Adiwidya berjalan menuju balai desa dengan menggenggam tangan Ajeng dan Dimas yang berjalan di sisi kanan dan kirinya. Kemarin sore Mbak Nining dan Mas Karyo belum pulang, maka dari itu Ajeng dan Dimas masih bersamanya.
Mungkin Mbak Nining dan Mas Karyo masih ditahan oleh orangtua Mas Karyo untuk berlama-lama di sana, maklum, mereka kan sangat jarang ke sana, orangtua Mas Karyo pasti merindukan mereka.
Ia juga tidak cukup repot mengurus Ajeng dan Dimas, karena kedua anak kecil itu tidak sulit untuk diatur. Mereka juga sangat akur, tidak pernah bertengkar.
Dari kejauhan, matanya bisa melihat Bima dan Fajar sedang berdiri di seberang balai desa bersama dengan Pak Lek Jarwo.
"Selamat pagi, Pak Lek, Mas Bima, Mas Fajar," sapa Adiwidya ketika ia telah sampai di hadapan ketiganya.
"Selamat pagi, Adiwidya," balas ketiganya bersamaan.
"Salim dulu sama Pak Lek Jarwo dan Mas Bima, juga Mas Fajar," kata Adiwidya pada Ajeng dan Dimas, yang segera dilakukan oleh keduanya.
"Anak-anaknya Nining kok sama kamu? Nining ke mana?" tanya Jarwo.
"Mbak Nining sama Mas Karyo ke desa sebelah, ke rumah orangtuanya Mas Karyo. Ajeng sama Dimas dititipkan ke aku untuk sementara," jawab Adiwidya.
"Oh." Jarwo menganggukkan kepalanya paham.
"Kalau begitu, saya pamit mengajar dulu," pamit Adiwidya, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bima dan Fajar.
"Silahkan Adiwidya," kata Jarwo.
Adiwidya pun berlalu dari sana. Tatapan Bima tetap mengarah pada punggung belakang gadis itu, sampai akhirnya menghilang di tangga terakhir paling atas balai desa.
Fajar menyenggol lengan kang masnya. "Fokus."
"Adiwidya punya pacar?" tanya Bima pada Pak Lek Jarwo.
"Sepengatahuan saya, belum Juragan Bima. Tapi yang menyukai dia, banyak," jawab Jarwo.
Bima masuk ke dalam ladang, diikuti oleh Jarwo dan Fajar. "Selama tinggal di desa, Adiwidya gadis yang seperti apa menurut kamu?"
"Dia gadis yang baik, rajin, sopan dan beretika. Dia juga tidak pernah menolak untuk membantu semua orang yang membutuhkan bantuannya, selama dia mampu untuk membantu."
Bima menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Jarwo. Gadis itu memang baik, salah satu contohnya adalah Adiwidya yang mengajari anak-anak desa, tanpa diupah sama sekali.
"Selama proses mengajarnya di balai desa, yang selalu membantu memasok kebutuhan belajar anak-anak dan mengajarnya, siapa?"
"Juragan Hasan, dan seorang pemuda luar kota yang selalu datang tiap akhir bulan ke desa." Bima dan Fajar mengerutkan keningnya, lalu bertanya dengan bersamaan, siapa nama pemuda itu.
"Namanya Adiwijaya, juragan."
"Aku harus bertemu dan pemuda itu, dan melihat seperti apa tampangnya. Sekarang sudah pertengahan bulan, berarti tinggal beberapa hari lagi sebelum pemuda itu ke desa," kata Bima.
"Benar, juragan," sahut Jarwo.
"Besok temani aku untuk berbelanja kebutuhan belajar untuk dipakai oleh anak-anak desa, dan kebutuhan mengajar untuk digunakan oleh Adiwidya di kota," kata Bima.
"Baik."
"Aku boleh ikut kan?" tanya Fajar.
Bima hanya berdehem sebagai jawaban.
Sementara di tempat lain, Bintang dan Chakra sedang membantu para pekerja rumah untuk memasukkan hasil panen ke dalam gudang di rumah mereka.
"Aku sangat lelah mengangkat karung ini," keluh Bintang, sembari mendudukkan dirinya di kursi teras gudang.
Chakra tersenyum. "Mas istirahat saja dulu, biar aku yang mengangkat sisanya, tinggal sedikit juga."
Bintang menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Chakra."
Beberapa saat kemudian, terlihat Larasati menghampiri Bintang dengan membawa sebuah rantang makanan. "Kamu sendiri? Chakra ke mana?"
"Chakra ada di dalam, Biung. Dia sedang membantuku menyusun karung hasil panen di dalam." Larasati menganggukkan kepalanya.
Ia lalu meletakkan rantang makanan itu ke atas meja, lalu membukanya dan menatanya satu persatu di atas meja. "Biung bawakan makanan untuk kalian makan, biung juga akan membawakan makanan ke mas-masmu di ladang."
Bintang menatap satu persatu lauk pauk yang tersedia di dalam wadah dengan mata berbinar-binar. "Biung memang yang terbaik, kebetulan perutku sudah demo meminta untuk diisi."
"Kita tunggu Chakra dulu, ya." Bintang setuju.
Tidak lama setelahnya, Chakra keluar dari dalam gudang. "Biung kapan datang?" tanya Chakra sambil menyalim tangan biungnya.
"Baru saja," jawab Larasati. "Biung datang membawakan kalian makanan. Kalian pasti sangat lelah, karena ini pertama kalinya kalian bekerja fisik," kata Larasati.
"Iya, Biung. Kami memang sangat lelah, terutama aku. Tadi aku hanya mengangkat beberapa karung saja, dan sisanya Chakra yang mengangkatnya ke dalam," kata Bintang.
"Kalau begitu, sekarang kalian pergi cuci tangan dulu, terus makan. Biung akan menemani kalian sampai selesai makan," kata Larasati yang segera dipatuhi oleh Bintang dan Chakra.
Keduanya pun makan dengan lahap ditemani oleh Larasati yang memperhatikan mereka dengan tatapan keibuannya. Kini keduanya telah tumbuh dewasa, dan sebentar lagi akan menikah, lalu memiliki anak.
"Biung sudah makan?" tanya Chakra setelah ia selesai makan.
"Kalau untuk biung, itu urusan belakangan. Yang terpenting kalian makan dan kenyang," jawab Larasati.
"Tapi Biung juga harus makan tepat waktu, atau kami akan merasa bersalah karena Biung selalu memprioritaskan kami, daripada diri Biung sendiri," kata Bintang.
Larasati tersenyum. "Iya, biung akan memperhatikan diri biung juga." Larasati telah membereskan bekas makanan anak-anaknya. "Kalau begitu, biung akan kembali ke rumah. Kalian semangat kerjanya. Sebelum kalian pulang nanti, biung akan menyiapkan kalian makanan yang enak lagi."
Larasati pun berdiri dari duduknya, hendak berjalan pulang ke rumah. Tapi pertanyaan dari Bintang menghentikan langkah kakinya. "Biung, kalau ada empat pria yang menyukai satu orang perempuan, apakah itu wajar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Adiwidya
Romance(SEBAGIAN CERITA DIPRIVAT, FOLLOW SEBELUM MEMBACA) 21+ ADIWIDYA Tidak pernah menyangka jika pertemuan pertamanya dengan keempat pemuda yang ternyata adalah anak-anak dari juragan yang tersohor di desanya akan membuat kehidupan tentramnya menjadi ter...
