Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Mengingat Kembali

18 3 0
                                        


Saat itu aku masih ingat.
Pertama kali kita berani untuk membuat kenangan pertama kita.
Ya, kencan pertama.

Aku tak tau pasti tentang perasaan ku sejak kamu mengajakku pergi ke suatu tempat ketika itu.
Entahlah, tapi yang pasti saat itu kamu berhasil membuat pipiku bersemu merah.

Saat itu, aku mulai belajar berdandan untukmu, hanya agar aku terlihat cantik di depanmu. Karena aku tau, aku bukan  apa-apa di bandingkan banyak wanita di luar sana.

Hari itu juga, saat kali pertama kamu menggenggam tanganku dan menatap mataku dalam.
Seketika aku merasa seperti banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku.
Banyak sekali debar-debar aneh di dalam dadaku.
Apa benar cinta seperti ini?
Yang pasti, aku sangat bahagia.

Kita menikmati angin di sore itu kala kendaraanmu berlalu di antara banyak kendaraan lainnya.

Aku bergetar, berusaha menahan angin yang berkali-kali menelusup masuk ke dalam kulitku. Meninggalkan sensasi dingin di tubuhku.

Saat itu, kamu mengambil tanganku.
Memasukkannya ke dalam saku jaketmu dan kamu genggam erat di dalam sana. Memberiku kehangatan.
Sedangkan aku?
Aku masih setia terdiam kala merasakan hangat tubuh yang kamu berikan lewat jemari tanganmu yang terpaut denganku.

Lalu seketika kemudian, kamu menoleh dan tersenyum lembut padaku.
Aku bisa melihat cinta di manik matamu. Aku bisa melihat ketulusan di dalam sana.

Aku, terbawa karena tatapanmu.
Aku balas menggenggam tanganmu erat untuk membalas senyum indahmu itu.
Aku tau kamu paham, bahwa sejak saat itu aku benar-benar telah jatuh.
Jatuh cinta kepadamu.

Aku merasa istimewa kala itu.

Aku merasa sejak saat itu kamu tetaplah milikku dan aku tetaplah milikmu.

Namun, semua itu tetap hanya menjadi sebuah kisah, yang aku lupa sejak kapan hal itu berganti menjadi kenang.

Yang aku ingat,
Bahwa di tempat yang sama saat pertama kali kita pergi, saat pertama kali kita saling menggenggam dan jatuh cinta bersama.

Itu juga lah tempat saat kamu melepaskan tanganku.
Juga tempat saat terakhir kali kamu mengatakan bahwa cinta itu sudah tidak lagi ada.

Di saat itu kamu membentang jarak di antara kita, bak dinding pembatas yang begitu tinggi, hingga aku tak bisa melihatmu lagi.
Bahkan hanya untuk beberapa menit saja.

Kamu ganti semua senyum dan tawa di wajahku menjadi sendu.

Kamu, memutuskan pergi disaat aku begitu erat menggenggam tanganmu.
Kamu, berhenti menatapku disaat mataku masih lekat menatap matamu.
Dan kamu, berlalu dari hadapanku, disaat aku masih terpatri berdiri disini melihat punggungmu yang semakin menjauh dari tempatku.

Seketika aku runtuh,
Aku terjatuh tepat di tempatku berdiri saat itu.

Dari jauh, aku melihat kamu menoleh sebentar.
Aku bisa melihat bekas air mata di sudut matamu. Dan kamu bisa melihat bekas air mata di sudut mataku.
Aku pikir kamu akan balik ke arahku dan kembali menggenggam tanganku.
Tapi kamu, memilih untuk tetap melangkah pergi menjauh.

Air mataku jatuh bagai hujan.
Tangisku pecah.
Aku sesekali berteriak memanggil kamu.
Tapi kamu tetap pergi.

Saat itu aku tersadar, bahwa tempatku mungkin bukanlah di sisimu.

Aku sadar,
Bahwa saat itu kamu telah meninggalkan cinta itu, hanya di genggaman tanganku saja.

***

Sebait RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang