16° - Upacara dan Topi

407 32 12
                                        

Keyna memberenggut kesal gadis itu setengah berlari menuruni tangga dengan lengkungan bibir kebawah. Ditanganya sudah repot dengan segala macam atribut untuk upacara senin. Keyna memasang dasinya dengan mulutnya yang terus komat-kamit mendumal.

"Mah Key gak dibangunin sih?"tanya Keyna pada mamahnya yang tengah sibuk mengoles roti dengan selai cokelat.

"Mamah aja kesiangan key, kamu mau sarapan dulug gak?"cakap Desi tanpa menoleh, Keyna semakin manyun sambil menggeleng pelan. Gadis itu menghampiri mamahnya untuk bersalim.

"Naufan udah nunggu tuh diluar,"celetuk Desi tiba-tiba. Wanita itu tersenyum menggoda. Keyna membelalakan matanya. Sejak kapan mamahnya kenal dengan Naufan? Bagaimana dia tahu? Keyna mengangkat sebelah alisnya berusaha tidak peduli karena dua puluh menit lagi upacara rutin akan dimulai, Keyna harus mengurusi perlengkapan upacara dengan pengurus osis lainnya.

"Sejak kapan?"gumam Keyna.

"Sejak kamu mandi tadi, dia cuma salim doang abis itu nunggu didepan."matanya berkedip-kedip. "Cowok kamu ganteng banget Key,"lanjutnya, Keyna hampir saja tersandung.

Keyna tersenyum kecil seraya mengangguk cepat, gadis itu berlari menuju pintu depan saat matanya menangkap sosok pria dengan seragam serupa dengannya hanya saja logo dan label nama sekolah mereka berbeda.

"Nauf,"panggil Keyna, Naufan mengalihkan tatapannya dari ponsel, cowok membalas tatapan datar.

"Lama banget lo! Lumutan gue,"jawabnya. Keyna memutar bola matanya, siapa yang meminta untuk dijemput? Salah sendiri.

"Kesiangan, yuk berangkat gue udah mau telat."Naufan mengangguk, mengantongkan ponselnya kembali. Keduanya segera berangkat.

Motor hitam Naufan berhenti dipertigaan seperti biasa, Keyna turun dengan buru-buru, Naufan yang melihatkan dengan dahi mengerut hingga hampir saja gadis itu terjungkal kalau tidak Naufan tahan.

"Pelan-pelan kali kayak dikejar anjing aja."

"Iya anjingnya elo."

Naufan melotot, "kok jadi gue?!"

"Canda, lepasin tangan lo!"Naufan melepaskan cekalannya.

"Bukannya bilang makasi malah ngatain,"dumalnya.

Keyna memutar bola matanya, malas meladeni ucapan Naufan yang akan membuatnya semakin telat.

"Gue takut telat mau upacara!"tutur Keyna.

"Santui aja kali, jangan buru-buru nanti jatoh,"protesnya.

"Tapi kan nanti gue telat!"balas Keyna cewek itu hampir saja ingin beranjak sebelum tanganya dicekal Naufan.

"Ih Naufan nanti gue telat!"

"Emang kalau telat kenapa?"

Keyna berdecak, wajah Naufan polos sekali seakan cowok itu tidak tahu kalau telat akan mendapatkan apa.

"Nanti kena Hukuman lah."

"Yaelah hukuman doang, gitu aja lebay."

Keyna lupa! Bagi seorang cowok brandal hobi tawuran seperti Naufan itu sangat kebal dengan namanya hukuman. Bahkan katanya dia perna cuhat kalau hukuman sudah menjadi makanan pokok cowok itu tiap hari, entah pagi, siang, sore cowok itu selalu diteror guru-guru sekolahnya.

"Bukannya lebay! Tapi kalau telat nanti disatuin sama anak-anak yang gak pake atribut lengkap terus disuruh maju kedepan juga, malu banget kalau sampe gue disuruh maju pasti jadi sorotan,"jelas Keyna melirik sinis pada Naufan yang hanya ber'oh' ria saja.

Apalagi Keyna ketua osisnya kan? Ketos telat? Sudah pasti dihujat habis-habisan.

"Yaudah biarin aja, kan itu yang lo mau, Jadi sorotan terus,"ucap Naufan membuat Keyna tertegun. gadis itu diam beberapa saat sebelum petikan jari Naufan membuatnya tersadar.

SentimentalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang