Pergi, hilang, dan lupakan.
~~Ara pun segera memasuki kelasnya. Tak lama setelah Ara masuk, Pak Har dan Bu Endang masuk ke kelas.
"Anak-anak, kalian segera keluar ke depan aula dan masing-masing membawa kursi ya." interupsi pak Har. Bu Endang pun menambahi "kalian jaga sikap, jangan malu-maluin"
Lantas, sekelas pun mengiyakan omongan bu Endang itu.
Semua pun bergegas keluar kelas dan menata kursi agar segera foto. Kursi pun telah ditata sedemikian rupa dan tu tadi mulai keluar dari aula. Langsung saja tamu itu mengambil posisi diantara para siswa yang duduknya telah ditata.
Karena sebagian besar tamu itu laki-laki, maka yang perempuan berada ditengah. Ara pun menempatkan dirinya di barisan agak pojok.
Ia pun duduk diapit oleh 2 orang laki-laki. Sebelum sesi foto dimulai, orang yang ada di situ berbincang sebentar.
"Namanya siapa dek?" tanya seorang di sebelah kiri Ara. "Arayana kak" jawab Ara dengan santai. "Ini kelas berapa dek?" gantian sebelah kanan yang bertanya. "Mipa 8.5 kak" jawab Ara lagi sekenanya.
Sesi foto pun dimulai. Sesi ini agak lama karena mengharuskan semuanya untuk fokus pada satu kamera dan diambil dari beberapa angel.
10 menit kemudian, sesi foto pun selesai dan siswa mipa 8.5 kembali ke kelas. Bu Endang dan Pak Har pun mengucapkan terimakasih karena siswa yang kondusif.
At class
"Bu Dewi oi" teriak salah satu siswa yang berjaga di depan pintu. Para siswa kelas pun tak menggubris. Mereka hanya kembali ke bang ku nya dengan santai sampai bu Dewi datang dengan beberapa orang dibelakangnya.
"Selamat pagi anak-anak" sapa bu Dewi sokab (sok akrab). semua pun menjawab dengan serentak.
"Oh iya mas, sini" panggil bu Dewi pada sua orang yang berada di luar kelas. "Iya bu" jawab masnya sambil tersenyum dan masuk ke kelas.
"Jadi anak-anak, mas ini akan memberikan kalian materi dan ibu harap kalian tetap kondusif. Selama materi ibu ada di luar." kata bu Dewi yang langsung pamit pada penduduk kelas.
Kedua orang itu pun memperkenalkan diri.
"Halo adik-adik, perkenalkan saya Sermatutar Bayu Adi Prakoso, saya Dari Jakarta" kata seorang yang berwajah tengil itu.
"Perkenalkan, saya Sermatutar Muhammad Ilham Mustaffa dari Sidoarjo." ucap yang satunya lagi dengan wajah lebih santai.
Kedua orang itu pun menjelaskan tujuan mereka datang ke kelas nya. Yang mana mereka mengedukasi kepada para siswa tentang kenakalan remaja.
Tak luput mereka yang menceritakan kejadian konyol sekaligus mengharukan saat mereka menjalani tes masuk akademi militer.
Dari yang kak Bayu jatuh dari motor sampai tulangnya geser. Kak Ilham yang berjuang karena mengejar cita-cita yang sedari dulu diimpikan.
Sampai mereka tak sadar kalau waktu yang diberikan akan habis. Dan istirahat pun akan segera datang.
"Permisi, waktunya sudah habis kak" Kata seseorang dari luar yang tiba-tiba membuka pintu tanpa mengetoknya.
"Yasudah adik-adik. Sampai sini dulu kita bertemu. Semoga bisa ketemu di lain waktu lagi ya. Kalian boleh istirahat." kata kak Bayu sambil menghapus tulisan yang ada di papan tulis.
Sebagian besar murid pun segera meninggalkan kelas saat kak Bayu selesai mengatakan itu. Namun masih ada beberapa orang yang tinggal di kelas karena malas ke kantin.
Ara dan temannya pun tidak meninggalkan kelas. Ia menelungkupkan kepalanya diatas meja karena mengantuk. Belum lagi ia nanti harus belanja bulanan. Tentunya bersama duoD.
"Dek, bisa bantu mengembalikan kabel nya?" pinta seorang tiba-tiba. Ara pun langsung mengangkat kepalanya dan segera mengambil kaber yang berada ditanya kak Ilham.
Disepanjang jalan saat akan ke ruang tata usaha, ia bisa melihat beberapa taruna yang berjalan menuju arah kantin. Bisa dipastikan mereka akan beristirahat.
Sekembalinya Ara dari ruang TU, ia memanggil kedua temannya dan menghampiri Tia yang berada di tangga dekat kantin.
"Kuenya mesin disana kan?" tanya Ara pada Tia. "Masih kok. Ambil aja sekarang. Lagian pak Har juga masih di ruang guru." jawab Tia sekenanya.
Mereka ber4 pun menuju stan kantin tempat dimana Ara menitipkan kuenya. Tak lupa hadiah untuk pak Har dari ketiga temannya itu.
"Ini dikasih dimana?" tanya Kila. "Gimana kalau di gedung serbaguna yang dipake taruna tadi?" usul Billa enteng. Usul itu pun diangguki oleh Ara dan Tia.
Dengan tergesa-gesa mereka ke ruang serbaguna. Mereka pun meminta ijin pada komandan yang membawa taruna untuk membuat sedikit kerusuhan. Pak Lim pun hanya mengiyakan.
Ara pun membicarakan rencananya pada kakak taruna yang berada disitu. Tak lupa meminta bantuan dari pak Fathur yang merupakan guru olahraga sekaligus guru yang bisa dibilang dekat dengan pak Har.
"Pak, tolong panggilin pak Har ya?" pinta Billa pada Pak Fathur. "Lah buat apa nduk?" tanya pak Fathur.
"Pokoknya panggilin aja pak. Bilangnya konsumsi disini kurang." jawab Kila enteng. Pak Fathur pun segera melenggang pergi dari ruang serbaguna menuju ke ruang guru yang jaraknya tidak jauh.
Sedangkan Ara sekarang sedang memasang lilin angka 3 dan 5. Tia yang mengawasi luar pun memberitahukan kalau pak Har mulai mendekat.
"Selamat ulang tahun pak Har!" seru keempat siswi itu yang dihadiahi tatapan terkejut dari pak Har. Pak Har yang tak menyangka hanya diam tak dapat menutupi ekspresi terkejutnya.
Yang didalam pun menyanyikan lagi selamat ulang tahun. Tak menyangka juga kalau rencana mereka berhasil. Pak Fathur yang ikut ambil bagian pun juga ikut bernyanyi.
"Makasih lohh. Padahal saya kesini mau minta maaf kalau konsumsinya kurang" kata pak Har dengan jujur. "Konsumsinya ga kurang kok pak. Ini ide dari anak-anak ini." ucap pak Fathur tanpa mempedulikan ekspresi kesal dari keempat siswinya itu.
"Oh iya. Pak Lim, jika mas-mas taruna ini diminta untuk bermain voli apakah bisa?" tanya pak Har pada Pak Lim yang di per boleh kan oleh pak Lim.
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
ABOUT SOMETHING -hiat-
General FictionAku ingin pulang namun tidak bersama anumerta