Pemuda aneh itu bernama Acacio Pearl

7 2 0
                                        

Minerva melangkahkan kakinya keluar area sekolah. Tidak ada yang memperhatikannya, tentu saja. Karena sekarang sekolah sedang terbuka untuk umum, semua siswi bebas keluar-masuk sebelum tiba jam malam.

Gadis berambut pirang pekat itu tidak tahu harus pergi kemana, ia hanya mempercayakan tujuan kali ini kepada kakinya. Hatinya bergemuruh menahan amarah.

Berani-beraninya! Seru Minerva dalam hati. Dia tidak habis pikir tentang tuduhan Galuh. Ah, mengingat hal itu membuat emosinya kian naik.

Akhirnya langkah kakinya  berhenti di sebuah taman. Taman itu tidak luas, juga tidak kecil dan menghadap sebuah sungai berukuran sedang.

Ramai. Banyak pasangan baik muda maupun tua yang tampak menikmati hari mereka, bergandengan tangan atau sekedar duduk bersama sembari memberi makan merpati liar.

Satu kata untuk  tempat ini. Tenang. Hal yang amat Minerva  butuhkan.

Akhirnya Minerva duduk di salah satu bangku yang menghadap sungai. Di sungai itu tampak beberapa orang tengah berenang.

Mungkin untuk suatu perlombaan. Batin gadis itu.

Sejenak ia berpikir apakah mereka tidak kedinginan berenang di sungai saat musim gugur seperti ini namun pikirannya teralihkan saat mendengar suara minta tolong yang berasal dari arah hulu sungai. Refleks Minerva bangkit dan berlari ke sumber suara namun hal yang tak ia duga lah yang ia lihat.

Seorang pemuda, mungkin sepantarannya, tengah berlari ketakutan sambil berteriak meminta tolong. Di belakangnya tampak dua ekor angsa mengejarnya, tampak marah dan berusaha mematuk kaki pemuda itu.

Tawa Minerva seketika pecah. Dia tidak menduga jika masih ada orang yang takut pada hewan cantik yang menjadi lambang cinta itu.

Ditertawakan oleh gadis cantik tentu bukan hal yang membanggakan. Namun apalah daya, angsa-angsa itu masih saja terus mengejarnya tanpa ampun.

Beruntung petugas taman melihatnya sehingga angsa-angsa itu dikembalikan ke habitatnya. Namun tragis, sudah dikejar angsa, dirinya dituduh telah mengganggu hewan cantik itu oleh petugas taman.

"Saya tidak mengganggu mereka, Sir!" protes pemuda itu kesal. "Angsa-angsa itu sendiri yang mengejar saya. Padahal saya hanya duduk di tepi sungai memperhatikan mereka," imbuhnya sambil menunjuk ke arah orang-orang yang sedang berenang.

Setelah beberapa interogasi, akhirnya pemuda itu dibebaskan dengan sebuah surat peringatan.

Tawa Minerva kembali pecah, bahkan lebih keras, saat melihat wajah sebal pemuda itu. Menurutnya itu sungguh lucu.

Sadar dirinya ditertawakan, pemuda situ pun ikut tertawa canggung.

Akhirnya setelah beberapa saat, Minerva berhasil menguasai tawanya. "Sorry, sorry. it's very funny. I had never seen a frightened teenage man chased by wild geese," jelasnya dengan sisa tawa.

"Hahaha, tidak apa-apa kok." Pemuda itu menatap wajah Minerva. Cantik. "Aku senang kau bisa tertawa karena tadi aku lihat kau murung sekali."

Minerva menatapnya bingung.

Pemuda itu buru-buru mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah. "Bukan, bukan. Aku bukan menguntitmu. Aku baru memperhatikanmu saat kau memasuki area taman dan, dan aku tidak takut pada angsa! Hanya saja jika dipatuk akan terasa sakit jadi aku berusaha menghindar. Eh, apa kau suka dengan angsa? Aku tahu tempat yang biasa mereka datangi, Nona ...?" Pemuda itu memandangnya bingung. Rupanya dia baru sadar jika sedari tadi dia mengoceh tanpa mengenal nama orang yang dia ajak bicara.

Minerva menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tawa. Pemuda ini benar-benar lucu.

"Kau terlihat manis saat tertawa, Nona," kata pemuda itu lantas duduk di bangku taman terdekat.

Minerva mengikutinya. "Oh, ya? Kau juga lucu saat dikejar-kejar angsa tadi," balas Minerva.

Pemuda itu menatapnya separuh kesal. Ia lalu mengulurkan tangannya. "My name is Acacio Pearl. You can call me Cio. How do you do."

Minerva membalas uluran tangan tersebut. "My name is Minerva Sachs. You can call me Minerva. How do you do."

Sejenak hanya hening yang ada diantara mereka. Hingga akhirnya Cio mengajak Minerva jalan-jalan di sekitar pertokoan.

Minerva mengiyakan. Mereka lalu pergi berjalan-jalan.

"Omong-omong, Minerva itu berasal dari bahasa Etruska, kan? Jika tidak salah artinya Dewi seni, Mernva," celetuk Cio.

Minerva mengangguk. "Benar. Acacio sendiri berasal dari bahasa Yunani, bukan? Jika tidak salah artinya terhormat."

"Tentu saja. Suatu kehormatan bisa berteman dengan seorang Dewi dan juga, kehormatan adalah aku dan aku adalah kehormatan," narsisnya.

Minerva tertawa, lagi. Entah kenapa tindakan pemuda itu mudah sekali membangkitkan tawanya.

Tak terasa waktu sudah mencapai sore hari.

Minerva mampir sejenak ke sebuah toko kue dan membeli sebuah cheese cake.

"Jadi, kau sekolah disini, Minerva?" tanya Acacio saat mereka tiba di depan gerbang OHS.

Minerva mengangguk. "Terimakasih atas waktunya, Cio." Setelah berkata demikian, Minerva melangkah masuk ke area sekolah.

"Nanti kuhubungi, ya!" seru Acacio.

Minerva mengacungkan jempolnya tanda setuju.

Cio terus memperhatikannya. Bahkan setelah gadis itu tidak terlihat lagi. "Menarik. Dewi seni yang kehilangan seninya," gumamnya samar lantas berbalik pergi.

Sementara itu, Minerva baru saja tiba di Ruang Kesehatan. Galuh masih disana, itu artinya Dokter Pretty berhasil mendapatkan izinnya. Namun yang membuat Minerva terkejut adalah Harmoni.

"Harmoni? Kau sudah bangun?" tanyanya separuh tidak percaya separuh senang.

Galuh memandangnya jijik.

Mengabaikan Galuh, Harmoni menatap Minerva ragu. "Minerva, aku-"

Minerva langsung memeluknya, membuat Harmoni terkejut.

"Minerva?" panggilnya bingung.

"Maaf. Aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud, Harmoni," bisik Minerva tulus. Dia melirik ke arah Galuh beberapa detik lalu menyerahkan kotak kue yang tadi ia beli kepada Harmoni. "Kesukaanmu. Makanlah. Aku pergi dulu, Harmoni, Mr Aldebaran." Setelah itu dirinya langsung pergi dari sana, tidak membiarkan Harmoni melontarkan pertanyaan.

"Eh?" Harmoni mengerjapkan matanya, bingung.

Sedangkan Galuh tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu menatap layar ponsel yang tadi ia gunakan untuk mengetikkan teks yang  tadi dibaca oleh Minerva saat gadis itu menatapnya.

DASAR ULAR TOPENG.

Sinematografi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang