Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Senja yang sama tidak pernah datang lagi

50 4 0
                                        


Senja telah datang lagi.
Bersama ratusan burung-burung yang berterbangan menuju petang.
Aku masih nyaman menatap merah jingga ini.
Dengan mata tak berkedip, kucoba mencari istimewanya hal yang sedang aku tatap.
Rasanya tidak ada yang istimewa dari senja ini, hanya saja berbagai hal indah juga pahit pernah terjadi pada waktu senja. Itu yang membuatnya terlihat berbeda.

Sudah lama rupanya, senja yang sama tidak pernah datang lagi.
Senja yang pernah menyaksikan kisah kita yang dipatahkan waktu.
Secepat itu ternyata waktu berlalu, hingga kata-katapun tak cukup kuat untuk ku tuliskan tentangmu.

Setiap saat setiap waktu, senja terus berganti hari demi hari. Sepanjang waktu bergulir,
Sebanyak kelopak mawarku yang telah lepas di penghujung musim,
Sejauh perjalanan waktu yang berlalu.

Namun, serumit apapun itu, ada yang tak pernah hilang meski ku kubur ratusan kali, ada yang tak lenyap meski aku selalu mencoba untuk menepisnya, ada yang tak tenggelam meski pernah ku tenggelamkan dalam-dalam.
Kau tau apa itu?

Kenyataan.

Kenyataan bahwa jalan menuju mu hanyalah seperti benang kusut yang tak ku tau ujungnya berada dimana. Yang mungkin sedikit bisa lega, namun kemudian bertemu jalan buntu.
Terlalu buntu, hingga aku harus menempuh jalanku yang lain.

Seperti senja,
Lima atau sepuluh menit keindahannya.
Namun kamu, adalah bagian sedetik terakhir saat ia berganti gelap.
Sama seperti saat kita berjumpa, waktu ku untuk melihatmu hanya sedetik, sekali mataku berkedip. Lalu kamu, setelahnya akan hilang.

Jika aku ingat kembali,
senja kala itu adalah senja terbaik yang pernah ada.
Tatkala mentari terlihat begitu bulat dan pekat, sedangkan langit terlihat begitu bersih dan bersinar.
Angin senja itu berhembus sejuk, tidak angin panas yang  menyengat, juga tidak angin dingin yang menusuk.
Segalanya terasa begitu sempurna.

Namun kala itu, kita yang berubah tak saling melengkapi lagi. Kita yang membuat langit indah senja itu seakan runtuh menimpa kita.
Hingga tangis tak cukup damai tuk memeluk kita.

Senja itu,
Masih aku ingat.
Sebanyak kata maaf yang kian terbuang, sebanyak itu aku terus mengingat rasa sakit yang pernah begitu nyata.
Hubungan indah begitu cepat berakhir saat kita terlalu tulus untuk mencinta.
Karna pada ujungnya, akhir yang begitu pahit kian mendera.

Bukankah harusnya kita tidak pernah saja memulainya?

***

Sebait RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang