Bag. 14 : Agony

3.8K 347 8
                                        

Lima tahun yang lalu...

"Yang Mulia, bukankah usia anda saat ini sudah berada dipuncak masa remaja dan akan memulai hidup sebagai orang dewasa, menurut hamba ada baiknya jika secara perlahan-lahan anda mulai memikirkan tentang masa depan kerajaan ini, Yang Mulia bisa menunjuk salah seorang dari selir-selir Yang Mulia untuk dijadikan sebagai Permaisuri untuk melahirkan keturunan-keturunan kerajaan dimasa depan."

Saran dari Kasim bernama Umino Iruka itu memang tidak salah, Kasim yang merawat raja sejak kecil itu selalu mengutamakan kebaikan raja dan kebaikan kerajaan. Namun ketika Iruka mengatakan itu, Naruto langsung teringat dengan putra bungsu Fugaku yang mungkin sekarang sudah beranjak remaja.

"...Sasuke."

Iruka sedikit tercekat, matanya melebar usai raja muda yang sedang duduk disinggasananya itu menyebutkan nama tak asing, nama bocah Uchiha yang dulu sering Naruto kunjungi secara diam-diam sebelum naik tahta.

"Ano--" Iruka membungkuk cepat, "A-anak itu tidak bisa melahirkan keturunan, Yang Mulia!" Iruka benar-benar menekuk tubuhnya, karena ucapan yang dirasa cukup lancang tersebut dahinya bahkan sampai menyentuh lantai marmer, nada bicaranya juga terbata dan kelihatan sangat takut.

Tapi Naruto tak mempedulikan hal tersebut, "Ya..." ia menjawab dengan malas dan tak tertarik untuk bernegosiasi, "...Tapi Sakura bisa melahirkan keturunan seperti yang kalian inginkan."

***

Lima tahun kemudian...

Setelah menaruh racikan halus tanaman obat diatas luka diperut pangeran Sasuke seorang Tabib menggeser kakinya untuk berdiri, ia berojigi dan mengatakan sesuatu yang baik dihadapan pria muda yang sedang terbaring itu.

"Yang Mulia akan baik-baik saja, darahnya sudah berhenti mengalir," Tabib itu berkata dengan senyuman, "...Yang Mulia hanya perlu beristirahat dan jangan banyak bergerak."

Sasuke tak memberi respon apa-apa, ia hanya cukup kecewa karena dirinya tak jadi pergi ke neraka. Namun memang berkat si Tabib perasaan sakit dibagian lukanya kini sudah jauh berkurang.

Neji menarik bagian atas selimut Sasuke, menutupi tubuhnya hingga kebagian dada. Sang Tabib pergi dari kamar diikuti oleh Sai dibelakangnya.

***

"Kenapa kau masih mengikutiku, bukankah tugasku sudah selesai?"

Laju tapak kaki sang Tabib berhenti setelah merasakan adanya kejanggalan, sang Shinobi pengikut raja tak berhenti mengikutinya meski mereka sudah berada diluar kediaman keluarga kerajaan.

Dengan santai orang itu ikut berhenti melangkah, "Hanya ingin memastikan kalau kau sampai dirumah dengan selamat."

Merasa curiga, sang Tabib mencoba berbicara serius tanpa memandang Shinobi tersebut. "Aku akan merahasiakannya, kau tidak perlu khawatir," ujarnya merayu, "Aku akan tutup mulut mengenai keberadaan pangeran Sasuke, kau bisa mempercayaiku." Mungkin Sai tidak melihatnya, tapi kaki sang Tabib sebenarnya gemetaran.

"Jalan saja." lagi-lagi dengan santai Sai berkata demikian.

Sang Tabib hanya bisa mengikuti perintah itu walau hatinya penuh keragu-raguan. Sampai diujung jalan yang tak terdapat satu orangpun Sai akhirnya menghabisi Tabib tersebut dengan hati-hati.

***

Naruto sedang duduk bersila di bantal duduknya yang empuk, meski posisinya nyaman tapi dahinya berkerut memikirkan apa yang baru saja Sai katakan.

Sai menundukkan kepala dan bahu menunggu perintah berikutnya, kakinya menekuk rapi.

"Terus awasi dia," dengan dahi yang masih berkerut raja memberi perintah, "...Laporkan apapun yang kau ketahui."

Valley of The End | (NaruSasu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang