49. Sebuah Pertanyaan

162 15 58
                                        

Ananya duduk termenung sendirian di taman rumah sakit, sementara semua orang menunggui Abhi dan Siya yang terluka lebih parah dari pada dirinya.

Sejak acara perkelahian tadi, dia belum bicara sepatah katapun dengan Abhi. Ananya bingung memikirkan perkataan Priya tadi---soal Abhi yang tidak mencintainya, melainkan hanya belas kasihan. Apa iya Abhi tidak mencintainya? Jika dipikir-pikir, memang aneh juga Abhi mendadak mencintainya dalam waktu 2 hari, sementara sebelumnya saat dia mengungkapkan perasaannya, Abhi dengan jelas mengatakan tidak punya perasaan apapun padanya.

Jadi, benar Abhi hanya kasihan padanya? Tapi kenapa Abhi jauh-jauh mengejarnya dari London ke Mumbai jika hanya karena kasihan?

Ananya mendengus, menyedihkan sekali dirinya dikasihani seorang pria sampai seperti itu, atau jangan-jangan.... dia hanya sebagai pelampiasan saja karena Abhi gagal mendapatkan Kavya? Ah, kenapa fikirannya malah berkeliaran kemana-mana. Ananya mengacak rambutnya sendiri, menarik nafas, lalu menghembuskannya.

"Ingat, Ananya, kata Shrishti, jika sudah mencintai, maka belajarlah untuk percaya. Kau harus percaya pada Abhi, ya, kau harus percaya," Ananya bermonolog, berusaha menghapus pemikiran bodoh itu dari otaknya.

"Apa aku telfon Shrishti saja, ya? Baiklah, bukankah hanya Shrishti yang mengerti diriku," Ananya terkekeh pelan, kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi sahabat sehidup sematinya itu.

"Merindukanku, kan?? Makanya cepat kembali!" teriak Shrishti dari seberang sana.

"Kenapa diam? Dan wajahmu itu kenapa seperti habis terinjak sepatu gorila?" oceh Shrishti, dan Ananya tetap diam.

"Oh aku mengerti, kau mengajak jalan-jalan dan Abhi tidak menurutimu, kan? Atau kau kesal karena Abhi lebih memilih bermain game bersama Ayan Ayan itu, iyakan???" terka Shrishti.

"Diam kau, Shrishti," desis Ananya.

"Masalah gadis itu?"  tebak Shrishti.

Ananya menggeleng, "bukan, tapi Abhi, aku tidak mengerti sebenarnya Abhi mencintaiku atau tidak.."

Shrishti menepuk dahinya gemas, "jadi kau fikir aku ini Abhi, ha? Kalau kau ingin tahu Abhi mencintaimu atau tidak, maka tanyakan pada Abhi, bukan padaku. Aku bukan Abhi, Ananya, aku Shrishti!"

"Shrishti, kau sahabatku, dan kau yang paling mengerti diriku," ujar Ananya.

"Iya, aku tahu aku ini sahabatmu, tapi masalahnya itu urusan pribadimu dan Abhi, aku tidak berhak untuk ikut campur. Aku ini orang luar, Ananya, orang luar. Sangat tidak pantas bila aku turut campur dalam masalahmu."

Ananya terdiam.

"Dengar, bicarakan ini baik-baik dengan Abhi. Kau harus percaya padanya jika kau mencintainya. Ingat, jangan libatkan emosi, singkirkan sifat egois dan saling menyalahkan, oke?"

Ananya mengangguk. Memang, hanya Shrishti yang bisa membuat gadis itu mengerti.

"Sekarang apa lagi?" tanya Shrishti.

"Tidak ada."

"Ya sudah, kita lanjut bicara nanti. Jaga dirimu, tersenyumlah, dan jangan bersedih."

---

Dokter baru selesai menangani Abhi dan Siya. Abhi harus diperban sana sini karena lukanya yang banyak, tapi tidak membuat Abhi sampai pingsan.

"Dimana Ananya?" tanya Abhi sambil mencoba bangun.

"Hei, badanmu itu remuk, kau berbaring saja dulu," peringat Tara.

MUSHKIL PYAAR [Completed] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang