Banyak follow, vote dan comen baru up
____________________________________
Happy Reading 💋
Rose berbaring di atas ranjangnya yang empuk, menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan stiker-stiker bintang. Biasanya, stiker itu menjadi pelarian baginya. Membayangkan dirinya melayang di antara galaksi yang penuh dengan ketenangan selalu menjadi caranya melupakan kekacauan hidup. Tapi malam ini, stiker-stiker itu tak lagi memancarkan kenyamanan. Mereka hanya sekadar hiasan mati tanpa arti.
Udara malam yang sejuk seharusnya bisa menenangkan tubuhnya yang lelah, tetapi hatinya justru terasa sesak. Dadanya seperti dihimpit beban yang berat, dan pikiran-pikiran di kepalanya terus berputar, menambah rasa sakit yang ia rasakan.
"Mah, Pah..." bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Apa pekerjaan benar-benar lebih penting daripada aku, anak kalian sendiri?"
Air matanya mulai mengalir, membasahi pipinya yang dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.
"Sampai-sampai demi perusahaan kalian, kalian tega menjual aku ke keluarga Park..." katanya lagi, kali ini lebih keras, suaranya bergetar penuh emosi.
Rose mengingat pertemuan terakhir dengan kedua orang tuanya. Mereka berdiri di ruang tamu rumah keluarga Park, berbicara dengan suara ramah kepada Tuan dan Nyonya Park, seolah semuanya baik-baik saja. Saat itu, Rose hanya bisa berdiri di sudut ruangan, mendengarkan mereka membahas pernikahannya dengan Chanyeol, pewaris keluarga Park.
"Mereka bahkan tidak bertanya apa aku setuju..." gumamnya. "Apa aku pernah punya pilihan?"
Rose mencoba menenangkan pikirannya, tetapi hatinya terasa seperti hancur berkeping-keping. Ia bertanya-tanya, apa dosa yang pernah ia lakukan sehingga hidup menghukumnya dengan begitu kejam?
Pikirannya yang kusut sering kali membawanya pada bayangan gelap tentang menyerah. Tapi setiap kali pemikiran itu muncul, wajah Jisoo selalu datang menghantui, memberinya alasan untuk bertahan.
"Jisoo jauh lebih kuat dariku," pikir Rose. "Aku nggak boleh menyerah sekarang. Setidaknya aku masih punya dia."
Tiba-tiba, suara ponsel memecah keheningan kamar. Rose menyeka air matanya dengan cepat, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas. Nama Jisoo muncul di layar.
"Halo?" sapanya pelan, mencoba menormalkan suaranya.
"Rose... ini aku, Soya." Suara Jisoo terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Rose langsung mengenali nada rapuh itu. "Soya? Kamu kenapa? Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku... aku rindu kamu," balas Jisoo dengan suara bergetar.
"Soya, kamu nggak biasanya kayak gini. Ceritain ke aku, dong. Apa yang terjadi?"
Hening sejenak. Rose hanya bisa mendengar suara isakan kecil dari seberang telepon.
"Aku di Jeju sekarang," akhirnya Jisoo berbicara.
"Jeju? Kenapa kamu di sana? Bukannya kamu masih sama Suho?"
Nama Suho membuat Jisoo menangis lebih keras. Perlahan, Jisoo mulai menceritakan segalanya-tentang bagaimana Suho mengkhianatinya, menghancurkan semua harapan yang ia bangun bersama pria itu.
Rose mendengarkan setiap kata, hatinya bergemuruh antara marah dan sedih. Ia ingin memeluk sahabatnya itu, ingin menenangkan rasa sakitnya.
"Soya," ujar Rose akhirnya, suaranya lembut namun tegas. "Kamu nggak pantas diperlakukan kayak gitu. Kalau Suho nggak bisa menghargai kamu, dia nggak layak buat kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Im Normal | Chanrose |
Teen FictionTerhubung dengan Don't Go. DON'T COPY MY STORY Warning 21+ Bijaklah dalam memilih bacaan. Karya real hasil pemikiran ku sendiri, no ciplak ciplak. "Saat kau merasa rapuh datanglah padaku jika rasa sakitnya terlalu berat untuk ditanggung sendiri." ~...
