Part 17

3K 335 64
                                        

Jihoon meraung di dalam lift yang -untung nya-hanya terdapat dirinya di dalam sana.

Ia tidak ingin meninggalkan Soonyoung.. Sama sekali tidak pernah terpikir oleh Jihoon bahwa ia akan sanggup hidup tanpa Soonyoung setelah kebersamaan mereka selama ini.

Tapi jika memang kehadiran Jihoon tidak diinginkan oleh Soonyoung,
membebani Soonyoung,
dan Soonyoung tidak bisa menghargai usahanya.. Jihoon bisa apa?

Jihoon bisa apa selain mundur dan pergi dari hidup Soonyoung pelan-pelan?

Anak itu meraba kantong piyamanya dan bernafas lega begitu merasakan ponselnya-untungnya- terbawa bersamanya.
Akan sangat memalukan jika ia harus kembali lagi ke apartemen Soonyoung demi sebuah ponsel padahal ia telah mengembalikan cincin pernikahannya dengan sangat dramatis.

Setelah mengusap air matanya hingga habis. Jihoon berjalan keluar apartemen, menuju sebuah halte yang berada tak jauh dari gedung tempat tinggal Soonyoung.

Iya.. halte yang sama dengan
tempat Soonyoung mencuri ciuman keduanya.

Jihoon baru saja mengirimkan pesan pada Kim Mingyu.
Ia terpaksa kembali merepotkan lelaki itu kembali karena benar-benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.. mengingat hubungannya dengan Wonwoo sedikit merenggang.

Ditambah Jihoon tidak membawa uang sepeser pun.

Sudah lima belas menit Jihoon menunggu di tengah cuaca yang sangat dingin.. cuaca di pertengahan bulan desember.
Ugh, seharusnya tadi ia mengambil jaket terlebih dahulu..
Sehelai piyama benar-benar tidak membantu sama sekali.

Dan tanpa bisa dicegah Jihoon kembali mengingat Soonyoung,
apakah ia boleh berharap bahwa Soonyoung akan segera menyesali perkataannya?
Kemudian menyusul Jihoon dan memintanya untuk kembali?

Haha tidak mungkin, justru sekarang Soonyoung pasti merasa lega.. karena beban di pundaknya-berupa keberadaan Jihoon- telah terangkat sepenuhnya.

Sambil menahan air matanya yang terkumpul lagi dan mendesak ingin keluar, Jihoon mengusap lengannya karena kedinginan.
Apa Kim Mingyu bebal itu ingin membuatku mati beku huh?!-
Sebuah klakson menghentikan umpatan Jihoon..yang bersuara di dalam hati.

Setelah menyeka sudut matanya yang masih berair, Jihoon mengangkat kepalanya untuk menemukan seorang lelaki keluar dari mobilnya dan berdiri di hadapan Jihoon.
"Choi Seungcheol-ssi..?"

Seungcheol kemudian duduk di bangku sebelah Jihoon,
"Apa yang kau lakukan disini dengan penampilan seperti ini?
Kau tidak kedinginan huh?"

Jihoon, yang masih tidak menyukai pria di sebelahnya itu hanya membuang muka acuh, "Ini sama sekali bukan urusanmu.
Kau ingin menemui Soonyoung bukan? Silahkan pergi"
Seungcheol meringis begitu mendengar nada jutek Jihoon. Anak ini masih menyimpan dendam kesumat rupanya.

"Kau bertengkar dengan Soonyoung?"

Hah.. mendengar dan menyebut nama Soonyoung saja membuat hati Jihoon ngilu.
Benar kata Wonwoo,
sebesar itu efek seorang Kwon Soonyoung terhadap Jihoon.
Sementara Jihoon hanya seperti remahan ayam goreng di mata pria itu, tidak ada harganya.

Keterdiaman Jihoon, Seungcheol anggap sebagai jawaban iya.
Masih dalam keheningan, Seungcheol memperhatikan kondisi Jihoon yang terlihat sedikit berantakan.
Jangan kira dirinya tak tahu bahwa anak itu baru saja menangis,
matanya yang memerah tidak bisa berbohong.

Seungcheol tidak bisa menebak dengan tepat apa yang baru saja terjadi, tapi ia memiliki beberapa dugaan.
Sambil tertawa pelan pria itu bersuara, "Kau sangat mencintainya ya?"

Good to Me | Soonhoon [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang