#6 Lovey-Dovey L
■ ■ ■ ■ ■
Sometimes univ feels hectic and chaos much, just like in senior high school.
I said this because of what happened to Nadine sekitar dua bulan yang lalu. She is Max’s ex girlfriend dan dia di bully cukup.. well, oke bukan cukup lagi, tapi benar-benar extreme sama sekumpulan cewek yang mikir kalo dia ga pernah pantas untuk bisa sama Max and sooo, they did it. Cruelly.
Sesuatu yang bikin gue bener-bener bersyukur Jen ga ada di sini. I mean, ngebayangin dia harus ngerasain apa yang dialami Nadine, betapa gilanya cewek-cewek kayak Barbara, or Mandy, would treat her by send her a bunch of hatred and threated message(s) endlessly; it really scared and pissing me off as hell.
Gue bersyukur dia ga ada di sini. Juga gimana minimnya interaksinya sama social media yang membuatnya semakin jauh dari kemungkinan di bully secara cyber sama sekumpulan-Mandy-lainnya. Minimnya interaksinya sama social media yang–God, of course she’s like that karna dia bener-bener typical cewek yang bahkan untuk inget ngecek ponselnya aja dalam dua jam sekali udah merupakan satu prestasi buatnya, ck.
So, point of what I am trying to say is;
Despite of how much pain that it takes in this long distance relationship with her, still, I’m glad that she’s far away from here now, thus, she’s safe.
She’s safe by this sick-massive distance, if I may add.
What a irony.
– L
***
“Something is going on, and it’s wrong.”
Landon sungguh ingin membenturkan wajahnya ke permukaan meja di hadapannya begitu kalimat itu kembali dia dengar dalam setengah jam belakangan. Tanpa ada hentinya.
“Whoa. What’s wrong, Lan? You okay?”
Dan penyebab dari kefrustasiannya itu ternyata bahkan tidak menyadari kesalahannya sama sekali, ck.
“Kau yang kenapa, Max.”
“Me?” mata Max membulat bingung. “You mean?”
“Kau terus mengucapkan ‘something is going on and it’s wrong’ tanpa henti sejak tadi, man. Kau tak menyadari itu?” Sudut matanya berkerut seiring dia melanjutkan kalimatnya begitu melihat raut bingung Max, langsung mengerti untuk apa yang sedang terjadi. “...Lagi?”
Tipikal Max. Landon sudah mengenal cowok itu dalam enam*) tahun belakangan untuk mengetahui kebiasaannya menyuarakan pikirannya out loud tanpa benar-benar dia sadari.
Tebakannya sepertinya memang benar, dengan Max yang langsung membuang napas dengan dramatis. “Tapi aku benar, kan? Ada yang aneh dari Emma saat kita bertemu dengannya tadi.. Kau menyadarinya kan?”
“Apa?”
“Cara dia menatapmu..” Max mengerutkan keningnya memandangi Landon, tak ingin untuk mengambil kesimpulan tanpa benar-benar sudah memastikan–sebut saja, kecurigaannya untuk keanehan gadis incarannya itu ketika menatap Landon.. “Katakan padaku kau tidak berbohong bahwa kau memang tidak mengenal Emma sama sekali.”
Landon tak langsung menjawab. Dia sudah bisa menebak kalau pertanyaan itu akan terlontar lagi dari Max untuk jawabannya sebelumnya yang dia tau cukup terdengar tak masuk akal jika mengingat cara gadis itu menatapnya. Gadis yang entah siapa dan entah kenapa harus menatapnya dalam cara seperti yang dia tunjukkan kepadanya tadi..
KAMU SEDANG MEMBACA
Conflate (ON HOLD)
Fiksi Remaja"Perjalanannya udah mencapai tujuan. Pencariannya udah berakhir. Tapi ga dengan misteri tentang dia yang taunya masih banyak yang gue belum tau.." - Jennifer "Six years passed since the first day I met her. And not a single day I can gettin' her out...
