"Siapa yang ingin membunuhmu, ha, bocah?" Lalu ia menjatuhkan kepala Sasuke ketanah yang kotor dan berlumpur.
***
Dua jam yang lalu...
Kuda putih betina dan jantan berjalan berbarengan, masing-masing penunggangnya memakai kimono berwarna biru dan yang satunya lagi memakai kimono berwarna putih. Mereka berjalan santai sambil berbincang ringan menikmati pemandangan alam.
"Apakah kau mengetahui tentang teknik pedang? Setiap lelaki harus menguasainya, minimal ia harus tau cara membela diri."
Raja bukannya tak faham bahwa anak kedua dari Ketua Klan Uchiha ini payah dalam hal berkelahi, ia hanya menanyakan sedikit teknik dasar pedang agar memastikan keselamatannya saat dalam keadaan terdesak.
"Umm sebenarnya saya sedang mempelajarinya, Yang mulia. Ketika saya pertama kali masuk ke istana, saya diharuskan mempelajari 'teknik dasar pedang'."
"Betul sekali, dayang sekalipun harus menguasai teknik dasar itu. Lalu apakah kau sudah menguasainya?"
Sasuke menunduk, ia malu mengakui hasil latihannya selama satu bulan ini. "Belum, Yang mulia..."
Sang Raja lalu menghentikan gerakan kudanya, hanya untuk sedikit bermutar tubuh menghadap Sasuke. Ia memandang wajah Sasuke.
"...Karena saya belum terbiasa memegang pedang." Sambung Sasuke kemudian.
"Hm, ternyata Fugaku memang terlalu memanjakanmu."
Sasuke membelalak, refleksi sang ayah yang berada dimasa lalu langsung mengalir diingatannya. Sebenarnya ayahnya bukanlah memanjakannya, karena pada kenyataanya ayahnya selalu menyiksanya dengan memberikan buku-buku tebal yang harus ia baca setiap hari. Kalau tidak membaca itu maka ia akan dihukum, ayahnya selalu berkata 'tugasmu berbeda dengan Itachi'.
Tugas kakaknya adalah mengharumkan nama Uchiha melalui darah yang mengalir diatas pedang ketika ia pergi berperang. Sementara tugas Sasuke adalah mengharumkan nama Uchiha dengan menjadi bagian dari kerajaan dan menjadi mata dan telinga bagi kaumnya (Klan). Ia harus bertarung menggunakan otaknya.
"Saya akan terus berusaha, Yang mulia, maafkan hamba." Sasuke menurunkan bahunya dan menundukkan kepalanya.
Sasuke adalah anak yang cerdas dan Naruto tau itu. "Sebaiknya kau kembali ke Fushuha (nama kediaman Sasuke), matahari sebentar lagi akan tenggelam. Kau sudah mendapatkan satu rusa 'kan? Ada baiknya kalau kau jangan membuang-buang hewan buruan yang masih hidup. Jika kau ingin memanah lagi, kau bisa kembali lain waktu."
Sasuke mengangguk, ia membiarkan Rajanya ini memutar balik kuda dan memacunya. Saat itulah rombongan berkuda sang Raja bergerak mengikutinya.
Ucapan Raja adalah titah yang mutlak baginya yang harus dilaksanakan, itulah yang ditekankan ayahandanya kepadanya. Tata krama adalah hal yang terpenting, meski suatu saat keinginan Raja bertolak belakang dengan tujuan Klan, dirinya harus tetap memprioritaskan keinginan Raja, tentu alasannya agar mata dan telinganya tetap aman berada ditempatnya.
Tapi, satu hal yang ingin Sasuke ketahui adalah, suatu tempat didalam hutan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, berada didekat sungai Niaz, batas paling luar hutan milik istana Konoha.
"Bagaimana kalau kita kembali ke Fushuha melewati jalan yang berada didekat sungai Niaz, aku ingin melihat aliran sungai disana?"
"Tapi, Yang mulia, itu terlalu jauh dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali."
"Sekali-kali tidak papa, lagipula matahari masih tinggi."
***
"Yang mulia, kita sudah terlalu jauh dari istana, sungai ini adalah batas maksimun yang diperbolehkan untuk orang dalam istana untuk bepergian." Salah satu pengawal Sasuke pun menegur, karena dilihatnya Sasuke ingin pergi lebih jauh lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Valley of The End | (NaruSasu)
RomanceHilangnya Calon Pangeran pengantin Putri Sakura membuat Sasuke gelisah hingga mengkhawatiran hidupnya sendiri. Ia berusaha menguak misteri tersebut, dimana sang raja penguasa kerajaan Konona yaitu Naruto telah mengetahui segalanya. Ia dihadapkan pad...
