30. Mencari Kebenaran

238 21 48
                                        

Ananya dan Abhi saat ini berada di rumah Ananya, keduanya tertidur sambil saling menyandar karena kelelahan belum istirahat sejak kemarin. Di rumah ini sangat sepi, ya, hanya ada Ananya dan Abhi. Madhuri menyusul Veer bersama Sheila sejak pagi tadi, Dev mengantar Aafia ke sekolah, begitu juga dengan Naina. Hanya satu orang yang entah berada di belahan dunia mana, siapa lagi kalau bukan Ranjeet.

Ananya mengerjap, selain tidak tidur, ia juga belum makan apapun sejak semalam. Dan kini cacing-cacing di perutnya sedang berdemo minta makanan.

Ananya menggoyang-goyangkan lengan Abhi, tapi pria itu tetap tidur pulas.

"Abhi...." panggil Ananya pelan namun tepat di telinga Abhi.

Dan sama. Abhi masih berada di alam mimpinya sendiri.

"Abhi... Bangun.. Aku lapar," rengek Ananya.

Pun masih sama. Ananya jadi kesal sendiri, alasannya membangunkan Abhi adalah karena masakan Abhi sangat enak, jauh berbeda dengan masakan buatannya yang lebih sering keasinan, atau kadang malah tidak berasa alias tawar. Selama di London, Ananya lebih sering beli makanan daripada memasak sendiri, atau terkadang saat Abhi masak ia ikut makan.

"Abhi, kebakaran!! Kebakaran!!" teriak Ananya heboh.

Abhi melotot dan langsung berdiri—siap berlari sewaktu waktu. Dan Ananya? Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan menyaksikan aksi terkejut Abhi.

"Ananya, kenapa? Dimana apinya?" tanya Abhi panik.

"Sudah padam." kata Ananya santai.

Alis Abhi terangkat sebelah," maksudnya?"

"Ya, sudah padam. Kebakarannya semalam, dan sekarang pastinya sudah padam." jawabnya.

"Astaga.. Lalu kenapa kau teriak ada api?"

"Abhi sayangku, aku lapar, tolong masakkan sesuatu untukku, yaa..."

Abhi hanya mengangguk pasrah, ia sadar telah dikerjai Ananya, tapi tidak berniat membalas atau apa. Karena ya, Abhi sudah hafal dengan sifat Ananya.

Langsung saja Abhi pergi ke dapur untuk mengolah bahan-bahan masakan menjadi makanan enak. Sedangkan Ananya menata duduknya untuk menyaksikan sang tunangan bertempur dengan berbagai peralatan dapur.

Abhi mulai mengambil beberapa bahan, mencucinya, kemudian memotong-motongnya dengan mudah, seolah dia adalah seorang chef handal.

Ananya tersenyum kecil, beruntung sekali ia akan jadi istri dari seorang Abhimanyu yang pintar memasak. Ananya bahkan sudah berencana tidak akan bangun pagi setelah menikah nanti, karena Abhi sudah bisa memasak sendiri, jadi tidak perlu membangunkannya.

Tapi kali ini Ananya tidak tinggal diam menyaksikan, dia ingin ikut berperang juga dengan bahan dan alat masakan itu bersama Abhi.

"Abhi.." panggil Ananya ketika berada di samping Abhi.

"Hmm? Kau butuh sesuatu? Tunggu saja disana, saat matang nanti akan ku bawa ke meja makan." ujar Abhi.

Benar-benar sempurna, Abhi bahkan meminta Ananya hanya menunggunya saja tanpa ingin dibantu.

"Boleh aku membantumu? Ajari aku memasak sepertimu," ucap Ananya.

Abhi tersenyum ke arah Ananya.

"Kenapa? Biasanya kau hanya ingin makan saja,"

"Kau ini, jika aku tidak bisa memasak, apa hanya kau yang akan terus memasak? Apa yang akan dikatakan anak-anak kita nanti kalau ibunya tidak bisa memasak," kata Ananya dengan bibir tertarik ke depan beberapa centi.

MUSHKIL PYAAR [Completed] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang