Tak ada gunanya perasaan ketika kinerjanya bertentangan dengan otakmu. Secara logis, hal yang paling tak berguna saat ini adalah panik. Tapi aku tak bisa menahan diri- bahkan kakiku mulai gemetaran.
Di belakang, orang-orang itu semakin dekat. Dengan lari maju begitu terus, cepat atau lambat pasti tertangkap.
Pilihan terakhirku adalah bersembunyi.
Aku memilih berbelok ke arah lorong gang sempit yang memecah diri dari jalan utama. Kanan-kiri semuanya berupa rumah penduduk. Jalan tikus seperti ini adalah pilihan terbaik yang terpikirkan. Menyusuri sepanjang jalan ini, aku baru menyadari bahwa semakin jauh jalan ini berkelok, bercabang, sama seperti labirin- semakin dalam semakin menyesatkan.
Aku tak tahu telah berlari seberapa jauh, hingga jalan gang ini mendadak buntu. Dinding tinggi pembatas.
Jalan buntu.
Aku hendak mundur, membalik arah datang. Namun kemudian beberapa suara langkah kaki yang berat datang. Suara derap yang cepat, berirama serta berat, mereka sudah terlalu dekat.
Kemudian, muncul sebuah sosok yang melompat turun dari dinding tinggi di belakangku. Kemunculannya mendadak, hampir berhasil membuat jantungku mencelos ke bawah.
Namun bukan pria berpakaian serbahitam yang menembak bagai mesin tak berperasaan, melainkan seorang pria bercelana jeans tua dan kaos hitam ketat.
"Cepat!" Tangannya terulur ke hadapanku.
Aku tertegun.
Ia berperawakan tinggi dan botak, dan rompi jeep yang ia pakai penuh dengan senjata. Minimal, aku melihat beberapa pisau silet serta ujung sebuah senjata api yang mencuat keluar dari salah satu saku di dadanya.
"Cepat!" sergahnya sekali lagi, menarik tanganku tanpa menunggu jawaban.
Urat-urat menonjol dari otot lengannya. Cengkramannya luar biasa erat- membuatku mengira pergelangan tanganku akan putus saat ini juga. Menarik seorang perempuan dengan bobot lima puluh kilogram dengan salah satu tangannya, seolah tubuhku ringannya bagai bulu.
Mata tajamnya menatapiku dengan dingin. Sekarang setelah ditarik naik olehnya, kami berdua berdiri sejajar dengan atap rumah penduduk setempat. Pemukiman para penduduk Siwa kecil-kecil dan berdempetan, sehingga kau bisa melompat-lompat seperti anak tikus dari satu ke rumah lainnya.
Tak sempat berpikir lebih jauh ketika melihat kilasan-kilasan kibaran jas hitam hendak muncul dari sudut gang, aku mengikuti langkahnya. Ia memimpinku melalui dinding-dinding pembatas, sesekali melompati atap rumah penduduk, melakukannya seolah mudah sekali.
Langkahnya seringan anak domba,sesekali membalikkan tubuh untuk menungguku, memastikan agar aku tak tertinggal.
"Kau bersama dengan Marthin? Ada Marthin, ada San, apa yang kalian lakukan disini?"
Aku terperangah. Mendengar manusia terminator ini berbicara sama seperti orang biasa, rasanya tak biasa.
Dia kenal dengan Marthin dan Paman San?
Entah berapa lama setelah kami melompat-lompat, dari jauh kami melihat orang-orang berseragam hitam itu pada akhirnya meninggalkan daerah perkampungan. Yang tak disangka adalah, mereka meninggalkan lokasi ini dengan terburu-buru, seolah sesuatu telah terjadi.
"Aktifkan pelacakmu sehingga Marthin bisa menemukanmu."
Sepatah kata ini saja yang ditinggalkannya, sebelum ia melompat turun dan melesat pergi. Datang dan pergi bagai angin, aku bahkan belum mengerti apa yang tengah terjadi!
KAMU SEDANG MEMBACA
Rescued [Edisi Revisi]
Ficção CientíficaMungkin, kau tak benar-benar mengenal orangtuamu.... Mungkin, kau tak tahu apa yang benar-benar terjadi di dunia ini... I was saying maybe. MAYBE.
![Rescued [Edisi Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/237199145-64-k643504.jpg)