05 | Ibu

71 19 8
                                        

Pagi itu sangat cerah. Suasana penuh keceriaan menyelimuti salah satu rumah di desa terpencil ini.

Dua anak kecil terlihat sedang asik bermain di halaman rumahnya yang penuh dengan rumput hijau.

Sang ibu menatap kedua anaknya itu dari kejauhan dengan senyum bahagianya. Namun entah mengapa di matanya tidak terlihat demikian.

"Kalo bisa sini tangkap aku, week. " Anak perempuan berumur lima tahunan tengah menantang dan mengejek anak laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya.

"Awas kau ya, aku tangkap jangan nangis, " Anak laki-laki berlari mengejar adik perempuannya yang telah mengejeknya.

Seperti sebuah taman penuh kebahagiaan bagi seorang ibu. Karena bisa melihat anak-anaknya terus tersenyum dengan senangnya. Tanpa ada yang mengusiknya.

"Aduh!" Si kecil perempuan tersandung batu dan terjatuh.

"Ha haha. Jatuh. Ha haha, " Si kakak laki-laki menertawai adiknya.

Untuk anak-anak seumuran mereka, kesenangan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan adalah hal yang sangat penting. Sebuah masalah kecil, adalah sebuah titik awal bagi mereka untuk berkembang.

Si adik duduk meringkuk menenggelamkan kepalanya di sela-sela lututnya dan merengekkan tangisan kecilnya.
Mungkin tubuhnya ada yang sakit karena terjatuh atau.

"Ibu, kakak jahat! gara-gara kakak kakiku sakit. " teriak si adik berdampingan dengan ledakan tangisnya.

"Eh, kok aku! Kan kau yang jatuh sendiri. " Si kakak mendengus kesal karena di salahkan.

Dari jauh sang ibu cukup terkejut dan mulai melangkahkan kaki mendekati kedua anaknya.

"Apanya yang sakit? Kaki?" Si kakak berjalan ke arah adiknya, kali ini dia terlihat khawatir dengan adiknya.

"Yang sakit itu ... Aku bohong. Wa haha, " Si adik meloncat dari duduknya. Tawanya pecah. Di sangat puas menipu kakaknya.

Sang ibu yang sudah berjalan cukup dekat dengan kedua anak itu, ikut tertawa kecil. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia. Tapi ada yang kurang! Dimana ayahnya.

Dari kejauhan seorang pria dewasa berlari ke arah mereka bertiga. Dia nampak kalut seperti dikejar sesuatu.

"Tania. Cepat lari pergilah dari sini. Bawa anak-anak kita juga. Sekarang!" ternyata dia adalah sang ayahnya. Dia memerintah istrinya itu. Dia sangat kalut, ada bahaya yang tengah mengejarnya-tidak, sepertinya bahayanya mengincar mereka berempat.

"Ada apa Billy? Apa kekhawatiranmu terhadap para petinggi eksperimen itu benar-benar terjadi. " Tania namanya. Dia bertanya kepada suaminya-Billy. Dia juga ikut takut sekarang.

Keceriaan di sini mendadak hilang. Anak-anak mereka bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ketidaktahuan kedua anak kecil ini cukup baik, perasaan mereka berdua tetap tenang dan tidak ikut khawatir akan hal yang akan terjadi.

"kenapa kita harus pergi? Ayah kan baru pulang. Ayo ayah ikut bermain dengan ku dan kakak. " ajak si kecil perempuan kepada ayahnya. Dia tidak tahu apa-apa dengan keadaan sekarang.

"Tidak sekarang, adek! Kamu dengan kakak harus lari sekarang. " sela sang ayah ke anaknya itu. Kemudian dia berkata lagi. "Tania, dugaanku benar. Petinggi eksperimen akan membunuh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi parahnya dia juga mengincar orang-orang yang berkaitan dengan anggota eksperimen ini. Seperti sekarang, mereka juga mengincar kalian untuk ikut di binasakan. Sekarang kalian pergilah! "

"Itu benar-benar kejam, Bill! Astaga ... Bentar, Aku harus bersiap dulu, membawa bekal. "

"Tidak akan sempat. Mereka tadi sudah mengejarku. Yang lain mungkin sudah mereka habisi. "

Colour Call : Memanggil WarnaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang