Padahal kita tahu jika semua manusia itu sama. Sama-sama ingin diakui, sama-sama ingin dihargai tapi kenapa sesusah itu mendapat sebuah pengakuan tulus?
🎥🎞️🎥
"Harmoni, apa kau ada waktu?" tanya seorang temannya yang berasal dari kelas lain.
Harmoni menatap gadis berkacamata itu. Dia tidak mengenalnya tapi setidaknya Harmoni tahu jika mereka satu angkatan.
"Ada apa?" tanya Harmoni balik.
Gadis itu memperhatikan harmoni yang membawa beberapa buku tentang pameran foto dan fotografi. Tatapannya lalu jatuh pada seragam di bagian lengan atas. Disana tampak bekas sobekan yang cukup lebar walaupun masih bisa ditutupi dengan rambut.
"Seragammu robek. Sebagai anggota Parlemen Siswa, seharusnya aku menghukummu dengan memberi pengurangan poin tapi ...." Gadis itu mengehela napas saat sudut matanya menangkap kode dari seseorang yang tengah bersembunyi. "Bisakah kau ikut saja denganku? Aku tahu cara memperbaikinya," bisiknya sangat pelan.
Harmoni terdiam. Cobaan apa lagi ini? Tidak cukupkah para senior tingkat tiga itu membullynya di kamar mandi tadi?
"Kau punya waktu tiga detik untuk memutuskan, Anak Miskin," ucap gadis itu dengan suara dipelankan pada dua kata terakhir.
Tidak mau mendapat pengurangan poin yang akan berpengaruh pada beasiswanya, Harmoni memutuskan untuk mengikuti gadis tersebut.
Mereka mendaftarkan buku tersebut di meja pustakawan sebelum pergi ke arah asrama.
"Masuklah, Harmoni," ucapnya sambil membukakan pintu kamarnya.
Dengan ragu Harmoni memasuki kamar itu.
Tidak ada bedanya dengan kamar asrama yang ia tempati kecuali dekorasi dan jejeran furniture serta barang bermerk di sekeliling ruangan.
"Silakan duduk, Harmoni. Tolong lepaskan blazermu," ucap gadis tersebut.
Harmoni menurut. Ia melepaskan balzernya yang robek dan menaruhnya di atas meja.
Tak lama kemudian gadis itu duduk di hadapannya dengan membawa beberapa makanan dan minuman ringan serta sekotak peralatan menjahit.
Setelah mempersilahkan Harmoni untuk minum, ia pun mulai menjahit seragam gadis itu.
"Sepertinya kau belum tahu namaku meskipun kita seangkatan ya, Harmoni?" tanya gadis tersebut sambil tetap fokus menjahit.
"I-iya," balas Harmoni dengan pandangan menunduk.
Sekilas gadis itu meliriknya sinis. "Aku Miracle Van Dijk, putri tunggal Johan Van Dijk, pengusaha kain sutra ternama di Eropa timur. Kau tentu pernah mendengar tentang perusahaan Eldemore, bukan?"
Harmoni mengangguk sebagai balasan. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan ini serta motif Miracle.
"Jujur saja, aku kaget karena kau terpilih menjadi Ketua Koordinasi Tata Letak Ruang. Selamat, ya," ucapnya lantas memberikan balzer Harmoni.
"Terimakasih," balas Harmoni kaku.
Harmoni menerimanya namun Miracle menahannya. "Tapi jangan besar kepala. Apa kau tahu jika diam-diam Minerva menangis? Kau mungkin tidak sadar tapi dia sudah menantikan kesempatan ini sepanjang tahun dan kau, gadis miskin yang beruntung, malah mengambil posisi yang seharusnya ia emban," bisiknya tepat di samping telinga Harmoni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinematografi
JugendliteraturDaily update Ini tentang seorang gadis bernama Minerva Sachs. Seperti namanya, Minerva amat menyukai seni terutama fotografi. Baginya dunia itu indah, tidak peduli dilihat dari sudut pandang manapun. Pribadinya yang ramah dan sopan ditambah status s...
