Chapter 6
Wira sedang berjalan di selasar koridor sepi begitu bahunya ditepuk seseorang. Ia menoleh ke belakang. Terdiam saat melihat perempuan yang membuat Stella naik darah tempo hari. Kana. Perempuan itu mungkin tampak manis dari luar. Tapi, entah kenapa, Wira tidak menganggap sifatnya semanis tampilannya.
"Halo, Wir. Bisa bicara sebentar?" tanya Kana dengan senyum simpul.
.
"Bulan Januari bakal berakhir di depan mata, Stell," Satya tampak kesetanan dengan rambut acak-acakan dan baju compang-camping. Kebiasaannya di rumah. Selalu tampak seperti gembel. "Bulan Januari, Stell!!"
Hari ini Minggu. Udara cukup bersahabat bagi Stella untuk duduk di balkon kamarnya. Namun, mendadak Satya merecokinya dengan kalimat bulan-Januari-berakhir-di-depan-mata. Tentu, ini hal yang membuat Stella merasa hidupnya tidak akan tenang.
Satya memang menyebalkan. Tidak akan bisa berubah.
"Ya, emang kenapa?" tanya Stella kesal.
Satya meloncat dari balkon kamarnya, ke balkon kamar Stella. Sepupunya Stella itu tampak bahagia karena Stella akhirnya menanggapi ucapannya. Stella mendengarkan apapun yang akan Satya katakan, dengan kesabaran maksimal.
"Bulan Februari, tanggal 1, bakal ada pesta dansa di sekolah kita," Satya berucap. "Tahun lalu, gue bareng seseorang. Sekarang gue putus dari dia. Gue baru sadar kalo cewek itu semacem setan berwujud manusia. Nah, gue mau balas dendam ke dia. Gue mau bawa perempuan ke pesta dansa itu. Perempuan yang bisa mengalahkan dia."
"Kayaknya, lo dendam kesumat sama cewek itu," kata Stella sambil mengangguk-angguk.
"Iyalah. Dia cewek ular," Satya bergidik.
Baru kali ini, Satya meledek seseorang dengan sebutan cewek ular. Selain pada Stella, ia tau Satya tidak mungkin meledek perempuan. Kadang hal itu membuat Stella naik pitam. Masa, sepupu selalu diledek sementara perempuan yang tidak jelas hubungannya dengan Satya malah terlalu dihargai?
"Jadi, gue bisa bantu apa?" tanya Stella, sepenuhnya fokus pada Satya.
Melihat wajah memohon Satya, Stella sudah tau jelas jawabannya.
"No. Gue gak suka pesta dansa, plus, gue gak mau didampingi cowok kayak lo," elak Stella. Pandangan matanya berubah horror.
"Hanya kali ini," mata Satya penuh permohonan. "Lo perempuan yang bisa mengalahkan cewek manapun, Stell."
Oh, great.
"Oke, gue terima," ucap Stella sambil nyengir kuda. "Nanti, lo yang harus temenin gue nyari gaun."
"Dipuji aja baru mau," Satya menggerutu.
Stella menaikkan satu alisnya. "Sorry? Kayaknya gue salah dengar."
Satya menunjukkan senyum polosnya.
"Gue gak ngomong apa-apa," kata Satya sambil mengedikkan bahu.
Mendengar itu, Stella ikut mengangkat kedua bahunya dan kembali melihat pemandangan pagi dari atas balkon. Satya duduk di sebelahnya. Mereka berdiam diri cukup lama hingga akhirnya Satya memecah keheningan.
"Apa yang terjadi di ruang musik hari itu?" tanya Satya, tanpa melihat Stella sama sekali.
Wajah Stella berubah memerah dengan cepat. Ingatannya jatuh saat ia memeluk punggung Wira dan menangis. Hanya karena Wira menyanyikan lagu yang mengingatkan Stella pada hidupnya.
Hidup berantakan Stella.
Pasti, Satya bingung ketika ia membuka pintu ruang musik dan melihat Stella tertidur di bahu Wira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fix
Ficção AdolescenteStella Oselyn sudah tau orangtua mereka cepat atau lambat akan bercerai. Begitu juga Daniel, kakaknya, yang entah kenapa sangat mengesalkan Stella karena menerima dengan pasrah akan berita itu. Sakit hati dan tersendiri, Stella tidak mau memilih an...
