Bagi kamu yang suka traveling, atau sering sekali bepergian baik jarak jauh maupun dekat, pasti pernah merasa bahwa perjalanan pulang terasa lebih cepat dan singkat dibanding saat perjalanan pergi.
Saat kita pergi menuju suatu tempat, waktu terasa berjalan sangat lama. Sebaliknya, saat kita melalui jalan dan rute yang sama untuk pulang setelah mencapai tujuan, yang dirasakan justru berbeda. Waktu terasa berjalan lebih cepat, padahal masih berada di belahan bumi yang sama dengan zona waktu yang sama pula. Jarak yang ditempuh pun sama.
Kira-kira mengapa bisa begitu, ya?
Ternyata hal itu sangat wajar karena hampir semua orang pernah merasakannya, para peneliti menyebutnya sebagai Return Trip Effect.
Begini penjelasannya!
Saat dalam perjalanan pergi otak kita cenderung lebih fokus untuk mencerna rute yang ditemui sepanjang jalan, sedangkan saat pulang jika kita melewati jalan yang sama, otak kita sudah lebih familiar dan tidak perlu lagi bekerja keras untuk fokus sehingga presepsi kita terhadap waktu akan terasa menjadi lebih cepat.
Ada juga pendapat lain yang menyatakan fenomena ini disebabkan karena saat kita menempuh perjalanan pergi, kita memiliki ekspektasi waktu untuk sampai ke tempat tujuan.
Sementara, saat kita berada di perjalanan, ada banyak hal yang mungkin saja menghambat dan memperlambat durasi perjalanan kita, seperti misalnya kemacetan parah.
Kita terus menerus mengecek waktu untuk memastikan ekspektasi waktu yang telah kita tentukan, yang mengakibatkan timbulnya dampak psikologis berupa waktu yang berjalan lebih lambat.
Sebaliknya, saat perjalanan pulang, kita tidak memiliki ekspektasi waktu tersebut, sehingga otak akan lebih rileks dan waktu terasa berjalan lebih cepat.
***
Sumber:
1. www.akupaham.com
2. www.idntimes.com
KAMU SEDANG MEMBACA
RUANG PSIKOLOGI
HumorTips dan trik menerjemahkan bahasa non-verbal melalui gerak tubuh, gaya bicara, gaya chatingan, tulisan tangan dan gerakan bawah sadar lainnya. *Dikutip dari beberapa sumber.
