Bag. 10 : First Target

3.8K 387 13
                                        

Bocah bermata obsidian itu menatapi sosok berpakaian mewah di depannya, dengan begitu penasaran ia menatapi remaja yang melesatkan anak panah berkali-kali membidik rusa hutan yang sejak tadi belum berhasil ia lumpuhkan. Ayahandanya juga sangat santun berbicara dengan remaja itu tadi. Sepertinya dia adalah orang yang istimewa.

"Ada apa, Sasuke?" Fugaku, sang ayah, bertanya setelah melihat gelagat bingung anaknya.

"Dia siapa, ayah?"

"Putra Mahkota kerajaan Konoha."

Sasuke melihat ke remaja berpakaian mewah itu lagi, remaja itu masih berusaha melumpuhkan rusa hitam yang berada agak jauh dari posisi mereka. "Untuk apa dia kemari, bukannya anggota kerajaan adalah musuh kita?"

Fugaku menempelkan jari telunjuk kepermukaan bibir, mengisyaratkan Sasuke agar diam. Setelah anak itu faham, Fugaku kembali tersenyum, membelai helaian poni dan puncak kepala bocah yang masih berusia enam tahun. "Mulai sekarang mereka bukan musuh kita lagi, karena nanti kau akan menjadi bagian dari mereka."

Bergitulah carita perjodohan rahasia itu dimulai...

Sasuke membuka mata, cahaya mentari sudah tinggi masuk menyoroti celah-celah kecil pada tenda dan menyilaui bagian-bagian kecil tempat di pembaringan Sasuke.

Jadi dirinya tertidur?

Tadi malam Sasuke kepikiran lagi tentang kejadian di onsen, ia sempat mengira kalau ia akan terus terjaga sepanjang malam seperti kemarin malam. Tapi nyatanya ia dapat tertidur dengan nyenyak sampai-sampai tidak sadar kalau matahari telah tinggi.

Ia juga memimpikan hal yang mengingatkannya pada masa kecil, pada ayahnya yang sengaja mengurungnya dalam puri dan merecokinya berbagai buku. Apa ayahnya merencanakan ini semua untuknya?

"Yang mulia?"

Sasuke menoleh setelah mendengar panggilan itu.

Neji berojigi sebentar sebelum berkata, "Yang Mulia Raja memanggil anda."

Sasuke terkejut, ada apa gerangan Yang Mulia Raja memanggilnya?

Sasuke hanya menurut dan pergi menemui raja setelah berpakaian lengkap dan merapikan rambut.

***

"Tembak bagian vitalnya, lakukan seperti kau memanah rusa."

Tubuh Sasuke bergetar, pelipisnya telah mengalirkan banyak keringat. Mata anak panah yang ia pegang tertuju pada satu sosok manusia yang sedang berenang di sungai jernih. Gadis desa yang sedang berenang-renang gembira, gadis itu tidak tau kalau bahaya sedang mengintainya.

"Jangan ragu, dan jangan ada rasa kasihan di hatimu."

Sasuke meneteskan air mata dalam diam, ia melesatkan anak panah ke titik vital yang berada di balik punggung gadis yang sedang mandi di sungai itu.

"Bagus, kau cepat belajar."

Raja berbalik dari posisinya berdiri di belakang Sasuke, berjalan ke arah dua ekor kuda yang terparkir pada sebuah pohon muda.

Raja menaiki kuda berwarna putih, kakinya sedikit mengencangkan injakan pedal pelana agar memacu kuda untuk berjalan santai. Safir itu sempat melirik sosok yang terdiam tanpa bergerak di pinggiran tebing curam, Raja memutuskan untuk meninggalkan sosok itu sendirian sementara waktu, ia tau kalau remaja itu sedang terguncang.

Raja menjadi mentor dadakan Sasuke untuk mengajarinya memanah makhluk selain rusa, karena mereka akan segera bertempur di medan perang, Raja takut kalau Sasuke masih memiliki rasa iba kepada orang lain yang akan menyulitkannya nanti ketika sudah memasuki medan perang.

Valley of The End | (NaruSasu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang