Sejak kejadian pagi tadi, rumah ini begitu sepi. Semua penghuninya hanya sibuk saling diam. Bahkan ketika makan malam, hanya kelihatannya saja berkumpul bersama, namun nyatanya tidak ada pembicaraan sama sekali.
Sekarang ini yang sudah selesai dengan makanannya pergi ke tempat masing-masing, entah itu tidur, bermain game, atau masih tinggal disana seperti tn. Ranjeet, Ananya, dan Naina.
Naina sebenarnya malas sekali makan, baginya rumah ini sangat suram tanpa kehadiran Veer dan Kavya.
Naina sudah tidak bisa menghabiskan makanannya, matanya melihat luas ke meja makan—mencari sesuatu yang bisa dimakannya.
Ladoo, masih tersisa 1 buah Ladoo di kotak itu, tangan Naina bergerak cepat mengambilnya sebelum ada tangan lain yang mendahului.
"Itu milikku, kembalikan!"
Baru saja Naina hendak menyantap ladoo itu, suara tak asing menghampiri pendengarannya melarangnya makan.
"Kak Ananya, kau kan sudah makan banyak tadi. Yang ini biarkan aku, yaa... " mohon Naina—memasang wajah memelas.
"Kau kan bisa tiap hari makan itu, aku tidak disini selamanya, Naina!" kesal Ananya.
"Naina, berikan saja ladoo itu untuk Ananya, kau bisa makan yang lain." sahut ayah mereka.
Naina mendengus kesal, ditaruhnya lagi ladoo itu, dan dia pergi dari hadapan manusia-manusia menyebalkan di ruang makan ini.
Naina masuk ke kamarnya, menggrutu kesal di sepanjang jalannya.
"Selalu saja begitu, apa dia tidak puas dengan sekotak ladoo tadi? Pelit sekali, " gerutu Naina.
Kadang gadis itu berfikir, selalu saja Ananya Ananya Ananya, seperti tidak ada tempat saja untuknya.
"Ananya, si tuan putri kesayangan!" gumamnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dan tidur.
-
-
-
Pagi-pagi sekali Veer dan Kavya keluar dari hotel tempat mereka menginap. Veer sudah membeli sebuah apartemen sederhana untuk ia dan Kavya tinggali bersama.
Setelah menata barang-barangnya, Veer dan Kavya bersiap pergi. Veer akan pergi melamar pekerjaan sedang Kavya tentu saja ke rumah sakit tempatnya bekerja.
"Jangan pulang sendiri, aku akan menjemputmu nanti." ucap Veer.
"Tentu saja harus kau jemput, aku tidak mau pulang sendiri." canda Kavya.
"Dasar manja, " ejek Veer.
Veer lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Kavya dan pergi ke tempat tujuannya.
Kavya masuk dan menemukan Tara yang sudah berdiri menyambutnya, tatapan Tara terlihat berbeda dari biasanya, seperti........kasihan?
"Tara, ada apa?" tanya Kavya.
"Pak Rohit memanggilmu ke ruangannya." ucap Tara.
"Pak Rohit? Ada apa memanggilku?"
Tara hanya menggeleng tanda tak tahu.
"Ya sudah, aku kesana dulu."
Kavya berlalu dari hadapan Tara dan menemui pemilik rumah sakit, Rohit Raichand.
tok tok tok
"Masuk, "
Kavya tersenyum sambil mengucap salam, lalu Rohit mempersilahkannya duduk.
"Ada apa anda memanggil saya, Pak?" tanya Kavya.
"Maaf, Kavya. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu, ambillah ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSHKIL PYAAR [Completed]
Romansa----- Sungguh aku tidak percaya, bagaimana aku bisa menikah dengan pria lain jika aku sendiri sudah punya seorang kekasih? Sepenuh hati dan jiwaku hanya untuknya, lalu kenapa hal konyol bernama 'perjodohan' harus datang menghampiriku lalu mengganggu...
![MUSHKIL PYAAR [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/204475576-64-k366282.jpg)