Rigel sedang berada di taman sekolahnya sambil membawa buku gambar sama pensil di tangannya, sekarang pelajaran nya kosong karna para guru sedang rapat. Rigel duduk di dekat pohon, yg menjulang tinggi lalu duduk bersila sambil memerhatikan sekitar. Rigel mulai menggambar dengan imajinasinya, sesekali matanya melihat sekitar.
Rigel terus menggambar sesuai yg ada di pikiran nya, lalu gak butuh waktu yg lama, Rigel sudah selesai menggambar. Senyum terbit di bibir Rigel karna sudah selesai lalu memerhatikan lukisannya. Rigel menggambar seseorang di buku gambarnya
"Gambar yg bagus" Ucap seseorang membuat Rigel tersentak kaget dengan mata melotot nya lalu menoleh ke samping
"Ngapain di sini?" Tanya Rigel heran sedangkan cewek itu tersenyum manis lalu duduk di samping Rigel
"Enggak papa, kebetulan aku juga mau ke sini karna di kelas berisik" Jawab Reva sambil menatap kedepan, Rigel hanya ber oh ria. Reva menatap gambaran Rigel yg menggambar seseorang wanita yg lagi tersenyum manis
"Kamu gambar siapa?" Tanya Reva
"Ahh saya gambar seseorang yg saya cintai" Jawab Rigel sambil menatap gambaran nya. Rigel belum terbiasa ngomong dengan Reva aku kamu, karna ya gak tau sih, Rigel belum biasa aja. Kalau Rigel pake lo gue kaya agak gak sopan gitu, jadi Rigel memakai kata yg sopan aja.
"Pasti dia cantik" Ucap Reva dengan senyum tipisnya di jawab anggukan cepat Rigel dengan senyum lebarnya
"Iya dia sangatttt cantik menurutku! Wanita paling cantik sebelum bunda saya, sifatnya juga lemah lembut, gampang malu, baik hati, enggak pernah marah, itu yg saya suka. Saya suka dia apa adanya" Cerita Rigel dengan senyum lebarnya. Reva tersenyum kikuk lalu mengangguk
"Dia beruntung dapetin kamu" Balas Reva sedangkan Rigel cengengesan
"Sebenarnya saya belum pacaran, tapi saya dengan dia sudah seperti pacaran! Saya gak mau pacaran, karna nanti saya ingin langsung tunangan" Ucap Rigel semangat, tidak tau kalau hati Reva sakit dengan perkataan Rigel. Reva hanya tersenyum paksa
"Ahh kalau boleh tau siapa namanya?" Tanya Reva dengan senyuman paksanya. Rigel langsung memicing matanya curiga karna melihat senyum Reva yg terasa di paksakan
"Kenapa saya merasa senyumanmu di paksakan?" Tanya balik Rigel curiga sedangkan Reva gelagapan karna di tatap Rigel dengan intens
"A-hh enggak kok, a-ku senyumnya gak di paksain" Jawab Reva agak gugup sedangkan Rigel mengangguk saja tidak mau di perpanjangan lalu menyenderkan badannya di pohon sambil menutup matanya menikmati angin sepoi sepoi.
Reva menatap Rigel dari samping sambil meneliti muka Rigel, dengan hidung mancung, halis yg lumayan tebal, muka nya cerah, bibir merah ranum, dan bulu mata yg lentik. Reva tersenyum tipis melihat wajah tampan Rigel
"Sampai kapan anda melihat saya?" Tanya Rigel membuka matanya dan menoleh ke arah Reva. Reva langsung memalingkan wajahnya
"Aku gak liat kamu! Aku liat semut di pohon" Elak Reva di jawab anggukan Rigel dengan polosnya
"Di kirain liat saya, maaf saya terlalu percaya diri" Balas Rigel sambil cengar cengir sedangkan Reva tersenyum tipis, dikirain nya Rigel tidak akan percaya malah ini sebaliknya.
"Saya ke kelas dulu ya" Pamit Rigel lalu mengambil buku gambar sama pensil miliknya dan berdiri. Reva mendongak melihat Rigel yg berdiri sedangkan dirinya masih duduk
"Anda gak akan ke kelas?" Tanya Rigel heran di jawab gelengan Reva
"Yaudah deh saya pergi dulu! Dadah" Ucap Rigel sambil melambaikan tangannya dengan senyumannya dan melangkah pergi. Reva menatap kepergian Rigel yg sudah jauh, lalu menghela nafasnya pelan dan menyenderkan kepalanya ke pohon
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins (Tamat)
Roman pour Adolescents(Sedang di revisi) Cerita ini menceritakan tentang anak kembar identik dan mempunyai sifat yg berkebalikan. Anak kembar itu yaitu, Alano Regal Adhitama dan Alano Rigel Adhitama. Mereka berdua saudara kembar, Regal sebagai kakaknya sedangkan Rigel se...
