Disini, saya berada, sendirian tepatnya di atas jembatan sungai Han, saya berdiri tegak dengan hati yang hancur dan air mata yang menetes, niat hati ingin mengakhiri hidup dan akhirnya bertemu dengannya, rasanya juga mustahil. Hidup saya di ambang a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pria itu tidak kunjung pulang, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 waktu Korea Selatan.
Pria itu sangat menyesal ketika mendengar kabar kalau anaknya akan di lakukan pemeriksaan lagi, dia.. membuntuti keluarga Choi, dan pria ini.. selalu memantau keluarga Choi dari jauh.
Lebih menyesal lagi, pria ini telah membuat anak dari wanita yang di sukainya tersiksa di dunia ini. Dia sangat menyesal ketika harus melakukan hal yang tidak masuk akal saat dulu.
Pria bernama lengkap Jeon Woong, pria yang sangat menyukai Choi Hena sejak Sekolah Dasar.
Semenjak kejadian saat itu, Woong sangat menyesali perbuatannya karena.. Hena tidak menerima kisah cintanya. Di ejek temannya dan karena itulah Woong melakukan perbuatan tidak terpuji itu.
Menghamili Hena secara paksa.
***
"Tidakkah kamu tahu aku sangat jahat Hena? Maafkan aku, aku benar-benar menyesal.." Woong melihat pecahan kaca dari lilin milik anak nya.
Terlintas sebuah ide di kepalanya, tangannya mulai meraih pecahan kaca itu. Menatap pacahan kaca itu lamat-lamat hingga.
"Jangan lakukan itu!" Tubuh pria itu terasa kaku, ketika mendengar sayup-sayup suara Hena.
"Hena? Dimana kamu?" Kepala pria itu mengitari seluruh batu nisan yang ada disini, mencari pemilik suara itu.
"Aku memaafkanmu, tidak apa-apa.." pria itu menangis, lalu mengepalkan tangannya bersamaan dengan pecahan kaca di tangannya, membuat tangan pria itu berdarah lalu keluar dengan deras.
"Hena, kenapa? Kenapa kamu begitu baik?"
"Manusia harus selalu berbuat baik, kamu.. jangan sedih, doakan saja anak kita agar sembuh."
"Aku.. aku tidak tahu harus melakukan apa Hena."
"Cukup doakan anak itu." Pria itu mengangguk, ketika merasakan bahwa Hena berada disini. Menemaninya.
Mengusap kedua air matanya yang menetes sambil berdiri, menyisahkan bercak darah yang menetes dari tangannya.
Dia melakukan itu, supaya dapat merasakan apa yang Hena rasakan saat itu. Hena adalah wanita yang sangat-sangat luar biasa.