Karena penasaran, Abhi langsung menekan panggil pada nomor itu. Selang beberapa detik, teleponnya diangkat.
"Halo?"
"Iya halo?" jawab seseorang di seberang sana, suaranya adalah suara wanita.
"Siapa kau?" tanya Abhi langsung.
"Mohini, dari Mohini Dance Group, ada yang bisa saya bantu? Anda pasti orang tua yang ingin mendaftarkan anak Anda menari, kan? Selamat, Anda telah menghubungi orang yang tepat. Atas nama siapa dan dari mana?"
Abhi menatap layar ponsel itu dengan heran. Kenapa bisa jadi menghubungi kelas menari?
"Tuan, Anda masih disana? Kelas menari kami benar-benar bagus untuk semua anak-anak, bahkan Anda juga bisa jika ingin belajar menari disini." Ucap wanita yang mengaku bernama Mohini itu lagi.
"Mm.. Maaf, aku tidak ingin belajar menari. Kau tadi yang menelfon duluan, jadi aku ingin memastikan kau siapa dan ada apa." Jelas Abhi.
"Menelfonmu duluan? Itu pasti ulah anak tetanggaku, dia memang nakal, suka sekali memainkan ponselku. Maaf jika mengganggumu ya, Tuan."
"Baiklah, tidak masalah. Maaf juga telah menggganggumu. Bye."
"Tunggu!" teriak Mohini yang terdengar sebelum Abhi mematikan sambungannya.
"Iya, Nona?"
"Jika kau punya keluarga, atau tetangga, atau anak tetangga, atau anak tetangganya tetangga, atau siapa saja yang sedang mencari kelas menari, beritahukan tentang Mohini Dance Group padanya, ya.. Terima kasih,"
"Iya, sama-sama."
Kali ini kedua pihak mematikan sambungannya bersamaan.
Entahlah bagaimana ceritanya bisa ulah anak tetangga, padahal Abhi sudah berfikir itu adalah telepon dari Veer yang memberinya pertanda. Tapi ternyata..... lupakan.
Abhi memastikan Ananya benar-benar tenang, setelah ini ia akan pergi ke hutan dan mencari bukti sendiri. Sungguh, Abhi tidak tega dengan kesedihan orang-orang disini.
Disisi lain, Naina tengah melamun di balkon kamarnya. Dia juga masih belum percaya kakak dan kakak iparnya pergi secepat ini. Kenangan-kenangan indah saat bersama Veer terus terputar dalam ingatannya, dan itu membuatnya semakin sedih.
"Naina!"
Mendengar ada yang memanggilnya, Naina menoleh dan mendapati Shiv, Shakti dan Ranjeet berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Naina.
Shakti masuk dan menghampiri Naina.
"Nak, kau melihat penyekapan kakak iparmu, kan? Kau bisa menjadi saksi untuk itu?" tanya Shakti ramah.
"Iya, sebenarnya dengan Ayan, tapi Ayan masih belum sadar." Jawab Naina.
"Kau sendiri dulu, Ayan akan dicatat pernyataannya saat sadar nanti. Ayo, kita ke kantor polisi."
Tanpa protes, Naina mengikuti ketiga orang itu untuk dicatat pernyataannya. Naina juga membawa serta ponsel yang ia pakai memotret Priya kemarin.
Shakti dan Ranjeet sekarang menentang keras keputusan para polisi untuk menghentikan penyelidikan. Terutama mereka memburu Priya yang masih bebas berkeliaran tanpa dimintai pernyataan sama sekali.
Soal Ranjeet yang tiba-tiba mau membela anaknya, entahlah apa yang terjadi. Mungkin efek tamparan Madhuri seminggu yang lalu?
Shiv sudah melacak keberadaan Priya dan menemukan wanita itu ada di Delhi. Dengan bantuan polisi Delhi, Priya akan dipulangkan ke Mumbai hari ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSHKIL PYAAR [Completed]
Romance----- Sungguh aku tidak percaya, bagaimana aku bisa menikah dengan pria lain jika aku sendiri sudah punya seorang kekasih? Sepenuh hati dan jiwaku hanya untuknya, lalu kenapa hal konyol bernama 'perjodohan' harus datang menghampiriku lalu mengganggu...
![MUSHKIL PYAAR [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/204475576-64-k366282.jpg)