32. Menunggumu

172 18 42
                                        

Masih di depan ruang Kavya, Veer bersiap mendengar cerita lanjutan masa kecil Kavya dari Neha.

"Keluarga kami termasuk yang lebih mengunggulkan anak laki-laki dibanding anak perempuan. Salah satu alasan yang membuat kami belum bisa memaafkan Kavya saat itu adalah karena, Kavya seorang perempuan, sedangkan bayi kami yang tiada laki-laki."

Veer terdiam, kalau soal itu, keluarganya pun hampir sama.

"Tapi Kavya mematahkan anggapan anak laki-laki lebih hebat dari anak perempuan," Neha mulai terisak.

"Dia memenangkan kejuaraan olahraga Mumbai, juga berhasil mengetuk pintu hati kami. Apa yang kami lakukan saat itu salah, benar-benar salah. Dalam kejuaraan itu, hanya untuk anak laki-laki. Tapi kau tahu, Veer, Kavya tetap mengikuti kejuaraan itu. Awalnya dia menyamar menjadi anak laki-laki, tapi lama kelamaan penyamarannya terbongkar. Saat itu dia hampir di diskualifikasi, tapi kata-kata yang diucapkannya mampu membuat para juri tersentuh dan sadar, walau tanpa mempermalukan kami dengan mengatakan yang selama ini kami lakukan padanya. Akhirnya dia diizinkan tetap mengikuti pertandingan hingga selesai." Neha mengusap air matanya, menjeda beberapa detik ucapannya.

"Tapi tim lawannya tidak terima begitu saja. Saat final sepak bola, mereka bermain begitu kasar. Tapi syukurlah, tim Kavya bisa mengimbangi. Akhirnya dengan tekad serta kerja keras, Kavya dan timnya menang. Begitupun untuk volly. Dan untuk lari, lawannya berlari keluar jalur menabrak Kavya, Kavya jatuh dan kakinya patah. Dalam pertandingan ini dia kalah."

"Saat itu hati kami mulai tersentuh, walau tetap rasa benci masih yang terdepan. Belum sembuh kakinya, final pertandingan kriket dimulai. Kavya bersikeras untuk tetap ikut, walau kakinya masih sakit. Sampai akhirnya, tim mereka hampir menang, jika Kavya berhasil menangkap bolanya. Mereka sengaja meminta Kavya yang menangkap karena tahu kakinya sakit. Tapi Kavya kami hebat, dia tetap berusaha berlari untuk menangkap bolanya. Dan ya, timnya menang. Walau setelah itu, Kavya tidak sadarkan diri. Setelah menyerahkan pialanya pada kami." Isakan Neha semakin menjadi, wanita itu terlihat sangat menyesal.

"Ibu, tenangkan dirimu," Veer mengusap pundak Neha menenangkannya.

"Hampir seminggu Kavya tidak sadarkan diri dirumah sakit. Karena lukanya tidak sembuh, malah bertambah parah. Kami pun sadar, apa yang kami lakukan tidaklah benar. Meninggalnya putra kami, mungkin itu sudah takdir. Karena takdir pasti tetap terjadi, dan itu butuh perantara. Mungkin perantara itu adalah Kavya.  Kami terbayang wajah kak Sidharth, bagaimana dia akan marah mengetahui putrinya celaka karena kami. Sejak saat itu, kami semua memutuskan tidak lagi mengubah Kavya seperti yang kami mau. Kami akan menyayanginya lagi seperti dulu, dan mendukung semua impian Kavya. Sama seperti ibumu yang berjanji agar Ananya bangun, kami juga melakukan hal sama agar Kavya bangun. Tapi kami melanggarnya dengan peejodohannya denganmu... Masalahnya, Shakti juga terlanjur berjanji pada ayahmu untuk menjodohkan anak-anak kami. Karena putri Shakti cuma satu, Kavya, jadilah Kavya yang menanggung itu semua. Dan keadaan Kavya saat ini, mungkin itu hukuman dari Tuhan karena kami melanggar janji kami pada Kavya."

"Tidak, bu, tidak. Ini bukan hukuman, ini takdir seperti yang kau katakan tadi." Sahut Veer.

"Aku hanya takut, Veer, ibunya Kavya dulu, kak Mahima, meninggal karena mengalami kejadian seperti ini. Ibu tidak mau itu terjadi juga pada Kavya, Veer. Tidak, tidak mau."

Sheila dan Madhuri yang semula hanya melihat pun menghampiri Neha dan memeluknya, memberikan ketenangan pada wanita itu.

"Tidak, bu, jangan katakan itu. Kavya akan selamat, dia wanita yang kuat."

Mereka pun berdiri, menengok ke dalam, dimana wanita yang mereka sayang masih terbaring lemah disana. Tidak tahu kapan akan sadar.

"Veer," Dev datang bersama kedua teman detektifnya itu.

MUSHKIL PYAAR [Completed] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang