"Kata Papa, aku nggak boleh ngasih jam ke pacar. Soalnya, percaya atau nggak percaya, waktu kamu ngasih jam, itu pertanda kalau kalian sedang menghitung mundur akhir hubungan kalian. Kalau sepatu gitu, boleh."
"Kalau mitos, ngasih sepatu bikin pasangan kamu lari."
"Cuman mitos. Kalau ngasih kaos?"
Aku teringat ketika itu aku menjawab dengan kedikan bahu. Aku tidak tahu. Rata-rata, orang akan memberikan pakaian untuk hadiah ke pasangan mereka.
Aku pernah memberi kado sepasang baju; celana dengan sweater, dimana aku juga membeli untuk diriku sendiri. Artinya, kami punya pakaian kembar. Hanya saja, hubungan kami kandas karena aku menemukan bahwa dia berselingkuh.
Ngomong-ngomong, aku belum ulang tahun, sih. Masih beberapa bulan ke depan baru akan bertambah usia. Hanya saja, karena jam tangan aku rusak, aku dipinjamkan jam tangan oleh pacarku.
Katanya dipinjamkan, tapi kenyataan ketika aku ingin mengembalikan, dia menolak. Dia mengambil jam tanganku yang talinya putus untuk diperbaiki. Ketika aku mengintip tas—yang aku pinjamkan juga ke dia— aku masih menemukan jam tangan lamaku masih di sana.
Sejujurnya, aku enggan untuk memakai jam ini. Bukan jam mahal, memang. Hanya saja, ini membantuku untuk mengetahui waktu tanpa harus melihat ke arah ponsel yang tersimpan di loker ketika bekerja. Ya, secara aku itu emang berada di lingkungan yang tidak memperbolehkan ponsel masuk ke dalam area pekerjaan.
Seperti saat ini. Aku telah usai shift siang dan bersiap untuk pulang. Tempat kerjaku yang baru hanya tujuh menit berjalan kaki. Sangat dekat hingga aku memutuskan untuk berjalan kaki saja untuk pulang dan pergi.
"Mas Adam jalan kaki aja?" tanya seorang teman cewek yang bekerja satu shift denganku.
Aku tersenyum simpul dan mengangguk. "Deket, kali. Udah biasa, kan?"
"Barengan aja sama aku. Arah kita sama, kan?"
Alisku naik. "Nggak masalah?" Ketika dia menjawab dengan anggukan, aku menimpali. "Aku yang nyetir."
"Emang bisa nyetir motor?"
Aku tertawa. "Aku nggak pakai sepeda motor, bukan berarti nggak bisa nyetir."
Perjalanan ke rumah hanya memakan satu menit untuk sampai di depan gang dan satu menit untuk aku berjalan sampai ke depan rumah. Aku memangkas lima menit dengan motor.
Memang efisien. Hanya saja, aku ingin tetap ingin menggerakkan kakiku agar terbiasa untuk berjalan. Aku memang hobi berjalan, sih. Menikmati setiap tempat yang aku lewati secara perlahan dan menemukan sesuatu yang baru untuk dilihat. Seperti langit di pagi hari.
Ketika aku masuk shift pagi, jam setengah enam aku sudah mulai berjalan kaki dan mengamati cakrawala yang selalu berubah setiap hari. Langit tidak pernah menunjukkan hal yang sama setiap pagi, hanya saja kita tahu jika ada Matahari di sana yang selalu sama untuk menyinari.
Seperti hati manusia yang tidak pernah sama. Hatiku dan hati Putra tidak bisa kami tebak satu sama lain. Mungkin, ini pertanda jika kami harus lebih saling terbuka satu sama lain? Kami seharusnya memperbaiki komunikasi kami. Aku rasa seperti itu.
Aku lupa tepatnya kapan ini bermula. Tidak ada kata jadian di antara kami, hanya saja, kami sudah dekat. Kami memutuskan untuk membuat tanggal jadi kami tanggal delapan. Juni? Juli?
Semenjak insiden Putra yang telah menciumku secara tiba-tiba ketika aku hendak berangkat kuliah, aku terus mempertanyakan motif dia mendekatiku. Mei mengawali petualanganku dengan orang baru. Hanya dia, Putra seorang yang sekarang aku hendak mulai percaya dengan aku butuh seseorang untuk di sampingku.
Aku baru sampe rumah. Capek wkwkwkwk
Hi, Babe. Aku masih ada kerjaan.
Lanjutin aja. Aku masih beres-beres mau tidur wkwkwk.
Percakapan kami biasa saja. Aku lebih banyak diam, pasif, bahkan enggan untuk bercerita. Berkebalikan dengan Putra yang sering cerita apa saja denganku.
Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi demikian. Aku bisa tahu siapa-siapa saja yang menjadi teman dekat atau orang yang suka bermusuhan dengan Putra di tempat kerjanya, sementara dia tidak tahu satu nama orang yang berada di kerjaanku. Aku setertutup itu, atau Putra yang tidak tahu jika kalau aku tidak ditanya, maka aku tidak akan membuka sebuah cerita?
Aku menjadi pribadi yang enggan untuk mengeluh kepada orang terdekat—terutama pacar, karena hubunganku yang sebelum dengan Putra, aku sering mengeluh capek dengan orang-orang di pekerjaan lamaku, hingga aku memutuskan untuk berhenti. Ya berhenti dari pekerjaan, ya berhenti dari hubungan dengan pacarku yang sebelumnya.
Aku takut mengeluh dan membiasakan diri untuk tidak ambil pusing dengan keadaan yang sedang aku hadapi. Sejujurnya, aku sedang mengembangkan sikap untuk tidak ambil pusing. Bodo amat, kalau bahasa gaulnya.
Masalah hari ini cukup untuk hari ini. Berhenti untuk memikirkan hal-hal yang sudah terjadi karena menyebabkanku larut dalam pemikiran yang terlalu dalam dan mengakibatkan penyesalan. Yang sudah ya sudah. Capek badan, cukup diungkapkan untuk satu hari karena aku masih terberkati bisa tidur nyenyak.
Hanya saja, dengan Putra, aku masih memikirkan beberapa hal yang masih membuatku merasa janggal untuk hubungan kami. Ada beberapa tanda yang mulai muncul dan menghubungkan kami dengan segala kerumitan dalam pikiranku hingga aku mempunyai keinginan untuk mengakhiri hubungan kami.
Tanda pertama adalah jam tangan ini. Kalau-kalau kami akan bertemu, aku akan diam-diam mengembalikan jam tangan ini dan mengambil milikku. Ini adalah hal pertama yang ingin aku lakukan. Harus.
Mungkin ini terlihat aku ingin menyangkal tentang mitos yang pernah dia ungkapkan kepadaku. Hanya saja, aku memang ingin melakukan ini. Aku merasa tidak nyaman dengan sugesti yang pernah aku terima.
[]
A/N
Akan diperbaharui seminggu kemudian. Ingatkan aku, ya. Hehehehe.
Aku nggak menarget banyaknya yang komen atau yang baca ceritaku. Karna aku sendiri bercerita karena ini adalah proses healing. Hehehe.
Selamat membaca dan menemani Adam dan Putra sampai selesai. :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Tacenda
Fiksi UmumCerita ini lanjutan dari An Acquaintance, mong-ngomong. Kisah antara Adam dan Putra setelah mereka jadian.
