Point of View : Alana
"Mandra !!! Aku mau ! Akukan udah bilang itu potongan terakhir ! Bisa gasiiiii!!!!"
"Kamu lama, Na. Abang laper, berisik ih!"
"Aku udah bilang Momy, abang ambil
Baru aja goreng lagi! Ih, Mandraaaaa!!"
Hap! Habis sudah Nuget keju potongan terakhir yang Momy goreng. Aku benci Mandraaa !
Aku mendengus kesal, menatap tajam kearahnya, yang malah sekarang lagi cengengesan
. Andai bisa ngutuk orang!
"Apasih ? Berantem aja ! Kamujuga sih Ndra, Alana baru makan sedikit itu, gorengin lagi gih "
"Mom, anak cewe gaboleh makan banyak-banyak. Gendut dia nanti!"
"Diandra, buruan buatin dulu. Ngambek lhoh dia, buruan"
Aku menang ! Mandra menatapku tajam selagi aku tertawa terbahak - bahak melihatnya merangkak dengan malas kearah dapur, untuk menggoreng nugget keju yang di tujukan untuk ku.
Aku masih mengunyah beberapa potongan sosis di piring sambil mendengarkan lagu lewat Airpods ku, juga sambil nunggu Mandra masak tentunya. Sampai akhirnya Momy menarik 1 Airpods ku di sebelah kiri dan berbisik ,
"Ada Devan, Na"
Aku menoleh kearah pintu setelahnya, dan mendapati Devan yang sudah masuk, membawa beberapa plastik kecil, yang mungkin isinya Camilan ?
Entahlah, pokoknya plastik yang dia bawa berlogokan sebuah logo minimarket.
"Cayaaank!" Teriaknya
Teriak Devan, tentu.
Aku tersenyum, bersemangat hendak berjalan ke arahnya, sampai akhirnya aku mendengar suara Mandra yang menjawab ucapan Devan
"Ihh Devan cayankk!!"
Aku menoleh kearah Mandra dengan sinis, melihat ekspresinya yang sedang mencela, dan dia tertawa setelahnya.
"Geli" celetuk ku, otomatis
"Oi bang, tuan putri minta apa ?"
"Biasa dev, nugger keju momy, unch unch"
Bisa bisanya ngeledekin orang langsung didepan orangnya, fikirku.
Devan terkekeh mendengar ucapan Mandra, dan beranjak mendekat, duduk di sebelah ku.
"Ospeknya gimana, Dev?"
Tanya Mandra basa basi
"Oke, bang. Standar. Ga nyiksa untungnya"
"Bagus deh, kampus lo gue denger denger ya, katanya nih, setiap ospek suka ribet" jawab mandra, sambil mengunyah
"Enggak sih, standar. Mungkin udah berubah cara mainnya"
"Sukur deh. Minggu futsal yok? Gue gaada acara nih, Dev"
"Boleh tuh bang, lo ajak cewek lo ga ? Kalo ajak, Alana ikut aja, ya ? Sayang ?"
Aku menoleh, hendak meng-angguk, setuju.
"Alana dirumah ajalah, ya Na ? Abang ga fokus denger orang teriak teriak" ucapnya usil, sambil mengacak acak rambut ku
"Abang aja lemah mainnya" jawabku singkat
"Abang bakar nih nuggetnya ngejawab mulu"
Aku menjulurkan lidah kerahnya dan segera beranjak ke arah Burner untuk mengambil beberapa nugget yang sudah matang ia masak.
Mandra beranjak, berjalan ke arah Devan dan duduk di sebelahnya. Membicarakanbanyak hal random ala lakilaki biasanya. Mereka dekat, mengingat aku dan Devan sudah berpacaran sejak lama. Bahkan, Ayah dan Momy juga gak pernah ke beratan untuk kedatangan Devan dirumah. Mereka udah saling kenal. Devan baik kata Momy.
KAMU SEDANG MEMBACA
first love, first kiss
Teen Fictionpernah dengar kalau remaja era globalisasi bakalan keambil ciuman pertamanya sebelum ber usia 17 tahun ?, bener gak sih ? gak cuma kalian, Alana pun merasakannya. apa ? tidak, justru dia kehilangan keperawanan bibirnya saat ber usia 16 tahun. terla...
