Kaki Harmoni membawa gadis bermata sayu itu ke sebuah ruangan yang amat dia hindari di sekolah ini.
Menghela napas, gadis itu mengetuk pintu berukiran sederhana tersebut. "Saya Harmoni Sakura," ucap Harmoni.
"Masuk," perintah suara yang berasal dari dalam.
Harmoni membuka pintu itu. Di ruangan ukuran 3x3 meter itu tampak seorang guru pria berusia sekitar 30 tahun. Tatapannya yang tegas dan terkesan mengancam membuat nyali siapapun ciut.
"Silakan duduk, Miss Sakura. Dan tolong tutup pintunya," ucap guru itu dengan nada dingin.
Menelan salivanya, Harmoni melangkah masuk lantas menutup pintu.
"Jadi," ucap guru tersebut setelah Harmoni duduk di tempatnya. "Apakah anda punya alasan yang bagus agar saya tidak mengurangi poin anda, Miss Sakura?" tanyanya dingin.
"Tidak, Mr," jawab Harmoni pelan.
Guru pria itu mengangguk. "Baiklah, aku akan mengurangi 30 poin untukmu. Berdoalah agar poinmu mencukupi, Miss Sakura. Silakan pergi."
Harmoni mengangguk sopan. Dirinya lalu pamit pergi.
Setelah keluar dari ruangan paling horor di sekolah itu, Harmoni langsung memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri.
Benar-benar buruk. Total poin untuk beasiswanya hampir mendekati batas bahaya.
Frustasi, gadis itu memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Setidaknya disana cukup tenang.
Sesampainya di perpustakaan, Harmoni langsung mengisi daftar masuk dan mencari ke bagian flora dan fauna.
Jemari lentiknya menyusuri jajaran buku yang tertata rapi hingga akhirnya ia tidak sengaja melihat sebuah judul buku. Arti dan bahasa bunga-bunga di dunia. Penasaran, Harmoni mengambil buku itu.
Duduk di tepi jendela bagian paling belakang menjadi sebuah kebiasaan bagi gadis itu. Disini sangat tenang, jarang yang mau datang. Ditambah ia bisa melihat taman yang dipenuhi daun-daun musim gugur dengan leluasa lewat jendela besar yang ada di sampingnya. Sungguh suasana yang nikmat.
Jemari lentik Harmoni membuka lembaran buku yang diambilnya itu, langsung menuju ke alfabet P.
Setelah mencari cukup lama, ia pun menemukan bunga yang ia cari.
Primrose, bunga cantik berlambang cinta abadi.
Dahi Harmoni bertaut. Mungkinkah orang yang mengirimkan surat dengan yang mengirim bunga berbeda?
Harmoni membaca lagi surat yang tadi ia terima.
Kepada Harmoni Sakura.
Saat bulan bersinar, berada dalam dekapan sang pangeran. Sungguh indah, bukan?
Jelas jika si penulis surat mengetahui kejadian itu tapi apa untungnya dia diancam? Jika ingin membully, seharusnya dia langsung datang dan membullynya, kan? Kenapa perlu mengancamnya segala?
Pusing memikirkan hal yang tidak perlu, Harmoni pun menutup buku tersebut dan memilih menatap hamparan taman yang diselimuti daun-daun khas musim gugur.
Indah ....
Lain halnya dengan Harmoni, seorang pemuda tengah mondar-mandir di kamar asramanya. Wajahnya yang gelisah membuatnya seperti seorang pria yang sedang menunggu kelahiran anaknya.
Aldenio berdecak kesal. Ia pun melempar sebuah gumpalan kertas ke arah sang sahabat. "Muter aja kek kincir angin Lo!" ketusnya.
Galuh menatap sahabatnya itu dengan sinis. "Bantuin mikir kek. Lo jadi temen gak peka amat, Al," ketusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinematografi
Teen FictionDaily update Ini tentang seorang gadis bernama Minerva Sachs. Seperti namanya, Minerva amat menyukai seni terutama fotografi. Baginya dunia itu indah, tidak peduli dilihat dari sudut pandang manapun. Pribadinya yang ramah dan sopan ditambah status s...
