Ini bukan hanya tentang impian atau masa depan, ini semua tentang kehidupan.
Sakura Kim hanya menginginkan kesempurnaan dari keluarganya yang telah mengalami kerusakan. Di belakangnya ada sosok Minho Lee, seorang sahabat yang tak luput dari pandang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sang syamsu telah terbit dari ufuk timur menyinari kota pada hari kamis pagi. Sakura keluar dari kamarnya dengan seragam putih abu-abu dibalut jaket jeans kebesaran milik Minho, mengingat seragam batiknya belum dicuci dan semalam ia temukan masih berada di tumpukan baju kotor. Ia juga sudah mengabari Minho untuk membawakan seragam batik miliknya agar bisa Sakura pakai.
Sambil menenteng tas putih yang sebenarnya masih agak lepek, Sakura melewati ruang tengah rumahnya dan menjumpai sang bunda sedang menyereput kopi hitam di atas sofa.
"Sakura, mau sekolah?"
Rasanya enggan untuk menjawab pertanyaan yang menurut gadis itu tak berguna, karena siapa pun orang yang melihat juga harusnya tahu jika ia akan pergi ke sekolah karena memakai seragam sekolah di pagi hari, 'kan?
Sakura hanya menjawabnya dengan gumaman. "Hm..."
"Bunda denger, Ayah kamu balik ke sini." Agaknya sebal dengan pernyataan sang bunda––Irene, yang berbicara dengan nada meremehkan di sofa, membiarkan kepulan asap dicangkir putih yang beliau pegang menguap di awang-awang. "Ngapain balik lagi?"
"Bukan urusan Bunda juga 'kan kalo Ayah balik ke sini?" Mata Irene yang tadinya tak menatap anak gadisnya, jadi menoleh cepat dengan delikan tajam.
"Ayah kamu pulang ke sini pasti mau ngambil kamu dari Bunda, Sakura!" Irene hampir memekik, meski ia menahannya.
Sakura memandang Irene dengan helaan napas berat, "Ya emang kenapa? Kura juga udah gede kok, bisa nentuin pilihan sendiri mau tinggal sama siapa."
"Emangnya Ayah kamu itu bisa apa, Sakura? Dia juga udah punya keluarga baru di negara orang."
Decihan keluar dari mulut Sakura yang tertawa sumbang, menatap kedua netra sang bunda layaknya api yang membakar jiwa. "Seenggaknya, Ayah gak akan ninggalin aku sendirian di rumah tanpa kabar selama dua bulan."
Tungkai Sakura melangkah menuju pintu depan dengan teriakan Irene di belakang sana. Dari pada Sakura kembali menyakiti ibundanya dengan kata-kata yang semakin membuat sakit hati, lebih baik ia pergi dari sana untuk pergi ke sekolahnya dengan cepat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.