Chapter 6 - Luka batin

2K 95 14
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMEN NYA.
TERIMAKASIH

-------------------------------------------------------

"Luka fisik dapat diobati dengan mudah, tetapi tidak dengan luka hati"
.Chanyeol.

Sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam menggelinding pelan, memasuki halaman rumah mewah yang berdiri megah di tengah-tengah kota Seoul. Pemandangan rumah yang dilengkapi taman yang rapi, kolam renang yang mengilap, dan lampu-lampu besar yang menggantung di sekelilingnya seakan menonjolkan betapa tingginya status pemilik rumah ini. Begitu mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama, seorang pria bertubuh tinggi tegap keluar dari mobil tersebut.

Park Chanyeol, seorang pria berusia 28 tahun yang dikenal sebagai dokter sekaligus pemilik Park Hospital, rumah sakit terbesar di Seoul, berjalan dengan langkah mantap menuju pintu masuk rumah. Wajahnya yang tampan, dengan ekspresi serius, menyiratkan segudang masalah yang menggerogoti hatinya. Ia tak pernah bisa melepaskan diri dari bayangan masa lalu, dan itu membuatnya terjebak dalam rutinitas tanpa tujuan.

"Chanyeol!" sebuah suara memanggil dari dalam rumah, disusul langkah kaki yang terdengar berat namun penuh kehangatan.

Park Jimin, ayahnya, tampak muncul di ambang pintu, duduk di kursi roda yang didorong oleh istrinya. Park Yoona, ibu Chanyeol, mengikutinya dengan penuh perhatian, meskipun ada kerisauan yang tampak jelas di wajahnya. Kecelakaan yang menimpa Jimin beberapa tahun lalu mengubah segalanya, membuatnya harus bergantung pada kursi roda, tetapi rasa sayang dan kekhawatirannya terhadap putranya tetap tak tergoyahkan.

Jimin berusaha menyapa putranya dengan senyum lebar, meskipun tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. "Putraku, Chanyeol. Selamat datang di rumah. Kami menunggumu."

Chanyeol melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dengan tatapan yang datar. Ia menatap ayahnya, lalu beralih ke ibunya yang berdiri dengan senyum lemah. Meskipun ia tampak tenang, ada rasa janggal yang mengisi hatinya-sebuah perasaan yang ia tidak bisa hilangkan meski berusaha keras.

"Aku baik-baik saja, Papa. Jangan terlalu repot," jawab Chanyeol sambil mencoba tersenyum, meskipun senyum itu terasa begitu dipaksakan.

Jimin mengangguk, kemudian menepuk bahu Chanyeol. "Tidak apa-apa, Nak. Papa hanya ingin melihatmu. Sudah lama sekali kita tidak duduk bersama seperti ini."

Park Yoona, ibu Chanyeol, menyarankan dengan lembut, "Chanyeol, istirahatlah dulu. Kami sudah menyiapkan makan malam untukmu. Nanti kita makan bersama."

Namun, kata-kata itu membuat Chanyeol terasa semakin terhimpit. Tanpa bisa menahan perasaan, ia menatap ibunya dengan dingin. Senyumnya menghilang dalam sekejap, dan atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi tegang.

"Tanpa kalian suruh pun, aku memang ingin istirahat," jawabnya dengan nada datar yang terdengar dingin, hampir tajam. "Dan berhenti memanggilku 'Nak'. Aku bukan anakmu lagi!" lanjutnya dengan suara yang memerahkan telinga.

Yoona terdiam sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibir putranya itu seperti pisau yang menembus jantungnya. Matanya mulai berkaca-kaca, meskipun ia berusaha menahan air mata. Apa yang telah ia lakukan hingga anak kandungnya bisa begitu membencinya? Apakah semua ini terjadi karena kecelakaan yang menimpa Jimin? Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam pikirannya, dan rasa bersalah yang mendalam mulai menguasainya.

Im Normal | Chanrose |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang