Happy reading~
3 tahun yang lalu
Seorang gadis cantik memakai gaun berwarna putih selutut tanpa lengan dan rambut panjangnya dibiarkan terurai terus tersenyum menatap kedua orang tuanya. Gadis itu bernama Adreena Nasha Saqueena.
"Ayo, tiup lilinnya, sayang," ucap Linda sang Mama.
Mereka tengah merayakan hari ulang tahun Nasha yang ke-14, tidak ada pesta hanya perayaan kecil.
Nasha mengangguk, dia melakukan make wish terlebih dahulu kemudian meniup Lilin tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Bentar, biar Mama aja yang buka," ucap Linda sambil berlalu pergi. Papa Bram dan Nasha asyik bercengkrama.
Linda membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu malam hari. Ketika mendongkakan kepalanya, terkejut justru yang dia dapati bukan manusia, malah makhluk dengan wajah yang begitu hancur.
Linda buru-buru menutup pintunya kembali, tapi sayang sebelum pintu tertutup dengan sempurna, makhluk itu lebih dulu menahannya.
Makhluk itu menyeret Linda sampai ke belakang rumahnya. Linda hanya bisa meronta tapi tenaganya tak sebanding.
Sesampai di belakang rumahnya makhluk itu melempar Linda begitu saja, Linda hanya bisa menjerit tertahan, punggungnya begitu sakit akibat benturan yang cukup kuat ke tembok. Tulangnya terasa remuk.
Linda menatap makhluk itu dengan tajam. Dia beringsut berusaha berdiri, sebelum berdiri dengan sempurna makhluk itu kembali menyerangnya dengan menancapkan kuku-kukunya yang panjang ke wajah Linda. Linda memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang begitu hebat, dia ingin berteriak tapi tidak bisa bersuara seperti ada yang menahannya.
"To.. long..." lirihnya
Belum cukup dengan luka diwajah Linda, makhluk itu melemparkan Linda kembali. Mata Linda melotot, dia udah lemas tidak punya tenaga untuk melarikan diri dari makhluk di depannya. Sementara Makhluk itu tersenyum menyeringai, kemudian berjongkok, mengelus wajah Linda yang bersimpah darah, Linda hanya bisa meringis.
"Kau udah siap dengan siksaan terakhirmu?" tanya makhluk itu sambil terus menyeringai. Linda menggelengkan kepalanya pelan.
Makhluk itu tertawa menggelegar, kemudian menatap Linda sambil berucap, "Tapi Sayangnya aku udah siap."
Setelah mengucapkan itu, dia tak segan-segan mencolok mata Linda dengan kuku-kuku panjangnya.
"ARGHHHHHHHHH ..."
tak sampai disitu makhluk itu mencokel mata Linda kemudian memainkan bola mata itu layaknya bola pingpong.
Sementara itu Papa Bram dan Nasha yang mendengar teriakan Mamanya buru-buru keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mereka terus mencari sumber suara Mamanya.
Badan Nasha menegang saat menatap ke halaman belakang rumahnya. Dia menyaksikan makhluk itu menghabisi Mamanya.
"Mama."
Bram yang mendengar teriakan Nasha mendekati Nasha dan berusaha menenangkan putrinya yang menangis histeris. Nasha menunjuk ke arah dimana Mamanya terlukai tak bernyawa, Bram mengikuti arah tunjuk Nasha. Badannya menegang tak percaya dengan apa yang dia lihat, di sana Istrinya udah tak bernyawa.
Nasha dan Bram berlari untuk menghampiri tubuh Linda yang bersimbah darah. Dia memeluk Mamanya tak peduli dengan gaunnya yang penuh dengan darah. Nasha terus saja meraung, Bram berusaha menenangkan Nasha, walau Bram sama hancurnya dengan Nasha.
Hingga datang para warga dan tenaga medis untuk mengurus jenazah Linda. Nasha masih memakai gaun putih yang penuh dengan darah. Dia terus saja meraung.
****
Setelah pemakaman Mamanya Nasha kembali ke kamarnya dan mengunci diri. Dia masih gak percaya dengan kepergian Mamanya apalagi dihari ulang tahunnya. Harusnya ia dan Mamanya tersenyum bahagia bukan air mata yang menjadi saksi kehidupan Nasha sekarang.
"ARGHHHHHH..."
Brak!
Semua barang-barang yang ada dikamar Nasha dilempar. Bram yang mendengar kegaduhan dan suara tangis Nasha hatinya begitu sakit apalagi kepergian Linda yang membawa separuh jiwanya.
"Kenapa Mama ninggalin Nasha dihari ulang tahun Nasha?" tanyanya lirih.
"Tuhan gak sayang sama Nasha ya?" lanjutnya sambil menatap kosong ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Birth (die) in june
HorrorSaat semua orang senang dengan hari ulang tahunnya tapi tidak dengan Adreena Nasha Saqueena yang sering di sapa Nasha. Baginya itu adalah petaka dalam hidupnya, karena harus kehilangan banyak orang yang dia cintai. Kehidupan Nasha jadi banyak perub...
