Ukiran Enam

112 25 13
                                        

Ukiran Enam:Sumpah si Sulung (1)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ukiran Enam:
Sumpah si Sulung (1)


Sekali lagi itu terjadi kala malam. Kembali aku melihat ibu yang hancur. Tangisnya mengalun persis sama dengan hari itu. Meraung tanpa suara. Aku tidak berani untuk menanyai keadaannya karena hubungan kami kala itu tidak cukup baik. Ibu berkali-kali dipanggil kesekolah karena ulahku.

Tidak hanya satu malam ibu menghujan. Mungkin ada setiap malam ibu seperti itu karena aku melihat lampu dapur yang selalu menyala kala malam.

Sampai akhirnya aku mencoba membuktikan dugaanku pada satu malam, saat itu aku berpura-pura mengambil minum dan benar saja aku mendapati ibu yang sedang menangis dengan tangannya yang ia sibukkan mengukir tulisan dengan penanya.

Ibu yang menyadari keberadaanku langsung gemap dan menutup bukunya mencoba menyebunyikannya dariku. Ibu menatapku seakan bertanya 'kenapa' sambil mengusap matanya yang memerah sembab, langsung saja aku mengangkat gelas yang kupegang, "Haus," bohongku.

Ibu mengangguk, "Habis itu langsung kembali tidur," ucapnya tanpa menatapku, lalu dengan cepat berlalu kembali ke kamarnya.

Paginya aku sengaja tidak bersiap pergi ke sekolah, entah mengapa tiba-tiba saja badan ini terasa sakit semua.

"Tara, bangun!" Aku mendengar ibu membuka pintu kamarku. Aku berpura-pura masih terlelap, awalnya tangan ibu menyentuh tanganku kini beralih pada dahiku. Setelah itu ibu kembali menutup kamarku.

"Sebaiknya kamu bangun sekarang, Tara. Jangan bolos sekolah! Ibu dan adik berangkat," teriak ibu dari luar kamarku.

Aku mengambil ponselku yang berada di atas meja belajarku beberapa notifikasi memenuhi ikon WhatsApp langsung saja aku buka dan isinya seperti biasa, ajakan kawan yang menyuruh untuk bolos di kantin belakang sekolah, sudah tahu pastinya untuk nyebat dan berakhir tauran dengan sekolah sebelah.

Aku memilih untuk kembali mematikan ponselku lalu keluar dari kamar. Aku mendapati satu porsi nasi goreng di atas meja makan beserta obat tablet bertera paracetamol. Di sampingnya pun ada kertas yang berisi pesan dari ibu.


Makan dan jangan lupa minum obatnya


Sehabis itu aku pun ingin kembali ke kamar namun, langkahku terhenti di depan kamar ibu dan adikku. Tidak biasa ibu tidak menutup kamarnya. Niat awalku yang ingin menutup pintu kamar tersebut urung akibat melihat buku berwarna biru muda di atas meja belajar adikku. Aku pun memilih untuk masuk, aku ingat betul buku tersebut adalah buku yang tadi malam ibu ukir. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka buku tersebut. Di laman pertama ibu menempelkan sebuah foto yang memotret ayah, ibu, aku, dan adik di sana.

Kembaliku buka halaman selanjutnya dan membaca seluruhnya. Tanpa izin tiba-tiba saja air mataku kini jatuh tiada kira bersamaan itu ibu datang dan mendapatiku yang tanpa izin membaca bukunya. Tanpa aba-aba aku langsung menghamburkan pelukanku pada ibu. Sambil beberapa kali berucap.

"Ibu, maafkan Tara."














Kuingin Sejenak Sesak ini Tabu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kuingin Sejenak
Sesak ini Tabu


[semoga tidak bosan]

SEJENAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang