Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah satu minggu persiapan untuk menghadapi ujian kenaikan kelas, kini seluruh murid SMA Athala menghadapi hari itu. Hari dimana mereka akan giat belajar untuk memperoleh hasil yang memuaskan, tidak sedikit pula dari mereka yang memilih untuk mencontek dari pada belajar.
Fanny yang tengah serius memerhatikan soal-soal yang berada ditangan kanannya, sesekali gadis itu memijit pelipisnya pelan. Walaupun sudah menginjak hari kedua diadakannya test, Fanny masih merasa bahwa semua soal itu tidaklah mudah.
Terlebih lagi saat Fanny sedang berada di fase malas-malasnya belajar, karena sejak ranking Fanny menurun pada saat duduk di bangku SMP ia mulai malas meraih ranking 3 besar lagi. Ada yang penasaran kenapa ranking Fanny bisa menurun? Karena jatuh cinta.
Ternyata benar yang orang-orang bilang, bahwa sepintar-pintarnya seseorang pasti pernah menjadi bodoh pada waktunya, dan waktu itu saat jatuh cinta.
Fanny tidak menyesali rankingnya yang menurun hanya saja ia menyesali mengapa harus jatuh cinta yang menjadi alasannya.
Kembali berkutat pada lembar soal dan jawaban, Fanny menoleh ke arah jam dinding yang berada dibelakang kelas. Sengaja berada disana agar murid tidak salfok saat jam diletakkan didepan kelas. Karena kelas X IPA 1 duduk bersama XI IPA 1, membuat Fanny hanya bisa diam tanpa mengucap satu patah katapun kepada kakel yang duduk disampingnya. Terlebih lagi kakelnya itu cowok.
Waktu masih tersisa 10 menit namun Fanny sudah tidak lahan lagi untuk keluar ruangan, ia benar-benar tidak nyaman dengan keberadaan kakel cowok disampingnya. Arah pandang mata Fanny kini memerhatikan Alfin yang tengah berdiskusi secara diam-diam dengan Bayu, dalam hati Fanny tertawa.
Bunyi kursi mengalihkan pandangan Fanny yang awalnya berpusat pada Alfin, rupanya kakel yang duduk disampingnya berdiri dan berjalan ke meja pengawas dengan membawa soal berserta lembar jawabnya. Diikuti dengan banyak orang lainnya di dalam ruangan itu, karena mapel ini adalah mapel terakhir yang diujikan dihari kedua itu.
Lantas Fanny ikut mengumpulkan karena ia juga harus bergegas ke ruangan dimana Naya ujian, sebab Naya ujian dilantai 3 sedangkan Fanny berada dilantai 2. Saat keluar ruangan, suara Raina mendominasi di indra pendengarannya. Fanny berjalan mendekati gadis itu hanya ingin menyapa sebentar sebelum menuju Naya.
"Kenapa Rain?"
"Gini ya kalau test, semua temen langsung aja tiba-tiba jadi tuli." Raina mencebik kesal namun justru mengundang tawa Fanny, rupanya Raina tengah kesal tidak bisa mencontek.
"Yaudah sih Rain belum tentu juga kalau lo tanya jawabannya dan dia jawab, jawabannya bener kan belum pasti mending ngerjain sendiri aja karena kita nggak mungkin bisa bohong sama diri sendiri."
Fanny tersenyum membuat mata Raina berbinar.
"Lo bener ya Fan yaudah deh besok gue milih ngerjain sendiri aja." Ucap Raina dengan bangganya kemudian Fanny menepuk bahu gadis itu seolah memberikan semangat.