Topeng

7 3 0
                                        

Sejak saat itu Minerva belum melihat Galuh lagi. Dia bahkan pernah sengaja menginap di kamar Harmoni, yang diterima dengan canggung oleh gadis itu, demi memastikan apakah ada hubungan khusus antara Harmoni dan Galuh. Dan hasilnya nihil, ia tidak menemukan bukti apapun. Juga pemuda itu tidak pernah datang kembali. Akhirnya Minerva mengambil kesimpulan bahwa malam itu kebetulan Galuh berada di kamar Harmoni hanya untuk menenangkan gadis itu, bukan karena hal lain.

Sebenarnya Minerva masih penasaran akan kejadian malam itu. Harmoni memang penyendiri dan sering di bully oleh siswi lain namun ia tidak pernah melihat Harmoni setakut malam itu. Seakan-akan ada sebuah teror yang tidak bisa gadis itu tanggung.

"Hei, Minerva. Kenapa melamun?" tanya Queen, teman satu kelasnya. Kebetulan kelas mereka belum dimulai, entah kemana para guru yang biasanya selalu disiplin itu.

Minerva mengerjapkan matanya. "Entahlah, aku hanya bosan," dustanya.

Queen tidak bertanya lebih jauh lagi. Mereka berdua akhirnya memperbincangkan hal lain. Mulai dari para guru yang menyebalkan, fashion, serta beberapa idol yang tengah hits di kalangan remaja.

"Omong-omong, apa kau akan ikut berpartisipasi dalam pameran amal minggu besok, Minerva?" tanya Queen.

Minerva mengingat-ingat tentnnag pameran yang dimaksud oleh temannya itu. "Maksudmu pameran amal yang diadakan untuk memperingati hari anak internasional?" tanya Minerva.

Queen mengangguk pasti. Ia lalu menopang dagunya. "Kau pasti terpilih sebagai ketua panita penyelenggara tahun ini, Minerva. Habisnya tidak ada yang sanggup mengalahkanmu dalam fotografi. Bahkan pengetahuan dan kemampuanmu nyaris mengalahkan guru fotografi kita," celetuknya.

Miernva tersenyum penuh kebanggaan. "Ah, kau terlalu berlebihan, Queen," balasnya dengan nada merendah sembari tangannya memperbaiki poninya yang sedikit berantakan.

"Oh, ayolah, Minerva. Semua murid juga setuju jika kau yang paling pantas menjadi ketua penyelenggara. Apalagi untuk memilih foto mana yang akan dipajang. Seleramu tidak pernah mengecewakan," imbuh Queen dengan mata mengerling, bermaksud menggoda Minerva.

Minerva tertawa, tidak dapat menampik bahwa ia juga menginginkan posisi itu. Mungkin itu akan jadi hal yang melelahkan tapi ia tidak peduli. Baginya fotografi adalah segalanya. Dia rela memberikan semua waktunya untuk fotografi.

Mereka lalu melanjutkan perbincangan. Saat mereka asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara pengumuman di speaker sekolah.

"Kepada Miss Minerva Sachs dan Miss Harmoni Sakura, harap segera menuju kantor Kesiswaan. Terimakasih."

Minerva dan Queen saling tatap.

"Padahal baru saja dibicarakan. Selamat berkerja keras, ya, Ketua," candanya.

Minerva tertawa. Ia lalu bangkit dan menuju bangku harmoni yang berada di pojok kelas.

"Ayo," ajaknya.

Harmoni mengangguk. Keduanya lalu pergi menuju kantor Kesiswaan. Sesampainya disana, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun sudah menunggu.

"Miss Sachs dan Miss Sakura, silakan duduk," ucapnya ramah. "Mau teh?" tawarnya.

Minerva dan Harmoni tersenyum sopan. "Terimakasih, Mrs Cho."

Mrs Cho lalu menuangkan dua buah cangkir teh dari teko yang baru saja mengepul.

Sejenak keduanya saling menyesapi minuman mereka.

Harmoni sedikit terbatuk. Rasa teh yang terlalu kuat tidak cocok baginya. Berusaha tidak menarik perhatian, ia pun menaruh cangkir teh miliknya.

Sinematografi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang