Penawaran

3.3K 587 54
                                        

Cinta bisa datang karena terbiasa

****

Aruna celingak celinguk dengan tampang bingung saat lelaki berjas hitam yang tadi mengatakan akan membawanya menemui Pak Riady masuk ke dalam sebuah ruangan besar bergaya elegan dengan jejeran rak buku yang tertata rapi di sudut ruangan, serta beberapa lukisan yang tergantung indah di tembok.

Setelah memasuki gedung besar dengan logo bertuliskan Wijaya Group, sekarang Aruna tahu siapa Riady yang Ayah maksud. Beliau adalah pemilik Wijaya Group dengan nama perseroan PT. Angkasa Jaya yang kini kursi kepemimpinannya dipegang oleh sang anak. PT. Agkasa Jaya merupakan perusahaan properti terbesar dengan anak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Jangan tanya seberapa kayanya Pak Riady ini, Aruna saja rasanya tidak sanggup untuk membayangkan.

"Bu Aruna."

"Ya?" Aruna tersentak seraya membalikan tubuhnya menghadap Bayu yang kini sedang berdiri di tengah ruangan.

"Pak Riady sebentar lagi akan tiba, saya akan menunggu di luar. Kalau ada yang Ibu butuhkan, Ibu bisa memanggil saya."

Mendengar penuturan Bayu, mata Aruna berkedip beberapa kali, lalu mengangguk sebelum kemudian memamerkan senyum kakunya. "I—ya." Rasanya aneh sekali saat dirinya harus dipanggil dengan sebutan Ibu.

Setelah Bayu angkat kaki dari ruangan itu, Aruna lantas duduk di atas sofa besar yang ada di sana. Kepalanya masih berputar kesana kemari mengamati ruangan luas itu. Dulu ruang kerja Ayah di perusahaan tidak seluas dan semewah ini. Lampu-lampu yang menggantung di atap pun seolah menyorot dengan kerlipan mewah.

Sibuk mengamati seluruh ruangan, Aruna tersentak saat pintu di depan sana terbuka, menampilkan sosok tua dengan senyum hangat menghampirinya. Aruna buru-buru berdiri untuk menyambut lelaki itu.

"Siang Pak," sapanya sopan dengan senyum manis di wajah.

Lelaki paruh baya yang terlihat seumuran dengan Ayah itu tiba di depannya.

"Hai. Selamat siang juga Aruna, maaf ya sudah membuat kamu menunggu lama," balas Riady, terlihat sangat kebapakan. "Ayo duduk lagi," ujarnya kemudian.

Aruna kembali duduk. Tak lama seorang wanita masuk membawakan dua cangkir teh hangat untuk mereka.

"Diminum, Run," tawar Riady yang dibalas anggukan kepala oleh Aruna.

Setelah wanita pengantar teh itu pergi, Aruna merasakan canggung melingkupi dirinya saat ini. Meski ia tahu Pak Riady merupakan teman Ayah, tapi tetap saja Aruna merasa begitu canggung berada satu ruangan dengan lelaki tua itu.

"Aruna apa kabar?"

Meremat gaun terusan sebetis yang ia gunakan, Aruna lantas menjawabnya, "baik, Pak."

"Maaf saya tidak datang ke pemakaman Ayah kamu, saya merasakan kesedihan yang kamu rasa. Hadi sudah saya anggap seperti saudara sendiri." Riady menegakan tubuhnya, lalu menepuk bahu Aruna pelan. "Saya turut berduka cita atas apa yang telah terjadi."

Aruna mengangguk, membalas dengan senyum tipis. "Terima kasih, Pak."

"Kamu pasti melewati waktu yang sangat berat."

ELIGERECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang