kuni dan Syifa yang tertempel stiker dan catatan kecil.
"Ih lu ngapain repot-repot kayak gini? Itu lu beli semua? Habis berapa? Abis darimana lu tadi? Abis main di Nia?"
Kal mendengus sambil otak-atik plastik. Terlalu malas untuk menjawab rentetan pertanyaan yang akan selalu dia lakukan. Rei tuh terlalu kepo dan harus tahu banget keadaan sebelumnya, jadi dia banyak nanya kaya gini!
Setelah mendapati kardus yang diperuntukkan untuk Rei, Kal memberikannya pada orang yang sedang berdiri di samping kiri motornya. Kal tidak turun, karena ia memang berniat hanya memberi dan sama sekali tidak ingin mampir barang lima menit hanya sekedar minum air putih.
