Ini bukan hanya tentang impian atau masa depan, ini semua tentang kehidupan.
Sakura Kim hanya menginginkan kesempurnaan dari keluarganya yang telah mengalami kerusakan. Di belakangnya ada sosok Minho Lee, seorang sahabat yang tak luput dari pandang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Junmyeon keluar dari mobilnya tergesa, memasuki rumah yang dulu pernah ia tinggali. Tempat di mana kenangan indah dan pahit menjadi satu, tempat di mana ia pernah membesarkan satu-satunya anak gadis cantiknya, dan tempat di mana ia kehilangan itu. Rumah sebelum ia dan mantan istrinya––Irene, bercerai.
Saat Junmyeon baru saja sampai di apartemennya, tiba-tiba pria itu mendapatkan pesan chat dari Irene yang bilang agar segera mengembalikan Sakura sambil bersumpah serapah. Junmyeon yang tidak tahu apa maksudnya langsung bergegas menuju rumah lamanya di kota Timur.
Junmyeon dan Sakura berpisah saat jam setengah sembilan malam setelah lelah mengelilingi taman bermain di ujung kota. Sakura menyarankan Junmyeon untuk mengantarnya hingga depan stasiun pusat, karena Sakura pikir Junmyeon akan kesulitan untuk pulang sebab perjalanannya yang cukup jauh dan ibukota yang macet. Dan, Junmyeon menyetujui itu.
Pintu rumah lamanya masih terbuka lebar walau jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Junmyeon langsung memasuki rumah tanpa permisi ataupun salam. Dilihatnya rumah itu dengan seksama, masih belum ada yang berubah. Hanya saja sedikit berantakan dan agak pengap. Ketika Junmyeon memasuki ruang tengah, ia melihat Irene dan seorang pria yang merengkuh mantan wanitanya itu. Junmyeon mendengus kasar hingga keduanya menoleh.
"Mana Sakura?" lirih Irene sambil melirik Junmyeon. Junmyeon bisa melihat jika mata wanita itu sembab.
"Aku gak kontak Sakura lagi setelah pisah di stasiun," jawab Junmyeon. "Maksudmu apa tadi di chat kalo aku bawa Sakura? Dia belum pulang?"
Irene kembali menangis dengan keras. Sambil menutup wajahnya dan sesekali menjambak rambutnya. Laki-laki yang ada di sana––Junmyeon perkiraan lebih muda dari Irene dan dirinya itu––menatap Junmyeon, "Sebenernya tadi pulang sekitar jam sebelas, cuman tadi ada drama kecil. Tiba-tiba Sakura gak ada di kamar waktu dicek."
Junmyeon mengernyit, "Drama?"
"Ada anak laki-laki yang tadi lagi jalan sama anakmu. Dia dituduh kerja sama kamu buat bawa Sakura pergi dari Kak Irene," jelas pria itu sambil mengelus punggung Irene.
Junmyeon terbahak, "Saya? Mempekerjakan orang buat bawa Sakura?" Lalu melirik ke arah Irene tak percaya. "Otak kamu di mana sih, Irene?"
"Kenyataannya emang kamu mau bawa Sakura dariku, Mas!" teriak Irene, menunjuk Junmyeon dengan jari telunjuk, "aku kira Sakura kabur ke kamu!"
Pria itu menatap sebal ke Irene lalu ia mengambil ponsel di saku celananya.
You: Ayah ad drmh km,, km dmn,, | tlgg kbari ayah. |
Setelah mengetik pesan singkat kepada Sakura, Junmyeon masuk lebih dalam ke dalam rumah, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah yang belum banyak berubah. Ia kemudian memandang kembali Irene yang berada dipelukan pria asing di hadapannya. Junmyeon berdecih, ia berjalan menuju sofa yang ada di depan Irene dan duduk di sana. "Harusnya kamu yang sadar kenapa Sakura gak ada di rumah, Irene."
Walau tidak ada jawaban, Junmyeon tau Irene masih mendengarkannya.
"Aku sayang sama Sakura, Mas," desis Irene dengan suara pelan, "tapi apapun yang aku lakukan, selalu salah di mata Sakura. Sakura kaya benci banget sama aku, ucapannya kasar, perlakuannya buruk banget ke aku. Aku ibunya, Mas. Ibunya! Aku yang ngelahirin dia. Tapi sejak kita cerai, dia beneran gak mau tatap mata aku. Sejak kamu pindah pun, dia berubah total."
"Menurutmu, yang bikin Sakura kaya begitu siapa?" kata Junmyeon. "yang bikin kita cerai emangnya siapa, Rin?"
"Mas––"
"Aku betul, 'kan?" tanyanya sambil menunjukkan seringai tipis, "yang selingkuh siapa? yang ngabisin uangku buat belanja terus-terusan siapa? yang dugem siapa?"
"Aku, Mas. Aku!"
"Itu kamu nyadar, Rin!" sergah Junmyeon, "Kamu yang bikin Sakura selalu nungguin kamu pulang tiap hari abis pulang dugem, bersihin kamu, bopong kamu, bikinin kamu sarapan, nemenin kamu, semuanya! Kamu bahkan gak pernah ambil rapot Sakura."
Isakan tangis dari Irene memenuhi ruang tengah yang sedang mereka singgahi. Junmyeon kembali mengingat Sakura yang pernah mengadu kepadanya saat ia baru saja pulang dari dinas di luar kota, seperti; "Yah, Bunda kalo pulang selalu mabok terus. Muntahnya bau, aku capek bersihinnya.", atau "Yah, aku laper, belum makan dari semalem. Bunda gak tau kemana.", bahkan seperti, "Ayah, Bunda ngomongin cowok terus. Pernah dibawa ke kamar juga. Aku gak tau mereka ngomongin apa di dalem kamar. Aku dimarahin kalo nanya sama Bunda."
Ingat sekali dimemori Junmyeon perkataan Sakura yang berumur sepuluh tahun itu. Ayah mana yang tidak marah jika mendengar anak gadisnya mengurus istrinya yang bermain belakang dan tidak pernah pulang ke rumah? Bahkan tidak memberi anak gadisnya makan? Bagaimana bisa Irene memperlakukan anaknya seperti itu?
"Kamu juga jangan-jangan yang nyuruh Sakura berhenti gapai cita-citanya," duga Junmyeon ditengah-tengah isakan Irene.
"Apa? Jadi penari?" tanya wanita itu, "Itu cuma mimpi anak kecil, Mas. Jaman sekarang mana ada yang kerja jadi penari? Yang ada miskin! Aku cuma nyuruh Sakura berhenti nari biar dia fokus belajar trus bisa daftar PNS. Biar dia ada masa depannya!"
Junmyeon tertawa sinis, "Wah ... padahal pas ngurusin kamu mabok, Sakura gak bisa fokus belajar. Gak tau 'kan kamu dia hampir gak naik kelas gara-gara gak ikut ujian?" Junmyeon melihat Irene bungkam, pria itu memang tak pernah bilang kepada Irene perihal yang satu ini. Karena, menurutnya, Irene terlihat tidak begitu peduli.
"Kakakmu yang bilang sendiri. Dia yang ngambil rapot Sakura pas kamu gak tau pergi ke mana, kakakmu sampai mohon-mohon untuk membiarkan Sakura ikut ujian susulan," cecar Junmnyeon. "Kenapa? Kakakmu gak bilang, ya? Bahkan kakakmu sendiri mihak aku, Rin."
Wanita itu kembali menangis.
ting!
Dirogohnya saku celana Junmyeon karena bunyi notifikasi pesan yang masuk. Pria itu tersenyum sambil menatap layar.
Anakku♥: | kura ikut ke jepang sama ayah aja boleh? skrg kura aman kok. dirumah temen. nanti siang bru pulang.
Junmyeon menatap Irene yang seperti mayat hidup; mata yang membengkak karena menangis terus-terusan, bibir yang pucat, dan pergelangan tangan yang diperban. Junmyeon tau jika Irene melukai dirinya sendiri sama seperti dulu. Junmyeon bangkit dari duduknya, melihat jam dinding yang tergantung diruang tengah––menunjuk pukul dua lewat tiga puluh dini hari.
"Aku akan bawa Sakura ... ada atau tanpa seizin kamu," tekan Junmyeon yang melangkahkan kakinya menuju pintu luar. "Aku mau kamu nyadar, kalo cara kamu yang katanya sayang itu ke Sakura, salah. Sakura butuh kamu. Sakura butuh bundanya. Selama ini Sakura cuma butuh itu." pungkas Junmyeon sambil pergi meninggalkan Irene yang kembali menangis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.