Suasana rumah keluarga itu sangat sunyi di pagi hari. Hanya suara pria paruh baya yang mengisi lorong rumah karena sibuk meneriaki anak-anaknya yang tak kunjung keluar dari kamarnya masing-masing.
"Abang, Ale, cepat bangun! udah jam 6 belum ada yang menyiapkan sarapan," teriak pria paruh baya itu. Mendengar suara bising pintu yang terus-menerus diketuk membuat penghuni rumah tersebut geram dan akhirnya keluar dari singgasananya masing-masing.
"Bukan aku loh ya, yang dapat jadwal masak pagi ini." Anak bungsu itu menatap sinis abangnya yang hendak menghampiri meja makan. Ia berdecak melihat Aldin masih mengenakan pakaian tidur sedangkan ia telah rapih dengan seragam sekolahnya.
"Maaf, alarm aku enggak kedengaran tadi," balas Aldin yang merasa tersindir oleh adiknya.
"Aldin tuh kebiasaan banget sih, alarm berisik banget tapi enggak bangun sama sekali," sahut anak laki-laki lain yang merupakan teman sekamar Aldin.
Aldin hanya cengengesan mendengar sahutan abangnya tersebut dan segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan keluarga itu. Ketika yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing, anak sulung dari keluarga tersebut berinisiatif membantu Aldin di dapur.
"Lain kali kalau Arga dengar alarm Aldin bunyi, jangan cuma dimatiin, bangunin juga dong orangnya," ucap Ayah kepada Arga.
"Tahu ih bukannya bangunin, aku telat nih jam 6 belum sarapan!" celoteh Alena si anak bungsu.
"Sama aja semuanya, harus saling mengingatkan kalau abang atau adiknya enggak bangun ya. Atau bahkan lebih bagus, inisiatif langsung menyiapkan sarapan,"balas Ayah menasihati Alena sambil merapihkan tas kerjanya.
"Ayah kan bangun duluan, kenapa Ayah enggak inisiatif menyiapkan sarapan?" tanya Aldin dengan wajah tidak tahu malunya. Mendengar hal itu, Alwi yang sedang menggoreng telur segera menyenggol Aldin karena merasa ucapannya tidak sopan.
"Enggak tahu diri banget!" cetus Alena sambil menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan abangnya tersebut.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Alena berdiri dengan gelisah karena busway tujuannya tak kunjung datang. Berbanding terbalik dengan Aldin yang hanya duduk santai sambil memainkan gadgetnya.
Sudah menjadi rutinitas bagi Aldin, terlambat sekolah selama 2 tahun ia duduk di SMA. Karena keadaan rumah yang mengharuskan ia untuk menyiapkan sarapan dan bekal sendiri. Bahkan terkadang seragam yang akan ia kenakan, lupa digosok sehingga ia harus menggosoknya terlebih dahulu. Dan tak jarang pula, terpaksa memakai seragam yang belum sempat dicuci.
"Santai aja," ucap Aldin sebal melihat Alena tidak bisa diam.
"Santai aja? Gerbang sekolah ditutup jam tujuh, sedangkan sekarang udah jam tujuh lewat, masa aku baru kelas 10 udah berkali-kali telat sih, enggak suka!" protes Ale menggebu-gebu. Aldin hanya diam, malas menanggapi adiknya itu.
Sebenarnya, sekolah mereka telah memberikan toleransi bagi siswa yang telat dalam 10 menit. Akan tetapi saat ini busway mereka belum juga datang. Melihat jalanan yang sangat macet, membuat keringat Alena semakin bercucuran. Jarak rumahnya dan sekolah dapat ditempuh dalam waktu 15 menit. Akan tetapi ini Jakarta, semua orang beraktivitas di pagi hari, bagaimana Alena tidak panik? Apalagi ini tahun pertama ia duduk di bangku SMA, musnah sudah harapannya untuk menjadi siswa teladan.
Dalam hati, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk membangunkan siapa pun yang bertugas menyiapkan sarapan di rumah. Sudah cukup kali ini saja ia merasa panik tak karuan.
"Ayah sama Abang Alwi telat enggak ya? Coba bayangin kalau telat, pasti dimarahin sama atasannya kan? Kok anda tidak merasa bersalah sama sekali, ya?" sindir Ale kepada Aldin yang masih terlihat santai duduk di kursi halte. Yang disindir hanya diam pura-pura tidak mendengar ocehan Ale.
"Ih tau gitu tadi aku enggak usah sarapan," cetus Ale tak tahan karena didiamkan oleh Aldin.
Keluarga mereka memang bukan keluarga berada dengan mobil dan motor yang siap mengantarkan mereka kapan pun dan kemana pun. Keluarga mereka hanya memiliki dua motor. Alwi bekerja di suatu perusahaan sebagai web designer sedangkan Ayah bekerja di suatu pabrik industri yang satu arah dengan perusahaan Alwi. Sehingga, mereka selalu berangkat bersama menggunakan satu motor. Sedangkan Arga merupakan mahasiswa semester 4 di salah satu Universitas Jakarta. Ia harus menggunakan motor, mengingat jarak rumah dan kampusnya cukup jauh.
"Kita lari aja, deh," ucap Aldin memecah keheningan setelah menunggu busway selama kurang lebih 10 menit. Tanpa berpikir panjang, Alena pun segera berlari keluar dari halte. Aldin menyusul di belakang.
Alena mengumpatkan sumpah serapah dalam hatinya kepada busway yang tak kunjung datang. Saat ini sudah pukul 7.10 dan mereka baru memutuskan untuk berlari dari halte ke sekolah. Tamat sudah riwayatnya ketika sampai nanti.
***
Halo!
Thank you for visiting my story!
Can i get your vote and comment, please?
And i'm very grateful if you want to give me criticism and suggestions :)
Have a nice day <3333
KAMU SEDANG MEMBACA
UNKNOWN ERROR
Fiction généraleAlena selalu merasa bahwa keluarga itu ibarat rumah. Tempat berpulang dari hiruk pikuknya dunia luar. Tempat berlindung dari hujan dan badai. Tempat saling menceritakan dan berbagi banyak hal. Setidaknya Alena selalu berpikir demikian. Namun siapa...
