Ingatlah, hidup itu indah jadi semua hal, bahkan kesedihan sekalipun adalah sebuah keindahan. Tidak ada seorangpun yang bisa menapik fakta itu.
🎥🎞️🎥
"Baiklah, untuk perwakilan sekolah kali ini akan diwakili oleh Harmoni Sakura!" ucap kepala sekolah Oxfrod High School.
Beberapa anak bertepuk tangan sedangkan sisanya menatapnya iri.
Setelah beberapa acara, pengumuman dadakan pagi hari itu pun selesai.
Harmoni langsung melangkahkan kakinya ke salah satu taman yang selalu sepi. Dia menyandarkan dirinya ke batang pohon lantas memejamkan matanya, mulai berimajinasi tentang puisi yang akan ia bacakan di EHSOO beberapa hari lagi.
Kau adalah kenangan
Yang menuai lentera
Apakah ada duka
Dibalik senyum ceria?
Wahai matahariku
Tolong dengarkan aku
Kan kuobati lukamu
Tolong percaya padaku
Harmoni mengernyitkan dahi, lantas menggelengkan kepalanya. Ia mencoret silang besar di halaman itu lantas beralih ke halaman berikutnya.
"Kenapa dicoret?" tanya seseorang dari balik pohon.
Harmoni terlonjak kecil, terkejut. Refleks ia menoleh ke si pengganggu. Minerva.
"Kupikir siapa. Kau mengagetkanku, Minerva," ucap Harmoni.
Minerva terkekeh. Dia lalu duduk di samping Harmoni. Kamera digital kecil berwarna hitam ia simpan kembali ke saku seragamnya.
"Puisi yang tadi cukup bagus loh. Kenapa gak pakai yang itu aja? Pertunjukannya tinggal 3 hari lagi 'kan?" tanya Minerva.
Harmoni menggeleng. "Gak, ah. Aku gak PD," jawab Harmoni.
Minerva menepuk pelan dahinya, sedikit frustasi menghadapi sifat pesimistis akut milik Harmoni.
"Tapi aku tadi lihat kamu bahagia pas nulis. Jadi kamu pasti suka yang itu kan?" tanya Minerva lagi.
"Kamu tidak layak bahagia!" raung seseorang kepadanya.
Sinar di mata harmoni kian meredup. Benar, dia tidak boleh bahagia jadi dia tidak boleh membacakan puisi yang disukainya.
Minerva mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah harmoni saat menyadari bahwa gadis itu tengah melamun. "Yuhuuuuu. Harmoni? Harmoni? Are you oke?" tanyanya sedikit cemas.
Suara Minerva menyadarkan Harmoni yang larut dalam pikirannya.
"Ah? Iya?" sahut harmoni, linglung.
Minerva menepuk kedua bahu Harmoni. "Dengar, puisi buatanmu tadi itu sudah bagus jadi jangan diganti, ya. Meskipun sedih tapi puisi itu mengandung kebahagiaan jadi gunakan, ya!" dukung Minerva.
Harmoni tertegun sejenak. "Kenapa?" tanya lirih. "Bukankah kesedihan itu tidak indah? Bukankah kesedihan itu sakit?"
Minerva mengerjapkan matanya sekali lantas tersenyum semakin lebar. "Iya, kesedihan itu menyakitkan," jawabnya dengan nada sendu sambil menatap langit yang mulai kelabu, tanda hujan akan turun. "Namun, Harmoni. Kau harus ingat satu hal," ucapnya sambil menatap kedua mata segelap malam milik Harmoni. "Hidup itu indah jadi semua hal, entah itu kebahagiaan ataupun kesedihan, adalah hal yang indah karena keduanya adalah bagian hidup. Setidaknya dari kesedihan kita belajar menghargai sesuatu yang layak diraih. Sudah, ya. Aku pergi dulu." Tepat setelah berkata demikian, ia pergi dari sana.
Harmoni mengerjapkan matanya, sedikit terkejut mendengar kata-kata Minerva. Ia lalu menunduk melihat puisi yang tadi ia coret. "Kesedihan itu indah?" beonya. Ia tersenyum kecil, bangkit dari tempat duduknya lantas berjalan menuju asrama. Yeah, mungkin tidak salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinematografi
Teen FictionDaily update Ini tentang seorang gadis bernama Minerva Sachs. Seperti namanya, Minerva amat menyukai seni terutama fotografi. Baginya dunia itu indah, tidak peduli dilihat dari sudut pandang manapun. Pribadinya yang ramah dan sopan ditambah status s...
