Chapter 12.

816 55 7
                                        

Happy reading!

***

Soonyoung tidak pernah berpikir untuk menyerah pada cintanya. Tidak pernah sekalipun ingin menyakiti hati orang yang dicintainya. Tapi kesalahan yang dia perbuat memang tidak pantas dimaafkan. Hanya saja, bolehkah dia egois dan menginginkan kesempatan kedua?

Dia ingin memperbaiki semuanya, dia ingin membuat Jihoon kembali padanya. Namun seolah takdir tidak memperbolehkan mereka bertemu. Seberapa keras usaha Soonyoung mencari keberadaan Jihoon, yang didapat adalah kekosongan. Park Jimin dan juga Park Yoongi benar-benar menutup akses tentang Jihoon.

Tidak ada kesempatan bagi Soonyoung bahkan hanya untuk sekedar mengucap maaf.

***
"Eomma!"

Lee Chan terlihat begitu riang ketika menghampiri ibunya. Dengan eskrim di tangan kanannya, dia menghampiri sang eomma.

"Kenapa lama sekali? Eomma jadi khawatir." Kata Jihoon ketika Chan sudah sampai di hadapannya.

"Em, mianhaeyo eomma. Tadi Chan bertemu paman baik hati, Chan tidak sengaja menabraknya dan akhirnya Chan di belikan eskrim. Lihat ini eomma," jawab Chan sembari memperlihatkan eskrim di tangannya.

"Chan, apa yang eomma katakan tentang orang asing?"

"Eoh?" Chan terdiam. "Eumm.. untuk tidak mengikuti orang asing."

"Mianhaeyo eomma." Anak itu tertunduk, merasa bersalah.

"Tidak apa, jangan lakukan lagi lain kali." Kata Jihoon sembari mengusak surai anaknya dengan gemas.

"Ayo, kita harus kembali ke restoran sekarang. Chan-ie tidak apa kan bermain di ruangan eomma?"

Anak itu mengangguk antusias sebagai jawaban. Akhirnya mereka melenggang pergi dari sana. Berjalan menuju restoran yang tempatnya tidak begitu jauh dari taman tersebut. Restoran itu adalah restoran milik Jihoon, dia membangunnya dengan uang tabungan serta bantuan dari kakak serta kakak iparnya.

Meski baru buka sekitar 3 tahun, namun restoran itu sudah mendapat banyak pelanggan. Lokasi yang strategis, pun masakan yang hampir semuanya adalah resep Jihoon, begitu di sukai pelanggan.

---
Jihoon menghela nafas. Dia baru saja menidurkan Chan yang malam ini entah mengapa terlalu bersemangat. Perasaan lelah kadang terasa begitu cepat menghampiri. Namun, untuk anak satu-satunya itu dia rela melakukan apa saja.

Hanya anaknya lah alasan dia masih bertahan selama lebih dari lima tahun ini. Chan yang menjadi penguat untuknya. Menjadi tempatnya melepas lelah, karena hanya dengan melihat senyum ceria putra satu-satunya itu rasa lelahnya langsung terangkat begitu mudah.

"Mingyu-ya, kukira kau sudah pulang." Kata Jihoon saat melihat Kim Mingyu duduk bersandar di ruang tamu rumahnya.

Lelaki Kim itu menghela napas, "duduk sebentar, hyung." Katanya.

"Ada apa?" Tanya Jihoon.

Bukannya menjawab, Kim Mingyu malah menyadarkan kepalanya di bahu Jihoon dan menggenggam tangannya erat. Helaan nafas terdengar berat keluar darinya.

Pun Jihoon ikut menghela nafas, membiarkan lelaki yang memiliki perawakan lebih besar darinya itu untuk bersandar. Mungkin dia sedang ada masalah, pikir Jihoon.

"Wae Mingyu-ya?"

"Hyung, berjanjilah untuk tidak memikirkannya." Kata Mingyu.

Jihoon menyengrit bingung, "memikirkan apa?" Katanya.

"Kwon Soonyoung." Jawab Mingyu. Lelaki itu dapat merasakan bahu Jihoon menegang. Pun usapan pada jemarinya terhenti.

"Aku melihatnya di dekat rumah sakit siang ini," lanjutnya.

"Apa-- apa, dia-- dia kenapa? Apa dia sakit?" Tanya Jihoon tergagap.

Mingyu tersenyum miris dalam diam. Tau bahwa sampai saat ini, setelah lima tahun berlalu, perasaan Jihoon masih tetap sama untuk Kwon Soonyoung. Tidak ada yang berubah, sekeras apapun Mingyu mencoba menghancurkan tembok itu, dia tidak bisa. Tidak ada tempat spesial untuknya di hati Jihoon. Tahta tertinggi masih di pegang oleh Soonyoung, dan sepertinya itu tidak akan pernah berubah.

"Tidak Hyung, aku tidak tahu." Jawab Mingyu.

Lelaki itu lantas mendongak, menegakkan kembali tubuhnya dan menatap Jihoon begitu dalam.

"Hyung, kumohon jawab dengan jujur. Apa kau masih mencintai Kwon Soonyoung?" Tanya Mingyu.

Jihoon tersentak, matanya melebar sempurna. Air mata menggenang dipelupuknya.

"Mingyu-ya.."

"Jawab saja, hyung." Mohon Mingyu.

"...."

"Lee Jihoon..."

"Gyu-ya.. aku-- aku--" Jihoon tergagap.

"Apa ada sedikit saja tempat untukku dihatimu, hyung?"

"....."

"......."

Keduanya terdiam, air mata Jihoon perlahan mulai mengalir. Dia begitu merasa bersalah pada lelaki dihadapannya.

"Mingyu-ya..."

"Tidak hyung! Jangan katakan apapun, aku sudah tau jawabannya. Hanya-- hanya jangan-- jangan buat aku menyerah hyung." Potong Mingyu.

"Maaf..." lirih Jihoon.

"Tidak, jangan meminta maaf dan jangan menangis. Aku tidak akan memaksamu hyung. Istirahatlah, aku akan pulang sekarang." Kata Mingyu sebelum mengecup dahi Jihoon dengan lembut dan meninggalkannya dengan rasa bersalah untuk kesekian kalinya.

***
Ini hari terakhir Soonyoung di Daegu dan dia belum sempat mengajak anaknya berkeliling. Satu-satunya tempat yang dikunjungi hanya taman kota itupun hanya sebentar. Hari ini dia berniat membawa Woomin berkeliling. Mengunjungi tempat-tempat yang mungkin dapat membuat Woomin senang.

Sekretaris Hong sudah kembali ke Seoul terlebih dahulu atas permintaannya. Membiarkan sekretarisnya itu memiliki lebih banyak waktu istirahat sebelum kembali bekerja pada hari senin nanti.

"Appa, cepat cepat." Kata Woomin begitu semangat.

Soonyoung terkekeh, anaknya ini semakin mirip dengan Wonwoo jika bertingkah begitu semangat. Dia mengingat bagaimana dulu Wonwoo yang merupakan teman lamanya itu selalu bersemangat. Ya, sebelum Wonwoo terjerumus dalam hubungan gelapnya dengan Soonyoung.

Lelaki Kwon itu menghela nafas, teringat kembali akan sosok Wonwoo dan rasa bersalah yang menghantui. Jika waktu bisa diulang, dia tidak akan dan tidak pernah ingin menghancurkan hidup Wonwoo maupun Jihoon. Tuhan memang adil, sekarang dia kehilangan semuanya, hanya Woomin yang tersisa disisinya dan dia akan menjaganya sebaik yang dia bisa.

"Appa...." rengekan Woomin membuatnya sadar dan kembali terkekeh.

"Ohoo... jagoan Appa. Sudah tidak sabar sepertinya," kata Soonyoung. Dia kemudian menggendong Woomin dilengannya dan berjalan menuju mobil yang akan mereka kendarai sebelum berkeliling kota Daegu.

--
"Appa, setelah ini Min-ie ingin ke taman yang waktu itu." Kata Woomin.

"Tidak lelah?"

"Ani-yo. Bolehkah Appa?"

Soonyoung mengusak surai anaknya dengan lembut sembari bergumam menyetujui permintaan anaknya.

Soonyoung menepikan mobilnya di tempat parkir tidak jauh dari taman kota. Dia menggendong anaknya turun dan hendak menuju taman sebelum handphone nya berdering.

"Sebentar ne, appa mengangkat telfon dulu. Woomin tunggu di sini, jangan kemana-mana." Kata Soonyoung sembari menurunkan putranya.

"Ne appa."

"Halo.."

Soonyoung membelakangi anaknya dan berbicara melalui telfon dengan sekretarisnya. Tanpa dia sadari, Woomin berjalan menuju jalanan ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di seberang jalan. Tanpa menyadari ada sebuah mobil yang melaju kearahnya.

"AWAS!!"

***
TBC.

Emm, hai?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 12, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Affair (SoonHoon)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang