Four

563 90 1
                                        

"Kenapa kau membawaku kesini?!" Tanya Dahyun dengan nada sedikit meninggi. "Bukan apa apa" jawaban Sana membuat Dahyun mendecih. "Tidak mungkin jika kau tidak punya alasan membawaku" Sana tersenyum. "Seperti biasa. Kau sangat pintar dubu" Sana mencubit pipi Dahyun karena gemas akannya tidak tahu kenapa.

"Kalau sudah tahu aku pintar cepat katakan. Don't waste my time" dengan tiba tiba, Dahyun memeluk tubuh Sana, membuat yang empunya terkejut akan hal  mendadak yang di buat Dahyun. "Apa perlu aku seperti ini agar kau akan bicara?". Sana terkekeh."geureom, kau harus melakukan sesuatu yang lebih untukku agar kau bisa pulang". Seketika pikiran Dahyun langsung liar mendengar ucapan Sana. Dahyun mulai gugup saat Sana membalas pelukannya.

"Waee?? Bukankah tadi kau yang mengatakannya sendiri... kenapa sekarang kau malah gugup" Sana melepaskan pelukannya."aku hanya bercanda. Bisakah kau ikut aku besok? Ada yang ingin aku tunjukan." Dengan ragu Dahyun mengangguk membuat senyum Sana kian melebar.

"Jja..... sekarang ayo kita makan" Sana membawa Dahyun ke meja makan lalu menyuruhnya untuk duduk di bangku yang tersedia disana. Sana berjalan ke arah dapur yang berada tepat di sebelah meja makan kemudian menyiapkan bahan bahan untuk di masaknya.

*

Entah mengapa Dahyun merasa bahagia. Bukan karena ia berciuman dengan Hanbin melainkan sesuatu hal yang tidak bisa ia jelaskan. Nyatanya sikap Sana yang berubah membuat Dahyun sedikit heran dan senang? Entahlah yang terpenting adalah Dahyun saat ini sedang dalam mood yang baik.

Tadi di apartemen Sana. Sana memperlakukan Dahyun dengan sangat baik dan lembut,tidak seperti biasanya. Dan...Setelah makan tadi Dahyun langsung pulang karena Sana tidak enak kepada ayah Dahyun jika ia terlalu lama menculik Dahyun. Intinya begini, Sana hanya akan memperlihatkan sikap aslinya pada Dahyun. Itu mengapa dihadapan keluarga Kim, Sana berlaku baik dan sopan. Dan saat di depan Dahyun maka semuanya akan ia tunjukan. Sana hanya nyaman bersama Dahyun.

Ingin segera mengganti hari,Dahyun memutuskan untuk tenggelam ke dunia mimpi lebih cepat.

Baru saja Dahyun akan tidur,sebuah notifikasi mengambil atensinya. Dahyun mengambil hand phonenya yang tadi di letakkan diatas nakas. Berharap dari Sana namun miris. Ternyata Hanbin. Ya Dahyun memang menyukai seseorang dan itu adalah Sana. Dahyun berbohong kepada Sana agar Sana bisa berubah. Waktu dahulu Sana sering sekali mengganti pacar dan Dahyun sudah tidak tahan lagi hingga... putus. Menjadi keputusan akhir mereka. Meskipun hubungan putus namun rasa masih tetap belum berakhir. Tetap saja hanya Sana yang dapat membuatnya jatuh cinta.

Sms yang Hanbin berikan merupakan sebuah ajakan untuk menemaninya besok namun tentu saja dengan cepat Dahyun tolak. Itu karena ia sudah memiliki janji bersama Sana. Cinta memang buta. Meskipun di sakiti berapa kalipun tetap tidak akan bisa merobohkan perasaan seseorang. Seakan akan kesakitan yang ia dapat tidak terlihat.

Hanbin menanyakan alasannya namun Dahyun tidak menjawabnya. Ia mematikan hand phonenya agar Hanbin tidak terus menerus menghubunginya. Kembali di letakkannya handphone tersebut diatas nakas.

*

Pagi pun tiba. Matahari yang malu malu menampakkan diri merupakan tanda bahwa hari sudah terganti. Ada kata kata yang mengatakan bahwa.

Kenapa diantara semua kebaikan yang kita dapatkan. Kita hanya bisa mengingat salah satu kesalahan yang ia perbuat.

Meskipun kata kata itu berlaku untuk semua orang namun tidak dengan cinta Sana dan Dahyun. Berapa kalipun ia melakukan kesalahan maka berapa kalipun ia akan dimaafkan karena bagi mereka, seseorang yang tidak pernah berbuat kesalahan merupakan seseorang yang tidak bisa berbuat apapun. Mereka mengandalkan kata kata:

Kesalahan merupakan awal dari perjuangan.

Itulah mengapa masing masing mereka terus berusaha untuk kembali meskipun mereka berdua sendiri tidak menyadari bahwa pasangan mereka masih mencintai. Ini merupakan kisah cinta yang bodoh dimana kedua orang saling mencintai namun tidak ada satupun yang menyadari. Sungguh bodoh!

Dengan langkah yang cepat Dahyun menahan gerbang yang hendak di tutup.
"Tunggu sebentar pak!" Seruan Dahyun lontarkan pada seseorang dengan tujuan agar gerbang itu terhenti sehingga ia masuk.

"Aigoo kenapa hari ini anda terlambat,tumben?!" Dahyun terkekeh. "Hehe saya juga tidak tahu pak,padahal tadi malam saya tidur cepat" orang itu tersenyum mendengar alasan yang konyol dari Dahyun." Yasudah cepat masuk. Untung saja anda datang sebelum saya hendak menutup gerbang" Dahyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe ia pak, saya pergi dulu" Dahyun membungkuk hendak memberi hormat lalu pergi.

Meskipun ayahnya yang mempunyai sekolah ini namun Dahyun tetap saja harus berlaku sopan karena ayahnya mengatakan bahwa ia harus mencerminkan sifat sang ayah yang berwibawa dan sopan terhadap siapa saja.

Pengajaran dan pendidikan tidak hentinya Dahyun dapat sejak kecil. Sikap yang baik dan benar sudah di ajarkan kepada Dahyun. Itu mengapa Dahyun tumbuh menjadi anak yang patuh,sopan,rendah hati dan yang terpenting tidak sombong terhadap siapa saja.

Saat Dahyun mendorong pintu kelasnya. Semua mata tertuju padanya. Dahyun heran tetapi untuk sekarang ia harus duduk terlebih dahulu. Hanbin menghampirinya.

"Dahyun-ah kenapa kau tidak bisa menemaniku sebentar? Padahal kau kan kekasihku". Dahyun menghela napas karena sikap Hanbin yang terlalu kekanakan. "Memangnya kenapa kalau aku kekasihmu? Apa aku harus menemanimu setiap hari jika aku kekasihmu?" . "Tentu saja" . Dahyun mendengus kesal sembari menatap Hanbin dengan malas. "Yasudah kita putus saja. Aku tidak mau dengan seseorang yang pemaksa dan terlalu posesif" . Dahyun berhasil membuat Hanbin terdiam dengan mata yang terbulat. "Tidak tidak, yasudah kau boleh pergi" Dahyun tersenyum. "Silahkan balik ke tempat dudukmu tuan Hanbin" ucapan guru yang sudah datang membuat semua murid duduk.

*

Hembusan nafas berhasil keluar dari bibir sang gadis yang sedari tadi gagal fokus karena sebuah masalah yang mengharuskannya untuk berpikir lebih keras. Sungguh sangat membimbangkan. Di sisi lain,Dahyun masih menyukai Sana tetapi di sisi lain juga ia mengingat bahwa ia sudah memiliki Hanbin di sampingnya. Untuk sekarang ia hanya bisa mengikuti alur cerita saja.

Setiap hari,kantin sangat ramai. Itulah mengapa Dahyun dan Sana sering memilih untuk ke atap sekolah karena suasananya lebih tenang dan segar. Sangat cocok menjadi tempat penetralisasian pikiran.

Dan disinilah Dahyun dan Sana. Sebenarnya Sana sudah sampai lebih dahulu namun Dahyun tidak menyadari keberadaan Sana saat datang. Saat Dahyun datang, ia langsung menuju ke arah pinggiran dari atap tersebut untuk mencari angin. Begitu juga dengan Sana. Ia menikmati angin yang menerpa wajahnya bahkan ia sendiri juga tidak menyadari jika di sana ada pujaan hatinya.

Bunyi bell benar benar bagaikan alarm untuk kedua insan ini. Jika bell tidak berbunyi maka mungkin mereka tidak akan pernah beranjak dari sana. Baru saja Dahyun membalikkan badannya untuk pergi. Sana sudah lebih dahulu menahannya lalu berbisik. "Jangan lupa pulang sekolah".




Bersambung....

Queen; silence in the dark[END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang