JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMEN NYA.
T
ERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
"Kamu adalah hadiah ulang tahun terindah yang Tuhan berikan padaku."
Rose -
Rose duduk di kursinya yang terletak di sudut kelas. Wajahnya muram, tidak ada sedikit pun ekspresi ceria yang terpancar. Matanya terus menatap ke luar jendela, ke langit yang kelabu. Awan gelap menggantung di atas, seakan mencerminkan perasaan di dalam hatinya. Langit yang suram itu, tak jauh berbeda dengan perasaannya saat ini.
"Soya, di mana kamu?" batin Rose, terus bergelayut di pikirannya. Sudah hampir tiga minggu sejak kejadian itu. Sejak kepergian Jisoo yang tiba-tiba, tanpa sepatah kata pun. Entah mengapa, Rose merasa dunia di sekelilingnya menjadi lebih kosong. Semua menjadi lebih hampa tanpa kehadiran Jisoo.
Selama tiga minggu itu, ia berusaha tetap tegar. Namun semakin hari, kecemasan yang dipendamnya semakin menggerogoti dirinya. Soya... sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat yang tahu betul bagaimana rasanya melawan ketakutan dalam dirinya. Di mana Soya sekarang?
Suara tawa teman-teman sekelasnya di belakang membuat Rose sedikit tersadar dari lamunannya. Salah satu temannya, Nia, menyapanya dengan ceria.
"Rose, ke kantin yuk!" Ajak Nia dengan senyum lebar.
Rose menggeleng pelan. "Maaf, teman-teman. Aku nggak lapar," jawabnya pelan, mencoba memberikan senyum meski hati terasa berat.
"Yuk, Rose! Kamu belum makan sama sekali dari tadi," bujuk Lara, teman lainnya.
"Maaf, aku benar-benar nggak nafsu makan," jawab Rose lagi, kali ini lebih pelan. Nafsu makannya hilang sejak Soya menghilang, dan kekhawatiran itu tidak pernah bisa hilang begitu saja.
Nia dan Lara saling berpandangan, wajah mereka penuh rasa khawatir. "Baiklah, kalau kamu nggak mau, kita ke kantin dulu," ucap mereka sebelum pergi meninggalkan Rose yang masih terdiam.
Rose kembali menundukkan wajahnya, kedua tangan menutupi wajahnya yang seolah ingin menutupi segala perasaan yang membebani hatinya. Ketika matanya melirik keluar kelas, ia melihat seseorang yang membuat hatinya semakin terhimpit. Jennie, adik Jisoo, berjalan cepat melewatinya. Rose merasa ada dorongan kuat untuk bertanya kepada Jennie, untuk mencari tahu keberadaan Jisoo.
Kenapa dia tidak melakukannya sejak awal? Kenapa dia tidak langsung bertanya?
"Jennie, tunggu!" Panggil Rose dengan suara sedikit terputus-putus.
Jennie berhenti dan menoleh, ekspresinya berubah menjadi cemberut begitu melihat siapa yang memanggilnya. "Ada apa?" tanyanya, nada suaranya jelas tidak ramah.
"Di mana Soya?" Rose langsung melontarkan pertanyaan yang sudah lama mengganjal di hatinya.
Jennie menatapnya tajam, matanya menyala penuh kebencian. "Gak tahu! Jisoo itu gak ada di sini!" jawabnya kasar, seolah Jisoo adalah seseorang yang harus dijauhi oleh semua orang.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu tentang kakakmu?" Rose merasa darahnya mendidih, bibirnya bergetar menahan marah. "Apa kamu nggak tahu sopan santun?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Im Normal | Chanrose |
Teen FictionTerhubung dengan Don't Go. DON'T COPY MY STORY Warning 21+ Bijaklah dalam memilih bacaan. Karya real hasil pemikiran ku sendiri, no ciplak ciplak. "Saat kau merasa rapuh datanglah padaku jika rasa sakitnya terlalu berat untuk ditanggung sendiri." ~...
