29. Little Princess

254 23 22
                                        

Veer terdiam di tempatnya berdiri, berbagai macam alat menempel di tubuh Kavya, dengan Kavya yang dalam keadaan tidak sadar.

"Veer," dokter Mahira masuk dan menepuk pelan pundak Veer.

Veer menoleh, "apa maksudnya ini? Kavya...?" tanyanya.

"Bayi kalian perempuan, suster sudah membawanya ke ruang khusus untuk bayi prematur. Dia belum saatnya lahir, jadi harus di tempatkan di inkubator bayi. Keadaannya sehat, dan tidak kekurangan sesuatupun. Lalu istrimu, dia kritis, dan kita hanya tinggal menunggu waktu, mustahil Kavya bisa sadar dan sembuh." jelas Dokter Mahira.

Perkataan yang sebenarnya lemah lembut dan pelan itu terasa bagaikan petir menyambar-nyambar. Ada semacam rasa sakit yang teramat sangat dan tak tergambarkan bagaimana rasanya di dada Veer.

"Tapi semua kembali pada kehendak Tuhan, kita hanya bisa berusaha, Veer."

"Pendarahannya benar-benar hebat, dan kami belum bisa menghentikannya sampai sekarang. Hingga saat ini, lebih dari 3 kantung darah sudah dihabiskan."

Kata-kata itu terdengar menusuk dan sangat sakit. Bukan fisik, tapi hati.

Veer hanya terdiam lemas ditempatnya berdiri, kakinya serasa kaku untuk digerakkan maju menghampiri Kavya yang tak berdaya di hadapannya.

"Kaki Kavya juga patah, dan kami sudah menanganinya. Masalah kaki, bisa sembuh dalam hitungan minggu atau bulan. Yang kita cemaskan adalah Kavya itu sendiri, tidak tahu dia akan bertahan atau tidak," dokter Mahira kembali bersuara, dan Veer mendengarnya, hanya saja lidahnya terlalu kelu untuk sekedar membalas.

"Kavya.." lirihnya sambil berlari ke tempat Kavya, Veer memeluknya dengan isakan yang kian pilu.

Hatinya hancur melihat itu, satu kebahagiaan datang dengan kebahagiaan lain sebagai tebusan. Putri mereka lahir dengan selamat dan sehat, tapi Kavya, harapan hidupnya rendah sekali seperti kata dokter Mahira tadi.

"Kavya, bangun, Kavya.. Bangunlah, jangan tinggalkan aku. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa dirimu..? Kau nyawaku, kau nafasku, detak jantungku, melihatmu begini sama saja aku tiada. Kavya, bangunlah ku mohon..." isak Veer tanpa melepas pelukannya.

Kavya terlihat sangat pucat, dengan beberapa goresan luka di wajahnya akibat tadi. Lalu selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Juga berbagai macam alat lainnya yang Veer tidak tahu apa nama dan fungsi semua itu.

"Kavya, bangunlah. Kau bilang apa dulu, mau besarkan anak kita bersama-sama, kan? Dia sekarang sudah lahir ke dunia ini, dia selamat, kau tidak ingin melihatnya? Ayo buka matamu, kita lihat putri kecil kita bersama. Bangun, buka matamu, sayang, " bisik Veer, berharap kedua mata manis itu akan segera terbuka dan menatapnya penuh cinta seperti biasanya.

Lagi-lagi air mata Veer luruh, dia tidak bisa berbuat banyak kecuali berdoa untuk keselamatan Kavya. Entah takdir macam apa ini, baru saja Veer mengecap kebahagiaan bersama Kavya, dan takdir sudah sekejam ini padanya.

Veer tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hidup tanpa Kavya. Hubungan yang berasal dari perjodohan itu telah mengikatnya dengan cinta yang begitu besar. Veer yang memang tidak pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan sebelumnya, sangat sulit menerima ini. Sebagai istrinya, Kavya juga cinta pertamanya. Dan seperti yang orang-orang bilang, cinta pertama adalah yang terindah dan sulit di lupakan.

Dokter Mahira terharu melihat pemandangan dihadapannya ini, Veer, pria itu sangat hancur. Yang terbaring lemah tak berdaya memang Kavya, tapi yang merasakan sakitnya adalah Veer. Cintanya sangat besar pada Kavya, bagaimana dia akan bertahan tanpanya?

Dokter Mahira menyatukan tangannya—berdoa, saat seperti ini hanya doa dan kehendak yang maha kuasa dapat membantu.

Dokter Mahira menangkap sesuatu yang aneh di pasien monitor, mesin itu berbunyi semakin cepat.

MUSHKIL PYAAR [Completed] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang