Benar saja yang menelpon adalah Mina.
Yah biasanya Mina yang menelpon karena ia adalah Ketua osis dan Sana sebagai Wakil tentunya harus melakukan kewajibannya untuk membantu Mina.
Mina menelpon untuk menanyakan tentang kegiatan kegiatan yang akan dilaksanakan dan tentunya banyak sekali yang harus dipersiapkan. Sungguh meresahkan!
Lihat saja seperti ini. Menjadi wakil sangat membebankan. Bagaimana kalau nantinya ia menjadi Ratu.
Sudah waktunya untuk Sana pergi agar tidak terlambat karena sekolah itu bukan milik Sana jadi ia tidak bisa seenaknya. Sekolah itu milik Dahyun namun Dahyun tidak terpilih dalam anggota osis karena ia tidak mau tentunya.padahal ayahnya memaksa namun dengan keras ia menolaknya.
Sana sedikit iri dengan Dahyun yang bisa memilih kebebasannya meskipun agak sedikit keras namun tetap saja Dahyun lebih beruntung daripada dia. Sana hanya berharap suatu hari ia akan menikah dengan Dahyun sebagai rakyat yang biasa biasa saja. Tidak perlu menjadi orang yang berpengaruh atau kaya.
*
"Sana-sshi" panggil seseorang kepada Sana dan membuat ia berbalik menghadap pada sumber suara tersebut.
"Bisakah kau membantuku?" inilah mengapa orang orang selalu memanggil dia sempurna. Sana tidak bisa untuk menolak. Itu prinsipnya kecuali untuk menjadi Ratu,jika ia memiliki pilihan untuk menolak maka ia akan menolak.
"Tentu saja Jihyo,apa yang bisa kubantu?" Kata Sana sembari melempar senyum ke lawan. Senyum Jihyo merekah." Bisakah kau membantuku membereskan gudang,maksudku aku tahu ini bukan pekerjaanmu tapi para osis yang seharusnya mengurus hal ini yang lain sedang absen dan yang lain memiliki urusan" Ekspresi Jihyo seperti benar benar membutuhkan bantuan,membuat Sana tidak bisa menolak." Nee aku mengerti Jihyo. Sebagai wakil yang baik aku juga harus turut membantu dalam hal apapun yang bersangkutan dengan osis." Senyum terus Jihyo pasang di wajahnya.
Baru saja Sana akan pergi Jihyo menahan lengan Sana. "Jangan lupa saat pulang sekolah,Sana" Sana tersenyum." Tentu saja". Kembali Sana melangkah usai berkata.
Setiap pelajaran yang di lewati Sana terasa seperti biasa saja, tentu saja ia dapat mengerti akan setiap pelajaran karena IQ Sana di atas rata rata seperti Mina. Mereka keluarga bangsawan,semuanya memiliki IQ yang tinggi meskipun ada beberapa yang tidak. Mereka diharuskan untuk beajar dari lahir.
Sungguh susah menjadi keluarga bangsawan.
Akhirnya Sana sampai di depan pintu osis. Sana memang memiliki ruangan khusus bersama Mina dan ruang osis juga adalah ruangan yang berbeda."eoh? Sana-shii kamu sudah datang?" . " nee seperti yang kau lihat". "Oh iya hehe" kata Jihyo sambil menyengir." Jja~ ayo kita pergi". Kata Jihyo." Tunggu sebentar apa hanya kita berdua?". "Nee hanya kita berdua tetapi nantinya ada osis yang akan berdatangan dan membantu saat urusan mereka selesai." Sana mengangguk mengerti namun dalam hati.
'Yang benar saja. Padahal aku yang paling sibuk saat ini! Apa apaan osis disini mereka sangat....-aish sudahlah'
Usai perbincangan basa basi tersebut mereka lantas pergi ke gudang yang berada di belakang sekolah. Dua orang disana menarik perhatian Sana. Surai rambut yang sangat ia kenal,tubuh mungil yang sedikit lebih pendek darinya membuat dugaannya semakin yakin.
Sana lantas memanggil nama orang tersebut. "Dahyun!" Yang di panggil pun membalikkan badannya kepada sumber suara yang memanggilnya. Sana terkesiap sekaligus terkejut karena ternyata Dahyun sedang bercumbu dengan seorang pria?! Hanbin! "Yakk sedang apa kalian? Apa kalian pikir ini dirumah kalian?!" Dahyun bungkam namun tidak dengan pria tersebut."baiklah Dahyun, ayo kita pulang. Kita lanjutkan di rumah saja. Waketos marah kalau disini" Hanbin menarik tangan Dahyun dengan tujuan untuk pergi dari sana namun malahan Sana menahannya dengan cepat."kau tidak boleh membawa pergi milik seseorang. Itu ilegal!" . "Tunggu sebentar mrs. Queen? Dahyun menyukaiku bukan kau lagi pula kalian hanya ber-te-man. So... harusnya aku yang bilang seperti itu"
Sana mendengus kesal karena ada orang yang berani menantang perkataannya. "Aku Sebagai osis disini menghukum kau atas pelanggaran berciuman di area sekolah sekaligus menantang perkataan osis" ."Tunggu sebentar... memangnya ada aturan seperti itu?" Tanya Hanbin. "Nee sunbae-nim" Perkataan Jihyo membuat Hanbin terdiam sementara Sana dengan senyum kemenangannya.
"Hah~ baiklah apa hukumannya?" Hanbin akhirnya mengaku kalah. Well seperti yang dikatakan banyak orang. Perempuan selalu menang dalam perdebatan. "Jauhi Dahyun maka kau bebas". Permintaan Sana sungguh membuat Hanbin shock"What?! Bagaimana bisa osis seperti itu lagipula tidak ada aturan yang berisi seperti itu." Sana menunjukkan smirknya. "Maaf sunbae tapi osis berhak menentukan hukumannnya, sesuai dengan peraturan sekolah nomor-" Baru saja Jihyo mau menjelaskan,Hanbin sudah lebih dahulu memotongnya"aissh sudalah kalian menang. Dahyun, aku pergi dulu" belum sempat Dahyun membalas. Sana langsung menahan tangan Dahyun agar tidak menyusul Hanbin.
"Kau kuhukum untuk membantu osis membersihkan gudang" Dahyun benar benar tidak ingin berdebat saat ini,oleh karena itu ia menuruti perkataan Sana.
Lumayan lama mereka membersihkan gudang tersebut yang berisikan debu dan sarang laba laba yang menempel di setiap sudut ruangan itu sampai saat para osis yang lain mulai berdatangan.
"Jihyo-sshi,osis yang lain sudah datang. Aku dan Dahyun pulang dahulu soalnya kami masih ada urusan" ujar Sana sembari menatap tajam ke arah Dahyun "oh nee baiklah. Terima kasih Sana-sshi sudah mau membantu". "Kapan saja" dengan cepat Sana menarik lengan Dahyun untuk keluar dari sana.
Sampai di dalam mobil barulah Sana melepas genggamannya. "Yakk bisakah kau lembut sedikit! Sakit tau!" Kesal Dahyun karena Sana menggenggam tangan Dahyun dengan sangat erat sampai sampai bekas kemerahan tertinggal disana. "Oh" jawaban Sana membuat Dahyun naik pitam dan jengkel.
Tanpa satu katapun,Sana langsung menjalankan mobil menuju apartemennya. Handphone diambilnya dari saku tas yang ia pakai tadi. Dahyun terlihat bingung saat Sana menekan nekan sesuatu di layar tersebut." Halo?" Kata Sana ke seseorang yang ada di sebrang sana." Nee tuan Kim. Untuk saat ini saya akan meminjam anak anda" perkataan Sana terjeda sedikit menunggu jawaban dari tuan kim. Dalam hati Dahyun berharap agar ayahnya tidak mengizinkan San-" nee tentu saja tuan Kim,saya akan mengantar Dahyun pulang dengan selamat" Dahyun berdecak kesal." Nee. Annyeong" panggilan telah di akhiri.
Sana tersenyum melihat wajah Dahyun yang kesal. Bibirnya di monyongkan atau di pout kan sehingga terlihat sangat imut. "Jangan membuat wajah seperti itu kalau kau tidak ingin di cium" dengan segera Dahyun menetralkan wajahnya usai mendengar ancaman Sana. Sana terkekeh melihat perubahan ekspresi Dahyun.
Sampai di apartemen kembali lagi dengan tarikan kasar Sana membawa Dahyun masuk kedalam apartemen..
Yow im backkkkkkkk
Ada yang kangeng nggak? Aku tau kalian semua kangen xixixi
Pokoknya sorry untuk 2 mingguT_T
Ujianku lumayan susah jadi aku harus penuh dengan persiapan dan.... seperti yang aku janji,kalo nilaiku bagus double up awokawok
Halah pokoknya gitulah bubaiiiiiii
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Queen; silence in the dark[END]
RomanceLikah likuh kehidupan seorang wanita angkuh yang mencoba untuk lari dari kenyataan bahwa ia seorang RATU. Sementara terjebak dalam status itu, ia berusaha untuk mengejar cintanya.
![Queen; silence in the dark[END]](https://img.wattpad.com/cover/243933827-64-k582126.jpg)