pernah dengar kalau remaja era globalisasi bakalan keambil ciuman pertamanya sebelum ber usia 17 tahun ?, bener gak sih ?
gak cuma kalian, Alana pun merasakannya. apa ? tidak, justru dia kehilangan keperawanan bibirnya saat ber usia 16 tahun. terla...
hujan-nya masih deras. kayaknya aku pulang telat lagi. hft.
dady janji mau jemput sebenarya, tapi entah sudah 15 menit yang keberapa kali-nya semenjak 2 jam lalu. Dady cukup sibuk. tidak, dia memang selalu sibuk. Dady mmrngurus banyak pekerjaan yang aku tahu.
dia, Dady, mengurus perusahaan percetakannya, sekaligus memipin yayasan kampus. jadi bisa di bilang, memang pantas dia cuma punya waktu sedikit. tapi haruskah aku menunggu banyak 15 menit hariini hanya untuk di jemput ?
"jadi, gamau pulang apa gimana neh, heh ?"
aku terperanjat saat suara berat itu terdengar cukup keras di telinga kiri ku.
"nggak, tuh. aku nunggu Dady jemput "
"mau berapa lama lagi ? gue ada di ujung kantin tuh disitu daritadi. merhattin lo, cuma diri disini. merhatiin air turun, gak jalan-jalan. gacapek ?"
"gak ada yang minta kamu perhatiin. jadi aku ga merasa keberatan juga, tuh "
aku mengacuhkannya setelah itu. dia masih di sebelahku, menatapku dengan gemas, aku bisa merasakannya. mungkin menurutnya aku keras kepala. tapi memang nyatanya aku gak minta di lihatin, tuh.
"yaudah, gue minjem powerbank, deh. boleh gak ?" kini wajahnya mendekat ke arah pipi ku. aku meliriknya sekilas. dan dengan segera mendorong pipinya untuk menjauh.
"aku nggak bawa, kan di krlas ada colokan"
"apaan tuh colokan ? beneran gak bawa nih ? HP gue mati banget nih, Ser. mau ngabarin cewek gue nih kasian"
"aku gak bawa Dev. yauda nih pake handphone ku aja. nanti cewek kamu nyariin. "
aku menyerahkan ponselku padanya. lelaki itu hanya terkekeh geli, dan meraih ponselku segera. tanpa kata kata yang ia ucapkan setelah meraih ponselku, dia mengetik beberapa kata dan mengirimkan pesan itu, ke.. cewek nya ?
tangannnya bergerak, mengembalikan ponselku. aku menjulurkan tangan untuk meraihnya, sampai akhirnya ia menarik kembali tangannya dan tersenyum. kembali menghidupkan ponselku, dan mulai mengetik sesuatu yang tidak bisa ku duga. dan lagi, mengembalikan padaku setelahnya.
"nih, gue pake pulsa lo 200 perak. didalem situ, ada nomer gue. kali kalilo minta di ganti 200 peraknya, hubungin aja nomor gue. makasih ya"
"aku masi punya pulsa sisa yang bisa kamu pake buat 'sms-an' sampe 1 bulan,Dev. jadi, thanks aku gak minta ganti" aku mengalihkan pandanganku lagi.
"pokoknya nama gue disitu 'devan paling ganteng'. duluan ya Ser. hati-hati"
seperti malam biasanya, aku gak bisa 'hang-out' kayak anak muda lainnya. semenjak semuanya tumbuh dan berkembang di diriku. membosankan.
aku menoleh, menatap jam dinding ku yang ber denting. memecah kesepian ku seperti biasanya.
"Miss Sera ? bibi masuk ya?"
ketukan pintu yang sudah familiar sejak 5 tahun lalu.
sejak 5 tahun lalu. setiap pukul 20.00. Bi Anjen mulai datang ke kamar ku, membawakan segelas air mineral dengan sebutir pil berwarna biru cerah di atas sebuah piring kecil. yang kemudian akan ia letakan di atas meja di sebelah ranjang tidur ku, duduk sebentar di samping tempat tidurku, menunggu ku menenggaknya. dan pergi kemudian detik.
"hm.. boleh"
Bi anjen masuk, tentu membawa apapun yang aku katakan barusan.
"Dady ? pulang, Bi?"
Bi anjen hanya membuang pandangannya, memudarkan senyumnnya sepersekian detik dan akhirnya menatapku lagi dengan senyuman.. yang di paksa.
bibirnya membuka, berusaha berucap. ucapan bohong lainnya yang sudah aku hafal.
"Tuan.."
selalu di mulai dengan kata 'Tuan'. panggilan hormatnya untuk Dady.
"Sekarang yang rambutnya pirang atau hijau ?"
Bi Anjen terbelalak menatapku. dan kini tatapannya berubah. menjaditatapan... mengasihani mungkin ?
aku mengalihakan pandanganku pada pil berwarna biru di atas piring yang ia bawakan untuk ku. meraih gelas ber isi air mineral dan mulai menenggak keduanya.
Bi Anjen masi menatapku. kini dengan tatapan 'tak-enak'
"aku gak marah sama Bibiyang berusaha menutupi kesalahan dan kebiasaan buruk Dady, kok. aku tau maksud Bibi baik. makasih ya bi"
"Miss, Bibi ndak bermaksud buat ndak jujur. bibi cuma.."
"mungkin Tuhan kasih aku sakit sakitan buat balas dosa Dady. andai Dady mau berubah, mungkin aku gak akan selama ini sakit bi. 2 tahun lamanya, kanker tulang yang aku rasain makin nyusahin diri aku sendiri, bi. lebih baik aku mati beberapa tahun lebih awalkan, daripada aku ngerasain sakit selama 2 tahun, ya bi ? atau.. keajaiban yang paling mustahilnya.. aku sembuh. mimpi aja hahaha" aku tersenyum miris setelahnya.
Bi anjen bergerak, meraih kepalaku dan mengusapnya lembut.
"Miss, jangan bicara gitu, toh. Dady gak jahat se utuhnya. Dady pasti tetep sayang sama Miss Serra. buktinya dia masih fokus kerja juga,kan. sabar ya Miss. Miss punya Bibi. "
"maksih banyak ya, Bi" aku memeluknya.
siapa lagi ? aku cuma punya Bi Anjen. semuanya selalu menjadi lebih baik saat aku memluknya.
Eomma sudah pergi 3 tahun lalu. semanjak itu. cuma Bi Anjen yang bisa memeluk segala keluh kesahku. bahkan, Bi anjen lah orang yang paling semangat buat dengerin cerita ku soal ospek hari ini. bukan, Bukan Dady.
tapi sebaik-baiknya, seperhatian apapun Bi Anjen.. aku tetap butuh orangtua ku. orangtua kandungku, bukan ?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Serraaa!!! Duh duh.. kok bisa cewek secantik ini hari hari di rumahnya menyedihkan ? Sebenernya papanya Serra kenapasih ?!?! Lanjut ceritain gak nihh ?? Komen yang banyak ya !!